Peluncuran Buku “EFFORTLESSLY GLAMOROUS” by Belinda Rosalina
sumber foto : april/winnetnews

Peluncuran Buku “EFFORTLESSLY GLAMOROUS” by Belinda Rosalina

Selasa, 24 Apr 2018 | 18:54 | Oky

Winnetnews.com - WHAT
Event: 
Peluncuran Buku Interior Desain Effortlessly Glamorous dalam rangka ulang tahun Belinda

WHERE
Venue: Rama Sky, Cosmo Amaroossa Hotel, Jl. Pangeran Antasari No.9AB, Jakarta Selatan
Date: 23 April 2018 at 16.00-18.00

WHY
Dalam ulang tahunnya ke 40 tahun ini, Belinda ingin meluncurkan buku interior dari karya-karyanya selama ini yang dianggapnya sebagai karya-karya masterpiece nya. Sekaligus buku ini sebagai pembuktian dirinya sebagai wanita yang menguasai multidisiplin, karena sebelumnya Belinda pernah menerbitkan buku Hukum yaitu “Hak Cipta Karya Arsitektur”. Menjadi desainer interior merupakan passion dari Belinda yang selama ini dikenal sebagai pengacara. Maka dengan dibukukannya karya-karyanya tersebut, merupakan statement dirinya sebagai desainer interior selain lawyer, pelukis, dan hotelier.

HOW
Event ini akan dilaksanakan di RamaSky hotel Cosmo Amaroossa, disempurnakan dengan adanya fashion show karya Ferry Sunarto. Benang merahnya antara fashion show dan launching buku ini adalah penjelasan bahwa selama ini karya-karya Belinda diilhami dari karya-karya fashion. 
Tamu-tamunya adalah sahabat-sahabat Belinda dari berbagai bidang yang berbeda.

ABOUT BELINDA

Het Carrier

Belinda Rosalina memiliki beberapa macam profesi, tidak hanya sebagai pengacara, hotelier, pelukis tapi juga Desainer Interior. Menjadi Desainer interior sebenarnya merupakan passion Belinda sedari kecil.

Hobi menata ruang disadarinya dari sejak jaman SMP, mengubah-ubah dekorasi kamar, membuat kursi dan menjahit bantal-bantal sudah dilakukannya sejak masa itu.

Pada saat SMA pun juga diisinya dengan membuat lampu dari lembaran aluminium, dan menjualnya ke teman-teman dekatnya. Selain hobi mendesain interior, Belinda juga hobi melukis yang digelutinya sejak SMA.

Belinda mengadakan beberapa kali pameran tunggal untuk lukisan-lukisannya, dibuka oleh Bpk.Wardiman selaku Menteri Pendidikan pada saat itu, juga oleh Bpk.BJ Habibie selaku Menristek dengan BPPT sebagai sponsornya.

Setelah menyelesaikan SMA nya (SMA Tarakanita), Belinda sebenarnya ingin melanjutkan pendidikannya ke jurusan desain interior, namun sang Ibu (Amalia Roosseno) tidak menyetujuinya. Beliau menyarankan agar putri satu-satunya itu meneruskan legacy nya sebagai seorang lawyer, sehingga Belinda akhirnya terpaksa membatalkan beasiswanya dari Sourborne University di Paris untuk bidang Art maupun alternative berikutnya yakni jurusan desain interior di Universitas Trisakti.

Belinda akhirnya mengenyam pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Indonesia tahun 1996. Kuliah hukum yang menurutnya membosankan justru membuatnya ingin cepat lulus, sehingga Belinda lulus dalam waktu 3,5tahun dan menjadi wisudawati terbaik pada Februari tahun 2000.

Setelah itu Belinda melanjutkan pendidikannya di University of Melbourne mengambil jurusan Master of Law.

Sekembalinya dari Australia, setelah bekerja beberapa tahun, Belinda merasa S2 saja tidak cukup apabila dia nantinya harus memimpin lawfirm keluarga ini.

Maka dia meneruskan pendidikannya yakni mengambil S3 di Fakultas Hukum Universitas Indonesia pada tahun 2005 dan lulus pada tahun 2010 sehingga gelar Doktor Ilmu hukum diraihnya dengan judul “Hak Cipta atas Karya Arsitektur: Penentuan Similaritas Substansial pada Karya Arsitektur”.

Setelah itupun Belinda mengantongin ijin Advokat dan menjadi pengacara di lawfirm AMR. Berbagai kasus litigasi kekayaan intelektual maupun menjadi saksi ahli baik di kepolisian maupun di pengadilan dalam beberapa perkara kekayaan intelektual (merek, paten, hak cipta, dll) juga sering dijalaninya.

Seiring dengan karirnya sebagai pengacara, hobi melukis dan mendesain interior tetap tidak ditinggalkan.

Beberapa proyek desain interior baik dari teman, keluarga ataupun beberapa perusahaan dilakukannya juga. Misalnya mendesain salah satu butik di Plaza Indonesia, kantor Finance dibilangan Pangeran Jayakarta, Fatmawati dan Bandung. Termasuk mendesain beberapa hotel di Bandung dan Bali.

Passionnya sebagai Desainer Interior juga teruji pada saat mengerjakan interior hotel-hotel Amaroossa. Dimulai dari pencarian nama hotel, pembuatan logo dan cara penulisannya, yang juga merupakan hasil buah karya dari Belinda.

Konsep desain tampak bangunan, landscape, hingga interior, termasuk pengerjaan furniturenya, menjadi tanggung jawabnya. Sehingga berdirilah ke 6 hotel Amaroossa tersebut.

