Penghapusan Sebutan Kafir, Ini Tanggapan Perwakilan Tiga Agama
Munas Alim Ulama

Penghapusan Sebutan Kafir, Ini Tanggapan Perwakilan Tiga Agama

Senin, 4 Mar 2019 | 15:15 | Daniel
Winnetnews.com - Baru-baru ini Nahdlatul Ulama (NU) mengusulkan agar tidak lagi menggunakan sebutan ‘kafir’ kepada warga negara Indonesia yang bukan pemeluk agama Islam. Hal tersebut langsung menuai pro dan kontra. Ada yang mendukung, tapi tak sedikit pula yang mempertanyakan esensi dari hal tersebut.

Hal tersebut dibahas pada Sidang Komisi Bahtsul Masail Maudluiyyah, Musyawarah Nasional Alim Ulama NU yang digelar di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar, Bandung. Alasan utama usulan untuk tak digunakannya lagi sebutan kafir karena dapat menyakiti para non-muslim di Indonesia.

Lalu bagaimana kah tanggapan dari pemeluk agama lainnya terhadap usul untuk tidak lagi digunakan istilah kafir dalam penyebutan warga yang beragama selain muslim? Menurut pandangan Sekretaris Umum Persekutuan Gereja Indonesia (PGI), Gomar Gultom, hal itu jadi sangat penting dewasa ini.

“Kita hendak menggugat penggunaan kata kafir dalam kitab suci, kalau itu memang ada. Namun dalam masyarakat majemuk dan dalam perspektif kemanusaan sejati, patutlah kita mengembangkan pemahaman yang lebih menghargai satu sama lain,” ujar Gomar seperti dikutip dari Tempo.

Senada dengan Gomar, Sekretaris Bidang Hubungan Internasional Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Pusat, AA Ketut Diatmika, menilai itu merupakan langkah positif. Menurutnya penghapusan sebutan kafir bagi non-muslim akan jadi salah satu langkah semakin terbinanya persatuan dan kesatuan.

“Apa yang dilakukan oleh saudara kami dari NU adalah hal yang positif demi terbinanya ketertiban persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia, kami ikut mendukung,” jelas Ketut.

Berbeda dengan Gomar dan Ketut, Koordinator Publikasi Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi), Rusli Tan menyatakan bahwa mereka sejak awal tidak pernah mempermasalahkan soal penyebutan bagi kaum non-muslim.

“Umat Buddha seharusnya tidak mempermasalahkan panggilan orang atau apa kata orang. Karena tak semestinya menuntut orang lain untuk menghormati. Pesoalan orang lain menghormati kami atau tidak, itu karma kami sendiri,” jelas Rusli.

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...