Pengakuan AKBP Untung dan Ipda Tamat

Pengakuan AKBP Untung dan Ipda Tamat

Jumat, 22 Jan 2016 | 13:54 | Rusmanto
WinNetNews.com - AKBP Untung Sangadji dan Ipda Tamat menjadi penyelamat banyak warga di Thamrin, Jakarta. Dua anggota polisi ini melumpuhkan pelaku teror bom Thamrin, Afif dan Ali.

Untung kembali menceritakan soal kehadirannya di Thamrin saat itu. Dia mengaku hari itu, 14 Januari lalu sedang janjian dengan temannya untuk ngopi di kawasan Thamrin. Untung bersama Ipda Tamat.

"Kemudian pas di Kafe Walnut ada dentuman keras. Kita terus keluar," terang Untung, Jumat (22/1/2016).

Menurut dia, saat itu dia berlari keluar ke jalan. Dia melihat banyak anggota kepolisian memakai body vest atau pelindung tubuh.

"Saya bilang ke mereka yang di belakang, buat minjam itu body vest tapi nggak ada yang mau. Terus saya bilang kamu bareng saya saja nanti saya lindungi. Malah ada yang bilang dia takut mati. Mereka pada takut kena tembakan. Lalu akhirnya saya berani saja maju tanpa ada body vest itu. Saya siap dengan pistol saya," jelas Untung.

Untung bergerak ke arah lokasi pos polisi. Tidak lama terdengar suara tembakan, Untung dan Tamat melihat situasi mencari siapa pelakunya.

"Pistol saya akurasinya bagus. Tahun 1911. Saya bawa peluru waktu itu banyak. Saya sama Tamat waktu itu. Saya bilang ke dia buat cari itu yang bawa bom. Kemudian Tamat menghantamnya di kaki dengan peluru. Saya terus hantam dadanya. Mendapat tembakan dari Tamat, tamat dia," jelas Untung.

"Saya lihat ada bom yang lebih besar di punggungnya. Berat sekali dia jalan. Makanya lama. Saya curiga kalau meledak bakal besar. Dan kalau pun meledak dekat kami saja. Biar kami yang tewas untuk menyelamatkan banyak orang dan yang pada selfie. Kemudian saya akhirnya mengambil tindakan penyelesaian di tempat," ungkap dia lagi.

Cerita soal pistolnya, Untung mengaku senjata dia keluaran lama dan belum memiliki senjata baru.

"Yang baru hanya semangat aja kita. Semangat terus baru. Jangan bilang belum ada pengadaan baru. Tanya ke kita apa yang kita butuhkan untuk penindakan seperti ini. Kitakan nembak harus tepat, nggak boleh salah. Yang layak sekarang senjata Steyer genggam. Itu bagus. Steyer genggam itu bisa bersaing. Kapolri itu harus tahu apa yang kita butuhkan di lapangan," urai dia.

"Kita melindungi wartawan gimana kalau senjata-senjata kita tua? Kita harus kasih tuh wartawan-wartawan rompi. Latihan nembak di tempat saya. Boleh. Gratis saya latih," tutup dia.

disadur dari situs detik news

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...