(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Pelajar Se Jawa Wisata Toleransi Ke Katedral dan Masjid

Muhammad Takdir
Muhammad Takdir

Pelajar Se Jawa Wisata Toleransi Ke Katedral dan Masjid
WinNetNews.com - Direktur Eksekutif Maarif Institut Fajar Riza Ul Haq mengatakan bahwa bangsa Indonesia dalam beberapa tahun terakhir sudah berhasil menunjukkan kualitas hubungan antar umat beragama yang membanggakan. Hal ini khususnya terkait kondusivitas perayaan hari besar keagamaan.

Harmonisnya hubungan antar umat beragama di Indonesia, kata Fajar, menunjukkan wajah Indonesia yang menyejukkan, meskipun masih ada riak-riak dari realitas perbedaan. Polemik hukum mengucapkan selamat Natal tidak perlu dipertajam selama masing-masing umat beragama saling menghargai. Kedewasaan dalam bergaul itu mutlak jika bangsa ini berkomitmen pada prinsip kebinekaan yang otentik.

"Masing-masing umat beragama tidak usah terpancing oleh beragam broadcast bernada memecah belah jelang Natal. Kita harus terus mengedepankan nilai-nilai moralitas publik dan praktek kesalehan sosial dalam berinteraksi tanpa terjatuh pada fanatisme agama yang membutakan. Kita perlu bercermin pada tauladan para tokoh bangsa terdahulu, yang tetap menjaga persahabatan meskipun berbeda prinsip dan pilihan politik", kata Fajar dalam keterangan tertulisnya, Rabu (23/12/2015).

 

Dalam konteks komitmen ini, MAARIF Institute memfasilitasi ruang dialog para peserta Jambore Pelajar Se-Jawa dengan pihak Gereja Katedral dan pengelola Masjid Istiqlal. Mereka berkunjung dan berdialog dengan perwakilan Gereja Katedral dan Masjid Istiqlal Rabu pagi tadi.

Menurut Ketua Pelaksana Jambore Abdullah Daraz, ada 101 pelajar SMA dan Madrasah Aliyah dari 30 kota se-Jawa yang mengikuti jambore yang dibuka Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama pada Senin 21 Desember.

"Tujuan kegiatan tahunan Jambore ini adalah membangun kesadaran sekaligus melatihkan kecakapan sosial kepada pelajar agar mereka punya kapasitas menjaga kebhinnekaan. Kunjungan para pelajar ke dua tempat ibadah yang merupakan simbol umat Katolik dan Islam merupakan salah satu kegiatan jambore. Perjumpaan pelajar dengan pengelola Katedral dan Istiqlal menunjukkan pentingnya sikap keterbukaan dan mau belajar dalam meniti jembatan dialog," ujar Daraz.

Dialog para peserta Jambore Pelajar Se-Jawa 2015 yang kebetulan mayoritas Muslim dengan pengelola Katedral menjelang Natal akan mengirimkan pesan kepada publik bahwa pengalaman bertemu langsung dengan orang berbeda agama sangat penting.

"Proses ini akan mampu meruntuhkan tembok prasangka bahkan kebencian. Kunjungan dan dialog pelajar dengan seorang romo dan imam masjid akan semakin memberikan pengalaman berharga, sangat berguna dalam merawat kebhinnekaan bangsa yang terus dibayangi intoleransi dan disintegrasi sosial," pungkas Fajar.

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});