Pelemahan Rupiah Menggoyangkan Keuangan Garuda

Pelemahan Rupiah Menggoyangkan Keuangan Garuda

 Jakarta - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), menjadi salah satu dampak Industri maskapai penerbangan Perkasanya dolar AS hampir mencapai level Rp15.000, merupakan tantangan berat yang harus dihadapi dalam upaya mengembangkan industri tersebut.

Salah satu biaya besar yang harus dikeluarkan maskapai penerbangan untuk menjalankan bisnisnya adalah biaya operasional. Di Garuda, sekitar 70 persen biaya itu menggunakan dolar AS, Ungkap Direktur Utama PT Garuda Indonesia, M. Arif Wibowo

Pelemahan rupiah terhadap dolar AS saat ini jelas sangat membebani keuangan perusahaan plat merah tersebut.

"Yang jelas operational cost (ongkos operasional) kami naik karena hampir 70 persen kami pakai dolar AS," ucap Arif usai acara pembukaan Garuda Indonesia Travel Fair 2015 di Jakarta, Jumat, 25 September 2015.

Meski demikian, Arif mengatakan pertumbuhan bisnis perusahaan masih dalam kondisi baik saat ini. Bahkan, Garuda akan terus menambah sumbangan devisanya dengan meningkatkan jumlah wisatawan yang bepergian menggunakan maskapai ini.

Dia memaparkan, pada semester I 2015 pertumbuhan pendapatan melalui pembelian tiket untuk domestik meningkat sekitar 12,4 persen. Sementara ‎pertumbuhan pendapatan untuk penerbangan internasional tercatat sekitar 11,3 persen.

"Kami rasakan tetap ada pertumbuhan, tapi trafiknya di rata-rata harganya memang sedikit menurun. Jadi total pertumbuhan pendapatannya sekitar 5,6 persen. Tetap tumbuh tapi masih di bawah pertumbuhan trafik," ucapnya.