Penanganan Dampak Pandemi COVID-19 Picu Demonstrasi di Ekuador
Aksi protes di Ekuador dipicu karena penanganan dampak pandemi virus corona oleh Presiden Lenin Moreno. (Foto: BBC.com)

Penanganan Dampak Pandemi COVID-19 Picu Demonstrasi di Ekuador

Selasa, 26 Mei 2020 | 15:55 | Khalied Malvino

Winnetnews.com - Ribuan demonstran turun ke jalan di sejumlah kota di Ekuador untuk melakukan protes sejumlah langkah ekonomi drastis yang diterapkan Presiden Ekuador, Lenin Moreno untuk mengatasi krisis pandemi virus corona.

Dilansir dari Detik.com, Selasa (26/5), pekan lalu Lorenzo mengumumkan pemotongan anggaran belanja publik termasuk penutupan beberapa perusahaan negara dan sejumlah kedutaan besar di seluruh dunia. 

Namun serikat pekerja mengatakan, para pekerja membayar harga yang tidak proporsional dibandingkan dengan para elite Ekuador.

"Protes ini karena pemerintah memecat pekerja agar yang kaya tidak membayar gaji," ujar Mecias Tatamuez, kepala serikat pekerja terbesar di Ekuador, Unitary Front of Workers (FUT) kepada para wartawan dalam sebuah aksi demo di kota Quito, seperti dilansir kantor berita AFP, Selasa (26/5).

Sekitar 2.000 orang berbaris Quito, ibu kota Ekuador pada Senin (25/5) waktu setempat, sembari mengibarkan bendera dan spanduk serta meneriakkan slogan-slogan anti-pemerintah.

Para demonstran mengenakan masker dan menghormati berbagai langkah social distancing yang direkomendasikan terhadap penyebaran virus corona, yang telah menyebabkan setidaknya 3.200 kematian di negara itu. 

Pihak berwenang bahkan mengatakan, lebih dari 2.000 kematian lainnya karena virus corona mungkin terjadi.

Demonstrasi ini juga terjadi di beberapa kota lain, termasuk Guayaquil, pusat krisis kesehatan Ekuador, di mana para pemimpin serikat mengatakan ratusan orang meramaikan aksi demo itu.

Sebelumnya, Moreno memerintahkan penutupan sejumlah kedutaan Ekuador, pengurangan staf diplomatik dan menutup tujuh perusahaan negara sebagai bagian dari langkah-langkah yang dirancang untuk menghemat sekitar US$ 4 miliar.

Moreno juga mengumumkan likuidasi maskapai TAME, yang telah kehilangan lebih dari US$ 400 juta selama lima tahun terakhir. Pemerintah Ekuador menyebut, pandemi virus corona sejauh ini telah merugikan ekonomi setidaknya US$ 8 miliar. 

Jam kerja sektor publik telah dipotong 25 persen, dengan potongan gaji 16 persen. Moreno mengatakan, sekitar 150.000 orang telah kehilangan pekerjaan karena pandemi virus corona.

Ekuador telah mengalami kesulitan ekonomi sebelum pandemi virus corona melanda, karena utang yang tinggi dan ketergantungannya pada minyak.

IMF memperkirakan bahwa ekonomi negara tersebut akan menyusut 6,3 persen tahun ini, penurunan paling tajam dari negara mana pun di Amerika Selatan.

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...