Peneliti LIPI : Ramal Masa Depan Go-Jek

Muchdi
Muchdi

Peneliti LIPI : Ramal Masa Depan Go-Jek

WinNetNews.com - Deputi Ilmu Pengetahuan Teknik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Laksana Tri Handoko, dalam acara bertajuk "Science and Technology Festival" di Bandung, Senin (5/10/2015). Dikemukakannya Masa depan Go-Jek mungkin akan suram. Layanan utamanya, ojek, mungkin takkan bertahan lama. Masa depannya juga akan bergantung pada pesaingnya, seperti Grab Bike, Blu-Jek, dan lainnya.

Deputi Ilmu Pengetahuan Teknik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Laksana Tri Handoko,mengatakan "Go-Jek, kalau mengandalkan user acquisition-nya, tidak mungkin sustain. Karena hal itu diperoleh dengan cara buang-buang uang,".

Menurut dia, dengan tarif promo yang kini Rp 15.000 di luar jam sibuk, Go-Jek mengeluarkan dana miliaran untuk mempertahankan pemakai. Itu tak sehat.

Handoko yang juga peneliti fisika teori dan pemerhati teknologi informasi mengatakan, usaha Go-Jek yang justru akan bertahan adalah Go-Food. Menurutnya, Go-Food menjadi model bisnis baru dalam antar jemput sekaligus pemasaran makanan. Jumlahnya yang sedikit dan kecepatan antar menjadi keunggulan.

"Dengan Go-Food, orang bisa masak di rumah untuk dijual. Tinggal daftarkan ke Go-Food. Semua orang, ibu-ibu bapak-bapak di rumah bisa jualan," kata Handoko.

Saat ini Go-Food telah menyediakan banyak jenis makanan. Bukan hanya yang dipasarkan di restoran mewah tetapi juga makanan yang biasa dijual di kedai kecil atau malah di pinggir jalan.

"Go-Food akan menjadi ancaman buat rumah makan yang high cost. Ancaman luar biasa. Orang tidak akan ke restoran kalau tidak ada tujuan kongkow-kongkow-nya," jelas Handoko.

Handoko menuturkan, sifat Go Food yang membuat mampu bertahan adalah dibutuhkan oleh dua pihak, konsumen dan produsen. "Kalau ojeknya kan hanya satu pihak," katanya.

Yang bisa menyelamatkan layanan ojek Go-Jek mungkin adalah Grab Bike. "Kalau Grab Bike mati cepat, Go-Jek akan survive," kata Handoko.

Tapi bagi konsumen, jangan berharap banyak. Kalau Go-Jek survive dan menjadi satu-satunya, jangan harap tarifnya Rp 15.000 lagi. Siap-siap "ngangkot" lagi atau menjadi boros kalau tiap kali "ngojek".

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});