Penggunaan Sosial Media Berlebih, Sebabkan Remaja Rentan Terkena Gangguan Kecemasan

Nurul Faradila
Nurul Faradila

Penggunaan Sosial Media Berlebih, Sebabkan Remaja Rentan Terkena Gangguan Kecemasan Foto remaja (sumber: unsplash)

Winnetnews.com - Rasa cemas dan gelisah merupakan salah satu emosi yang sebenarnya sangat wajar dirasakan. Namun, apabila kondisi tersebut bisa menganggu kegiatan sehari-hari, maka kondisi itu sudah termasuk tidak normal.

Anxiety atau juga dikenal dengan gangguan kecemesan ditandai dengan rasa khawatir dan takut berlebihan. Sehingga seseorang yang mengalami kondisi ini, menjadi sulit untuk berkonsentrasi, sulit tidur, hingga merasakan gejala fisik seperti mual atau badan gemetaran. Gangguan ini sebenarnya lebih banyak dialami oleh orang dewasa, karena kompleksitas masalah hidup yang dihadapinya. Namun, tidak dipungkiri angka penderita anxiety pada remaja terus meningkat.

Menurut data National Institute of Health, di Amerika Serikat, sekitar 20 persen remaja berusia 13 – 18 tahun mengalami gangguan kecemasan. Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan cukup begitu banyak remaja yang mengalami gangguan kecemasan. Selain karena faktor genetik, zat kimia di otak, kepribadian, dan kejadian besar dalam hidup, penggunaan media sosial juga bisa menjadi penyebab seorang remaja mengalami gangguan kecemasan.

Anak-anak dan remaja di era teknologi seperti saat ini, selalu terhubung dengan media sosial. Tidak mengherankan jika kepercayaan diri mereka sangat dipengaruhi oleh respon media sosial. Banyak dari remaja yang merasa sulit untuk tidak membandingkan kehidupannya dengan orang-orang yang mereka lihat di media sosial. Perasaan cemas, gelisah, dan panik yang timbul, bisa memicu masalah mental seperti depresi, penggunaan narkoba, hingga keinginan untuk mengakhiri hidupnya. Orang tua, guru ataupun teman-temannya yang sering melakukan interaksi dengan seorang remaja, perlu mewaspadai tanda-tanda kecemasan yang kerap kali terabaikan.

Beberapa tanda yang perlu diwaspadai dan diperhatikan apabila remaja tersebut mengalami gangguan kecemasan, antara lain mengeluh cemas dan takut untuk menjalani rutinitasnya sehari-hari, perubahan emosi yang cepat marah dan tersinggung, mengurung diri di kamar dan menghindari interaksi sosial, kesulitan untuk tidur, hingga hilangnya konsentrasi.

Jika terdapat remaja yang mengalami gejala-gejala tersebut, sebagai orang tua ataupun orang terdekat diharapkan bisa mengajak mereka untuk berbicara, dengan melihat dan menempatkan diri pada sudut pandang mereka. Selain itu, bijaksanalah dalam memberikan standar kesuksesan yang harus mereka capai. Langkah selanjutnya adalah dengan membatasi penggunaan media sosial mereka dan memantau apa saja yang mereka lakukan di media sosial. Dan terakhir, jika gangguan kecemasan berlangsung terus menerus, orang tua sebaiknya segera membawa anak-anak mereka ke psikolog untuk mendapatkan pertolongan.

 

Apa Reaksi Kamu?