PBB Soroti Pencabutan Dini Status COVID-19 Sejumlah Negara
Foto: Carribean Business Report

PBB Soroti Pencabutan Dini Status COVID-19 Sejumlah Negara

Sabtu, 11 Apr 2020 | 18:38 | Khalied Malvino

Winnetnews.com -  Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan sejumlah negara agar berhati-hati tentang pencabutan status penyebaran virus corona yang terkesan terburu-buru dan menyuarakan tanda bahaya yang mulai terjadi di Afrika.

Dikutip Liputan6.com dari laman Channel News Asia, Sabtu (11/4), PBB melihat adanya pelonggaran dan menyatakan bahwa pencabutan status darurat COVID-19 secara dini sangat berbahaya.

Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan, telah terjadi transmisi pernyebaran virus corona di 16 negara Afrika.

"Hampir 1,5 juta kasus COVID-19 yang dikonfirmasi dan lebih dari 92.000 meninggal dunia akibat virus ini," ujar Tedros.

Yaman melaporkan kasus pertama COVID-19 Jum'at (10/4). Berbagai kelompok bantuan pun bersiap untuk menghadapi wabah di negara tersebut, di mana perang telah menghancurkan sistem kesehatan dan menyebarkan kelaparan dan penyebaran penyakit.

Tedros mengatakan dia sangat prihatin dengan banyaknya infeksi yang dilaporkan di kalangan petugas kesehatan.

"Di beberapa negara melaporkan hingga 10 persen pekerja kesehatan terinfeksi, ini adalah tren yang mengkhawatirkan," katanya.

Satuan dari PBB akan mengoordinasikan dan meningkatkan pengadaan dan distribusi alat pelindung, diagnostik laboratorium, dan oksigen ke beberapa negara yang paling membutuhkan.

"Setiap bulan kita perlu mengirimkan setidaknya 100 juta masker dan sarung tangan medis, 25 juta respirator N-95, pakaian dan pelindung wajah, hingga 2,5 juta tes diagnostik dan sejumlah konsentrator oksigen, hingga peralatan lain untuk perawatan klinis," kata Tedros.

Badan Pangan Dunia -- badan PBB yang menangani logistik -- akan mengerahkan delapan 747 pesawat, 8 pesawat kargo berukuran sedang dan beberapa pesawat penumpang yang lebih kecil untuk mengangkut barang dan pekerja.

Tedros meminta para donor untuk berkontribusi pada operasi WFP yang diperkirakan menelan biaya US$ 280 juta, sementara biaya pengadaan pasokan akan "jauh lebih besar".

Michael Ryan, Direktur Eksekutif Program Kedaruratan Kesehatan WHO mengatakan, dunia berutang sangat besar kepada petugas kesehatan dan penting bagi mereka untuk mendapatkan alat pelindung yang tepat.

Tedros mengatakan tidak ada negara yang kebal dari pandemi, yang menyebarkan kepanikan di seluruh dunia. Kasus baru-baru ini ditemukan di beberapa bagian Jepang tanpa kaitan dengan wabah lainnya.

"Dari pandemi ini kita harus mencoba belajar ... apa artinya kesenjangannya, ini adalah pesan bahkan untuk negara-negara maju. Di seluruh dunia. Anda melihat kurangnya kesiapan sistem kesehatan masyarakat," kata Tedros.

"Tidak ada negara yang kebal. Tidak ada negara yang dapat mengklaim memiliki sistem kesehatan yang kuat. Kita harus benar-benar jujur ​​dan menilai dan mengatasi masalah ini."

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...