Her Style And Inspiration

image0

Kalau dilihat dari karya-karyanya, style Belinda walaupun berbeda-beda tapi tetap memiliki satu benang merah, yakni adanya sentuhan Glamour dan drama.

Perpaduan warna emas, hitam, dan marun ataupun ungu, sangat terasa mengangkat drama dalam setiap desainnya.

Pada awal Belinda mendesain Amaroossa Bandung, inspirasi besarnya adalah dari pertunjukkan “Phantom of the Opera”. Sehingga warna-warna glamour dari sebuah theatre besar termasuk juga scene-scene dari pertunjukkan tersebut sangat terasa dalam desain hotel di Bandung tersebut.

Untuk kamar-kamarnya sendiri moodnya juga berbeda-beda. Karena profesinya sebagai lawyer merek, maka tidaklah heran kalo merek-merek terkenal memiliki pengaruh yang cukup kuat dalam karyanya. Khususnya dari produk-produk fashion. Misalnya salah satu kamar di Hotel Amaroossa Bandung, yang diinspirasikan dari lingerie Victoria Secret, sehingga desainnya mengkolaborasikan motif leopard, warna-warna fuchia dan penggunaan fabric bertekstur bulu untuk memberikan kesan sensual dari desain kamar tersebut. 

Kamar lainnya juga berbeda-beda inspirasinya. Ada dari merek Etro yang mengangkat motif ethnic dengan keberaniannya tabrak motif baik tribal art maupun motif parsley dan warna-warnanya yang cukup earthy. Termasuk juga fashion desainer yang paling berhasil mengambil hatinya adalah karya-karya dari Roberto Cavalli, yang pada saat itu sering mengangkat tema animal dipadu padankan dengan warna-warni yang bright. Desainer-desainer fashion itulah yang menjadi inspirasi Belinda dalam mendesain hotel-hotelnya. 

Little Amaroossa di Cipete pun diinspirasikan dari hotel-hotel kecil di Paris, dan desain kamar-kamarnya didapatkan idenya dari baju-baju karya Diane von Furstenberg, sehingga motif polkadot dan warna-warna cerah ala Diane mempercantik hotel itu.

Salah satu desain yang paling dia banggakan adalah desain interior rumah pribadinya. Inspirasinya lagi-lagi dari fashion designer Coco Chanel dan Carolina Herrera. Sehingga terasa nuansa classy elegant dikombinasikan dengan sentuhan tradisional agar suatu desain itu lebih eternal.

Untuk desain resort Begreno Home milik pribadinya, style desainnya juga tetap mengusung inspirasi dari brand Etro, Roberto Cavalli, dengan konsep bangunan yang diilhami dari suasana pedesaan di Santorini dan Bali.

Kembali pada style nya Belinda yang Glamour dan Drama, dapat dikatakan secara lugas bahwa style desainnya adalah Diary Glam.

Kata “diary” karena setiap desainnya seolah bercerita mengenai kehidupannya yang seperti drama, dan “glamour” yang membuat penikmatnya merasakan kemewahan dari suatu desain. Karena menurut Belinda, menjadi desainer interior itu seperti menjadi psikolog. Dia harus dapat membuat orang yang berada didalam karyanya merasa nyaman, betah, hommy, kreatif, atau seksi, bahkan merasa excited untuk bercerita tentang pengalamannya akan desain tersebut. 

Her Book

Buku Interior ini adalah buku kedua Belinda. Buku pertamanya adalah buku hukum dengan judul Hak Cipta karya Arsitektur yang diangkat dari desertasinya, dan pada ulang tahunnya ke 40 ini, Belinda mau membukukan karya-karyanya selama ini sebagai seorang desainer interior dengan style “Diary Glam” nya. 

Dalam launching buku ini pun Belinda berkolaborasi dengan desainer fashion Ferry Sunarto, sebagai suatu penghormatan dirinya atas karya-karya fashion yang selama ini memberikan pengaruh yang sangat hebat dalam desain-desainnya.

Karya-karya fashion itu menurutnya bukan hanya sekedar memenuhi kebutuhan primer manusia, tapi sekarang sudah menjadi karya-karya seni bernilai tinggi.

Maka pada launching buku ini, Ferry Sunarto akan menampilkan desain-desain kebayanya yang haute couture sehingga sejalan dengan style “Diary Glam” dalam karya-karya Belinda.

Buku ini adalah salah satu statement Belinda sebagai seorang Multidisiplin. Seseorang yang menggeluti beberapa profesi sekaligus dan menjadi master di profesi-profesi tersebut juga.

Harapannya agar semua orang mau mengeksplore seluruh kemampuan yang ada pada diri orang tersebut dan memaksimalkannya.

Contohlah Leonardo Davinci yang terkenal selain sebagai seorang seniman juga sebagai inventor di bidang science. Begitu juga Einstein yang selain sebagai seorang scientist juga musician. Intinya, Belinda yang merasa dirinya sebagai seorang Kartini jaman now, mencoba menginspirasikan bahwa sebagai seorang wanita, tiga hal utama yang sangat penting untuk dimaksimalkan yakni brain (otak kanan dan otak kiri yang dieksplorasi secara simultan), beauty and behavior. 

Hasil dari penjualan buku ini juga sebagian akan disumbangkan melalui Yayasan Tunas Cendikia, suatu yayasan yang memfokuskan pada pembangunan sekolah-sekolah di daerah-daerah terpencil.

Kepedulian Belinda akan pendidikan membuatnya memilih yayasan tersebut untuk menyalurkan amalnya. Walaupun sumbangan ini tidak berarti banyak, namun merupakan mimpinya agar semua anak di Indonesia dapat mengenyam pendidikan yang layak. Sehingga kedepannya SDM-SDM Indonesia menjadi berkualitas dan mumpuni.

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...