Skip to main content

Penaikan Bunga Kredit Meresahkan

Penaikan Bunga Kredit Meresahkan
Penaikan Bunga Kredit Meresahkan

BANK Indonesia (BI) mencatat adanya penaikan suku bunga kredit pada Juni 2015. Di sisi lain, suku bu nga simpanan justru menurun. Hal tersebut memantik keresahan pelaku usaha. Dari data BI, per Juni 2015, suku bunga deposito berjangka satu, tiga, dan enam bulan masing-masing mencapai 7,76%, 8,27%, dan 8,73%. Itu turun jika dibandingkan dengan 7,85%, 8,50%, dan 8,90% dari Mei 2015. Dalam tempo sama, rata-rata suku bunga kredit naik dari 12,96% menjadi 12,97%.

Menurut Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Ade Sudrajat, suku bu nga kredit yang bertahan tinggi dalam situasi perekonomian lesu seperti sekarang membuat para industrialis resah. Apala gi, ada tanda-tanda kenaikan suku bunga kredit walaupun tipis. "Suku bunga kredit yang naik walaupun tidak terlalu besar tetap saja meresahkan pelaku usaha. Kita maunya turun," kata Ade kepada Media Indonesia saat dihubungi, kemarin. Ia mendesak pemerintah untuk segera merilis kebijakan konkret yang membantu mengurangi tekanan kondisi perekonomian kini kepada pengusaha.

"Seperti pertekstilan. Permintaan me nurun, suku bunga ditinggikan, bisa-bisa kami tambah hancur, bukan bangkit," keluh dia. Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia dan Realestat Indonesia (REI) juga berharap suku bunga kredit melonggar agar cicilan bagi nasabah kredit pemilikan rumah (KPR) lebih ringan. "Sekarang bagaimana mau menurunkan angsuran kalau suku bunganya tidak turun?" kata Sekjen APPI Efrizal Sinaga seperti dilansir Antara.

Sekjen REI Hari Raharta Sudrajat mengatakan hal senada. "Sekarang buat apa (suku bunga KPR) double digit kalau sedikit yang mengajukan KPR? Men di ngan single digit, tapi bisa meningkatkan permintaan KPR." Dalam kesempatan terpisah, Deputi Komisioner Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan Mulya E Siregar mengatakan kenaikan suku bunga kredit karena perbankan ingin menekan risiko. Risiko ialah salah satu faktor pembentuk suku bunga kredit, disam ping biaya yang dikeluarkan bank untuk dana nasabah (cost of fund), ekspektasi margin keuntungan, dan beban operasional.

"Logikanya kredit naik karena ada higher risk sejalan dengan ketidakpastian dalam situasi perekonomian," jelasnya saat dihubungi Media Indonesia, Jumat (7/8). Industri perbankan, menurut Mulya, dapat berkontribusi untuk mendorong ekonomi dengan cara lain. Mereka dapat meningkatkan efi siensinya, lebih selektif dalam menya lurkan pembiayaan, dan meningkatkan kemampuan mitigasi risiko. Direktur Utama BNI Achmad Baiquni mengatakan suku bunga kredit pihaknya sekarang justru menurun di beberapa segmen. Itu disebabkan laju kredit pun tengah melambat seiring dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Kepala Ekonom BRI Anggito Abimanyu juga mengatakan suku bunga kredit sejauh ini belum meningkat. "Permintaan kredit lambat dan kemampuan membayar kurang karena lemahnya permintaan dalam negeri dan akibat dari kondisi makroekonomi," tuturnya. Namun, ia mengakui saat ekonomi melambat dan daya beli masyarakat melemah, industri perbankan dapat menempuh sejumlah cara untuk mem bantu mendorong pertumbuhan ekonomi. Langkah itu antara lain mempermudah akses pembiayaan, merestrukturisasi pinjaman bermasalah, dan relaksasi.

Berlanjut Dari Survei Perbankan yang dirilis otoritas moneter pada Juli lalu, pelaku industri perbankan mengestimasi suku bunga kredit akan terus naik di triwulan III. Pada saat sama, suku bunga dana melandai. Rata-rata cost of fund akan turun 1 basis poin (bps) menjadi 6,92%. Sebaliknya, suku bunga kredit rupiah untuk modal kerja naik 5 bps menjadi 13,74%. Sementara itu, kredit investasi meningkat 9 bps menjadi 3,72% dan kredit konsumsi naik 3 bps 14,82%.

Apa pendapat Anda mengenai artikel ini?

Loading Rating...

Komentar:

Loading...
Top