Penjelasan Kapolda Terkait Kebakaran Rutan Bengkulu

Penjelasan Kapolda Terkait Kebakaran Rutan Bengkulu

Rabu, 30 Mar 2016 | 06:43 | Rusmanto
WinNetNews.com - Kepala Polisi Daerah (Polda) Bengkulu Brigjen M Ghufron menyebut tidak ada unsur kesengajaan dalam tewasnya lima narapidana dalam peristiwa kebakaran Rumah Tahanan (Rutan) Malabero, Kota Bengkulu.

Kelima korban itu tewas lantaran pintu tahanan tidak dibuka narapidana lain saat peristiwa kebakaran terjadi.

"Kelima orang ini tinggal di kamar nomor 7. Dari luar tidak ada yang buka sedangkan kamar yang lain dibuka oleh para narapidana," terang Ghufron, Selasa (29/3/2016) malam.

Ghufron mengatakam kamar dari korban tewas yang bernama Heru Biliantoro, Hendra Novianto, Agus Purwanto, Medi Satria dan Agung Nugraha ini ukurannya lebih kecil dibanding yang lainnya sehingga struktur bangunannya lebih kuat.

Jarak antara dinding belakang dengan teralis berukuran satu meter sehingga jarak tembok tidak terlalu lebar.

"Sehingga lebih kuat dibanding dengan dinding yang jaraknya 2 meter, dari dalam juga tidak kuat dibuka. Akhirnya kelima orang narapidana ini terbakar di ruangannya," tuturnya.

 

Mantan Karobinopsnal Baharkam Polri ini menjelaskan, kamar 1 sampai 7 merupakan kamar khusus narapidana narkoba dan hanya diisi beberapa terpidana lainnya seperti kasus penipuan dan penggelapan. Dia menegaskan tidak ada unsur kesengajaan dalam tewasnya kelima narapidana tersebut.

Kerusuhan ini bermula ketika petugas dari Badan Nasional Narkotika Provinsi (BNNP) melakukan pengembangan penyidikan dan menangkap narapidana berinisial A untuk dimintai keterangan pada Jumat (25/3) sekitar pukul 21.00 WIB A diambil dari kamarnya dan teman-teman satu selnya melakukan penolakan.

"Kamar tempat A diisi oleh 14 narapidana lainnya, ketika A diambil teman-temannya kaget. Kagetnya mereka bisa jadi dia tahu A akan ditangkap sehingga ada penolakan tapi tidak signifikan. Ketika dibawa keluar dari Rutan Malabero sekitar 5-10 menit, 14 teman sekamar A menjebol dinding kamar lalu keluar," jelas Ghufron.

"Ada yang berteriak-teriak segala macam termasuk melempar batu ke petugas lapas, bersamaan dengan itu ada yang membantu melepas kamar-kamar lain dengan cara mengambil tiang besi voli dicabut untuk membongkar dinding kamar," imbuhnya.

Dengan cara itu para narapidana yang berada di dalam kamar berhasil keluar. Kemudian situasi makin memanas dan ada narapidana yang memprovokasi untuk membakar Rutan.

 

"Bersamaan dengan itu ada yang teriak 'bakar-bakar'. Mereka kemudian membakar kasur, karena apinya besar menyambar atap, dinding, kayu-kayu dan menyebrang ke kamar lain," terang Ghufron.

Sementara itu menurut keterangan Kepala Badan Nasional Narkotika Provinsi (BNNP) Bengkulu Kombes Budiharso menyebut terpidana A merupakan jaringan lokal yang mengedarkan sabu. Pemeriksaan A berawal dari adanya pengiriman barang dari Muko-Muko sebelum akhirnya mengarah ke rutan.

Budi menduga komunikasi dua terpidana Rutan Bentiring dan Rutan Malabero sudah berjalan lama. Oleh karenanya BNNP segera menjemput keduanya dari rutan masing-masing. Menurutnya ketika membawa A dari rutan itulah terjadi kerusuhan.

"Begitu Aseng ikut kita keluar dari rutan (untuk) dibawa di situ terjadi keributan. Yang jelas di situ terjadi kerusuhan. Petugas tim kami di BNNP meminjam Aseng untuk dimintai keterangan. Asengnya selamat nggak kena apa-apa karena dipinjam," katanya.

disadur dari situs detik news

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...