Pemerintah: “Harus Lebih Peka Terhadap Masalah Sampah Plastik”
Sampah plastik merusak ekosistem laut (Foto: Nature.com)

Pemerintah: “Harus Lebih Peka Terhadap Masalah Sampah Plastik”

Jumat, 13 Des 2019 | 14:50 | Rosa Permatasari

Winnetnews.com - Masalah sampah plastik di Indonesia lagi-lagi menjadi sorotan bagi pemerintah. Melihat perkembangan masalah sampah plastik yang kian hari semakin meresahkan, sepertinya pemerintah memang sudah harus mengambil sikap serta tindakan yang tepat untuk memperbaiki masalah tentang pengelolaan sampah plastik ini.

Berdasarkan data dari Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), total sampah di Indonesia tahun 2019 akan mencapai 68 juta ton dan sampah plastik diperkirakan akan mencapai 9,52 juta ton.

Selain itu, kurangnya kesadaran masyarakat dalam membuang sampah seringkali juga menyebabkan mereka membuang sampah sembarangan, seperti membuang sampah di selokan, kali, dan bahkan di lautan. Hal ini tentu saja mengakibatkan kebersihan lingkungan serta ekosistem laut menjadi rusak, misalnya seperti rusaknya terumbu karang.

Di samping itu, akibat banyaknya sampah plastik yang dibuang oleh warga yang tinggal di sekitar pantai, maupun banyaknya sampah plastik yang hanyut di lautan, tak jarang banyak dari hewan-hewan laut yg mati, seperti yang diberitakan bahwa ada seekor paus yang mati di pinggir pantai dengan seisi perutnya yang terdapat berbagai macam sampah plastik. 

Yang lebih menyedihkan lagi adalah di dalam rahimnya terdapat janin sepanjang 2,7 m yang sudah mulai terdekomposisi, yang berarti bahwa janin tersebut sudah tak bernyawa lagi sebelum si paus terdampar mati.

Di samping itu, Elan selaku administrasi dari Tzu Chi mengatakan bahwa dalam waktu 1 bulan Tzu Chi dapat mengumpulkan kurang lebih sebanyak 4 ton sampah plastic. Komunitas Tzu Chi sendiri adalah komunitas yang bergerak dalam bidang lingkungan, khususnya dalam bidang daur ulang sampah plastik. 

Erlan mengaku bahwa sampah plastic yang selama ini Tzu Chi kumpulkan ada beberapa diantaranya yang sulit untuk diuraikan (untuk menjadi bahan daur ulang) dan malah menyebabkan sampah plastik itu hanya menjadi timbunan sampah plastik saja. Oleh karena itu, Erlan berharap dengan adanya komunitas ini diharapkan agar masyarakat bisa sadar akan akibat dari sampah plastik. “Jika hendak mengubah dunia, ubahlah diri sendiri terlebih dahulu” -Tzu Chi.

Memang manusia tidak mungkin bisa menghapuskan penggunaan kantong plastik 100%, tetapi manusia bisa memakai ulang plastik (reuse), mengurangi pemakaian plastik (reduce), serta mendaur ulang plastik (recycle). 

Selain itu, saya percaya bahwa masyarakat Indonesia memiliki rasa kesadaran yang tinggi untuk terus bergerak dalam menanggulangi bahaya sampah plastik yang kini kian mengancam lingkungan kita. 

Oleh sebab itu, dalam kasus ini peran pemerintah untuk terus mengkampanyekan berbagai ajakan kepada masyarakat untuk diet kantong plastik sangatlah mempengaruhi masyarakat dalam penggunaan kantong plastik, serta pentingnya kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan juga merupakan salah 1 kunci utama untuk terus mewaspadai apa saja dampak negatif yang bisa ditimbulkan oleh sampah plastik, karena kalau bukan dimulai dari kita siapa lagi yang akan menjaga kebersihan lingkungan Indonesia ini.

***

 

Rosa Permatasari adalah mahasiswi London School of Public Relations Jakarta.

 

 

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...