Paska Lebaran, Saham Bergerak di Sektor Transportasi?
Bursa Efek Jakarta/Ilustrasi: Istimewa

Paska Lebaran, Saham Bergerak di Sektor Transportasi?

Minggu, 2 Jul 2017 | 22:59 | Zulkarnain Harahap

WinNetNews.com - Perdagangan saham bakal dimulai lagi Senin (03/07/2017). Berbagai fenomena usai penutupan bursa saham hingga hari ini, Selasa (02/07/2017), melontarkan sejenis pertanyaan: akankah bursa saham bergerak positif khususnya yang terkait dengan saham transportasi?

"Yang kita harapkan naik seperti GIAA dan LRNA malah tidak naik. Seharusnya dengan adanya mudik, Harusnya keduanya bisa mendapatkan berkah. Kalau saya lihat pasar belum melihat kondisi itu," ungkap analis Binaartha Sekuritas, Reza Priyambada, Minggu (02/07/2017).

Reza menyatakan, bahwa lebaran seharusnya membawa berkah bagi perusahaan-perusahaan transportasi. Sebab maraknya masyarakat perkotaan yang melakukan mudik. Tapi tidak dengan pergerakan saham transportasi. Hal itu, terilhat dari pergerakan saham sejumlah emiten transportasi yang tak banyak bergerak jelang libur lebaran.

Mengintip data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), saham PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA), pada perdagang terakhir sebelum libur Lebaran saham ini hanya menguat 4 poin atau 1,16% ke Rp 348 per saham. GIAA juga cenderung melemah jika melihat pada posisi di awal Juni 2017 di level Rp 358.

Begitu pula dengan saham PT Eka Sari Lorena Transport Tbk (LRNA). Saham dari emiten yang bergerak di sektor transportasi darat ini diakhir perdagangan sebelum liburan justru melemah 6 poin atau 4,41% ke level Rp 130.

Lalu saham PT Transportasi Indonesia Tbk (WEHA) juga melemah cukup dalam 4,33% ke level Rp 199. Meskipun saham dari emiten pemilik moda transportasi White Horse ini cenderung menguat sepanjang bulan lalu.

Sementara saham di sektor transportasi yang menguat justru PT Blue Bird Tbk (BIRD). Saham BIRD sepanjang Juni 2016 tercatat menguat 14,79% dari posisi Rp 4.190 ke level Rp 4.810 per saham. Penguatan tertinggi terjadi pada 6 Juni 2017 sebesar 5,83% ke level Rp 4.540 per saham.

Menurut Reza pelaku pasar belum begitu percaya bahwa peningkatan penumpang akan berkolerasi dengan peningkatan kinerja GIAA dan LRNA. Sebab dengan meningkatnya penumpang berkolerasi dengan peningkatan biaya over head.

"Dengan naiknya tiket pasar belum melihat itu keuntungan, karena overhead-nya naik. Belum bayar supir atau pilotnya pasti lebih tinggi, itu juga akan memberikan tambahan biaya," katanya.

Apalagi kedua emiten tersebut masih mengalami kerugian. LRNA tercatat sepanjang 2016 mengalami kerugian sebesar Rp 28,49 miliar. Sementara GIAA hingga kuartal I 2017 juga masih mengalami kerugian Rp 1,3 triliun.

"Kinerja keuangan juga berpengaruh. Masuk bulan puasa kemarin pasar tidak melihat tambahan okupansi penumpang akan bisa mendorong kinerja," tutup Reza.

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...