Pelantikan FPI Batal Usai Negosiasi Berjam-jam

Oky
Oky

Pelantikan FPI Batal Usai Negosiasi Berjam-jam Sumber : Istimewa

Winnetnews.com - Ratusan personel dari TNI dan Polri, Sabtu (14/7) melakukan pengamanan di terminal Bandara Internasional Juwata Tarakan mengawal aksi spontanitas yang dilakukan beberapa organisasi masyarakat yang menolak kedatangan pengurus From Pembela Islam (FPI) pusat ke Tarakan.

Informasi yang beredar pengurus FPI pusat akan menghadiri Musyawarah Daerah (Musda) dengan agenda pembentukan FPI di Kaltara yang akan dilaksanakan, Minggu (15/7) di salah satu hotel di Tarakan. Namun rencana itu memicu gelombang massa, hingga terminal Bandara Juwata Tarakan dipadati massa yang ingin penolakan kehadiran FPI di Kaltara.

Wakapolres Tarakan Kompol Riski Fara Sandhy mengatakan, setelah dilakukan negosiasi dengan pengurus FPI pusat oleh Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), akhirnya pengurus FPI pusat memahami bahwa kondisi saat ini tidak aman dan memutuskan kembali ke Jakarta.

“Kami berikan penjelasan bahwa untuk saat ini tidak memungkinkan buat mereka melaksanakan kegiatan di Tarakan, penjelasan yang kami berikan juga menyangkut keamanan dan keselamatan mereka, terlebih dalam waktu dekat kita akan menggelar Rakernas Apeksi. Akhirnya mendengar penjelasan tersebut mereka memahami,” ujarnya.

Riski mengungkap sebelumnya rencana aksi penolakan akan dilaksanakan di Polres Tarakan, namun ketika dirinya melaksanakan apel di Polres Tarakan, tiba-tiba mendapatkan informasi dari Avsec Bandara Juwata Tarakan bahwa ada aksi penolakan FPI di terminal Bandara Juwata Tarakan.

“Rencananya tadi massa akan ke Polres Tarakan, setelah itu bergeser ke salah satu hotel yang rencananya menjadi tempat pelaksanaan musda. Tapi ternyata ada perubahan, pelaksanaan aksi dilakukan di terminal Bandara Juwata, jadi kami geser personel,” ungkapnya.

Sekitar ratusan personel TNI dan Polri melakukan pengamanan di terminal yang terdiri dari 200 personel dari Polres Tarakan, satu satuan setingkat kompi (SSK) dari Brimob Polda Kaltara dan 1 pleton dari TNI.

“Kehadiran kami di sini untuk memastikan keamanan dan keselamatan, alhamdulillah dalam aksi kali ini massa cukup kooperatif tidak melakukan tindakan anarkis, hal yang kami antisipasi adalah pertemuan antara kedua pihak ini yang dapat menimbulkan kerawanan, tapi untungnya tidak terjadi,” terang Riski merinci.

Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Kaltara Brigjen Pol Indrajit mengungkap gelombang penolakan itu datang dari berbagai lapisan masyarakat.

“Banyak yang menolak adanya pelantikan FPI di Kaltara, bukan dari golongan tertentu. Tetapi dari masyarakat luas. Kami aparat keamanan, tidak memihak pada siapa pun. Kami hanya berpihak pada kenyamanan dan keamanan warga,” terang Indrajit yang turut didampingi Wakil Kepala Kepolisian Daerah (Wakapolda) Kaltara Kombes Pol Zainal Arifin Paliwang.

Selanjutnya jajaran Polda melakukan negosiasi dengan para pengurus FPI berjam-jam. Polda meminta agar FPI sama-sama memahami kondusifitas yang harus dijaga di Kaltara.

“Kami bernegosiasi. Sehingga kami meminta kepada FPI untuk membatalkan pelantikan tersebut. Kami menilai, ketika itu dipaksakan justru akan menimbulkan masalah baru, yang berujung pada ketidaknyamanan warga,” sebutnya.

Anggota Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kaltara Norhayati Andris mengungkap jika aksi unjuk rasa penolakan FPI merupakan bukti kecintaan terhadap tanah air.

“Kami tidak menolak siapa-siapa, karena ini NKRI. Dan kami juga melihat dari kegiatan saudara-saudara kita seperti FPI itu sangat bagus sekali. Akan tetapi, sangat disayangkan terkadang ada beberapa oknum yang menggunakan atribut FPI dengan kekuatan yang ada untuk menakut-nakuti,” nilai Norhayati.

Menurut Norhayati, Kaltara yang baru terbentuk berdasarkan otonomi daerah saat ini, sudah dalam kondisi damai dan tenang.

“Di Kaltara ini sudah sangat bagus persaudaraan kita, baik itu antar suku, sudah baik sekali. Kita sangat menghargai siapa pun dan organisasi mana pun itu. Dan apa yang terjadi hari ini adalah aspirasi dari masyarakat untuk menjaga wilayahnya dari keributan,” ujarnya.

Yang dikhawatirkan Norhayati, Kaltara yang masih seumur jagung pecah karena bibit-bibit pemecah belah di tengah masyarakat.

“Kedengarannya akan di bentuk FPI. Kalau bagi kami silakan saja itu sah-sah saja. Akan tetapi bagi masyarakat Kaltara khusus Tarakan inilah bentuk dari aspirasi mereka tidak menginginkan organisasi ini ada di sini,” tegasnya.

“Sampai saat ini soal pembentukan FPI belum sampai di DPRD Kaltara saat ini. Dan juga belum ada pembahasan sama sekali. Hanya koordinasi saja, baik itu dengan FKUB maupun dengan Kesbangpol,” jelasnya.

Adapun pembahasan lanjutannya mewajibkan setiap organisasi yang akan masuk ke Kaltara maupun Tarakan mematuhi kriteria tertentu.

Sementara itu, Komandan LPADKT Tarakan Markus meminta para pihak yang ingin FPI dibentuk di Tarakan agar dipertimbangkan kembali.

“Setahu kami, rekam jejak FPI ini di beberapa wilayah sudah membawa keresahan. Hingga keberadaannya juga membuat warga Tarakan takut. Sehingga pertimbangan inilah yang membuat kami untuk menghalangi ormas ini untuk hadir di Tarakan,” ujarnya.

Beberapa jam menunggu, akhirnya kabar yang dinanti-nanti pun datang juga. Aksi demonstran akhirnya berakhir dengan aman dan kondusif.

“Syukurnya kami mendapatkan kabar jika Wakil Ketua Umum FPI itu sudah kembali. Karena kalau tidak, kami akan tidur di bandara sampai malam, sampai kepulangannya itu,” pungkasnya.

Apa Reaksi Kamu?