Pedagang Kecil Buka Suara Tentang Setahun Kinerja Jokowi-JK

Pedagang Kecil Buka Suara Tentang Setahun Kinerja Jokowi-JK

WinNetNews.com - Selama setahun pemerintahan Jokowi-JK banyak pihak menilai bahwa kinerja mereka masih belum memuaskan dan justru mengecewakan. Ini tergambar dari harga-harga bahan pangan yang melunjak, angka kemiskinan semakin meningkat, pengangguran yang semakin bertambah dan lain sebagainya. Pedagang kecil pun turut merasakan imbas dari ketidak berhasilan pemerintah Jokowi-JK dalam menangani kemiskinan pada masa kinerja setahun mereka.

Dilansir dari harian kompas, Rabu (21/10/15) sejumlah pedagang di Jakarta memeinta pemerintah menstabilkan harga kebutuhan pokok yang dinilai masih relatif tinggi, sehingga mempengaruhi daya beli masyarakat.

Baca juga artikel: Setahun Kinerja Jokowi-JK: Saatnya Pemerintah Mengimplementasikan Paket Kebijakan

Saat ini harga beras premium di atas Rp. 11.000 per kg dan harga beras medium di atas Rp. 10.000 per kg. Seharusnya, pemerintah mampu mengendalikan harga beras agar tidak menyusahkan masyarakat kecil, sebab beras adalah makanan pokok bagi masyarakat Indonesia pada umumnya. Bayangkan saja jika harga beras sedemikian tinggi, sudah pasti tingkat kesejahteraan masyarakat akan semakin berkurang.

 

Selain itu, kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok diikuti dengan penurunan daya beli masyarakat. Kondisi tersebut pun akhirnya membuat omzet dan keuntungan pedagang menurun dalam beberapa bulan terakhir.

Salah satu pedagang sayur di Pasar Kebayoran Lama, Jakarta Selatan Hertanto (30) menilai kinerja pemerintah Jokowi-JK dalam satu tahun terakhir belum maksimal. Namun, ia masih optimis pemertintah saat ini dapat segera memperbaiki kondisi ekonomi dalam beberapa tahun ke depan. "Memang belum banyak perubahan selama satu tahun ini. Harga-harga masih tinggi. Namun Pak Jokowi, kan baru satu tahun memimpin. Masih ada 4 tahun lagi untuk menunjukan terobosan", ungkap Hertanto.

Baca juga artikel: Masyarakat Tidak Puas Dengan Jokowi Khususnya di Bidang Ekonomi

Pedagang lain yang juga bersuara adalah Irwan,menurutnya pemerintah dapat membantu pedagang dengan menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM). Sebab harga BBM diyakini sangat mempengaruhi biaya produksi dan distribusi barang. "BBM itu dampaknya luas. Kalau harga BBM turun, saya yakin biaya yang lain ikut turun" jungkap Irwan.

Survei Litbang Kompas, terkait masalah BBM, responden menilai, kondisi saat ini lebih buruk dibandingkan dengan masa pemerintahan sebelumnya sebesar 37,4 persen, sama buruk 20,7 persen, sama baik 32,2 persen, lebih baik 8,6 persen, dan tidak tahu/jawab sebesar 1,1 persen.

Di bidang perdagangan, termasuk perdagangan dalam negeri, responden menilai kondisi saat ini lebih buruk dibandingkan dengan masa pemerintahan sebelumnya sebesar 30,6 persen, sama buruk 21,7 persen, sama baik 36,7 persen, lebih baik 8,6 persen, dan tidak tahu/ jawab 2,4 persen.