Skip to main content

Pemkab Bangka Belitung Berniat Langkahi Singapura Terkait Jual-Beli Lada

Bupati Bangka Belitung, Ir. H. Tarmizi H Saat, MM/Dokumentasi Pemkab Bangka-Belitung
Bupati Bangka Belitung, Ir. H. Tarmizi H Saat, MM/Dokumentasi Pemkab Bangka-Belitung

WinNetNews.com – Berbagai upaya dan usaha terus dilakukan pemerintah, baik di tingkat Provinsi hingga Kabupaten untuk mendongkrak ekonomi masyarakatnya. Salah satunya yang dilakukan oleh Bupati Bangka Belitung, Ir. H. Tarmizi H Saat, MM. Terlebih lagi, beberapa harga komoditi seperti lada, karet, sawit yang harganya semakin merosot.

Untuk itu, selain meningkatkan perekonomian masyarakat sekaligus juga mengembalikan harga dan kejayaan Lada Bangka yang sudah sangat terkenal di dunia, rencananya pemerintah Kabupaten Bangka Belitung akan melobi dan membuat kerjasama kepada beberapa pembeli dari beberapa negara seperti Italia, Belanda dan Turki agar membeli lada langsung ke Bangka.

"Di Turki itu, harga lada kita bisa mencapai Rp. 800 ribu per kilonya, jadi nanti kita usahakan mereka membeli langsung ke Bangka, direct (langsung-red) ke kita, tidak lewat Singapura lagi," ungkap Bupati, seperti dikutip dari keterangan resmi, Minggu (18/06/2017).

image0

Tarmizi menambahkan, selain rencana meningkatkan kerjasama langsung terhadap pembeli lada, hal yang harus dilakukan para petani juga dengan mengubah pola tanam dari budidaya tanaman lada.

"Selama ini masih menggunakan gaya konvensional, kita ubah, yang lebih intensif, dan memakan biaya pemeliharaan yang sedikit," cetusnya.

Untuk itu dirinya berharap, agar para petani untuk terus menggalii informasi dengan dinas terkait serta dan mencari referensi mengenai budidaya tanaman lada.

"Selama ini kita pakai tajur kering, harganya lebih tinggi. Sekarang bisa dengan tajur hidup seperti kapuk, dan lainnya. Pupuknya juga, sehingga dapat menghasilkan lebih banyak dan lama. Kalau sekarang paling tiga kali panen sudah mati batangnya," paparnya.

Selain lada, Tarmizi juga berencana mendongkrak harga karet agar naik kembali.

"Yang penting jaga kualitas karetnya. Jangan pakai tawas, tapi asam semut atau asap gantung itu. Elastisitasnya lebih lama jika menggunakan asam semut daripada tawas. Kita juga jajaki kerjasama untuk karet ini, kemarin sudah ada yang datang," pungkasnya.

Apa pendapat Anda mengenai artikel ini?

Loading Rating...

Komentar:

Loading...
Top