Pentingnya Peran Saksi Dalam Melawan Pelecehan Seksual
Kereta yang penuh sesak membuat penumpang wanita berisiko mengalami pelecehan seksual. (Foto: Antara/Muhammad Adimaja)

Pentingnya Peran Saksi Dalam Melawan Pelecehan Seksual

Kamis, 28 Nov 2019 | 13:30 | Levia Louise

Winnetnews.com - Peliknya kehidupan di ibu kota dengan berbagai permasalahan yang terjadi salah  satunya adalah kasus pelecehan seksual. Kasus ini sudah seringkali terjadi dan sangat memperihatinkan. Banyak masyarakat yang hanya diam dan tidak membantu korban saat kejadian tersebut terjadi. Pelecehan seksual yang terjadi di masyarakat lebih banyak dihadapi oleh wanita.

Menurut jurnal dari komnas perempuan pada tahun 2019, Selama 12 tahun (2001- 2012), sedikitnya ada 35 perempuan menjadi korban kekerasan seksual setiap hari. Pada tahun 2012, setidaknya telah tercatat 4.336 kasus kekerasan seksual, dimana 2.920 kasus diantaranya terjadi di ranah publik/komunitas, dengan mayoritas bentuknya adalah perkosaan dan pencabulan (1620). Sedangkan pada tahun 2013, kasus kekerasan seksual bertambah menjadi 5.629 kasus. Ini artinya dalam 3 jam setidaknya ada 2 perempuan mengalami kekerasan seksual. Usia korban yang ditemukan antara 13-18 tahun dan 25-40 tahun.

Berdasarkan hasil penelitian oleh penulis, terdapat 32 koresponden di wilayah DKI Jakarta yang berkisar dari umur 18-28 yang melihat kasus pelecehan seksual banyak terjadi di angkutan umum seperti di transjakarta, kendaraan pribadi seperti motor, dan kereta. Kasus pelecehan seksual umumnya terjadi pada saat jam pergi kerja dan pulang kerja dikarenakan situasi yang sangat ramai dan padat di dalam angkutan umum, hal ini tentunya membuka kesempatan bagi pelaku untuk melakukan pelecehan seksual.

Tanggapan masyarakat yang melihat kasus pelecehan seksual, sebanyak 2% dari warga DKI Jakarta merasa terkejut dan memilih untuk diam di karenakan tidak semua masyarakat pernah melihat kejadian serupa, pelaku pintar untuk melihat situasi dan bisa mengancam saksi mata yang melihat saat dia melakukan pelecehan seksual.

Salah satu dari responden merupakan pengguna angkutan umum melihat sendiri kejadian pelecehan  seksual di dalam angkutan umum yang sangat ramai dan sesak. Di dalam bus Transjakarta nomor 1 rute Blok M - Kota, yang mengangkut penumpang di monas, ia melihat adanya kejanggalan. Pelaku bersama keluarganya berdiri di depan korban. Korban berdiri menghadap pintu sebelah kiri Transjakarta karena keadaannya sangat sempit dan sesak, ketika tiba-tiba pelaku mendekatkan kelamin nya ke tubuh korban, namun korban tidak bisa berbuat apa-apa bahkan bergerak juga tidak bisa. Saat itu ia yang melihat kejadian pelecehan seksual itu hanya bisa diam, terkejut, bahkan keringat dingin, sebelumnya ia juga mendapatkan foto dari pelaku jika sewaktu-waktu pelaku mengancam saksi dan korban, lalu dengan sikap santai pelaku keluar bersama keluarganya di halte Transjakarta harmoni. 

Masih banyak saksi mata yang memilih untuk diam karena perlindungan terhadap saksi mata dan korban pelecehan seksual masih sangat jarang terjadi, bisa jadi saksi mata dikira berbohong dan bekerja sama dengan korban untuk mencari sensasi saja mengingat jaman milenials kini. Belum lagi, saat kejadian tersebut saksi mata malah diancam jika berani melaporkan ke pihak berwajib berupa verbal (ucapan mengancam, tatapan tajam) dan non verbal (menarik tangan saksi mata, mencakar saksi) sama seperti yang mereka lakukan terhadap korban, sebab pelaku berpikir bahwa jika mereka melaporkan kejadian yang dialami korban, pelaku bisa berbuat hal yang sama terhadap saksi mata. Untuk itu peran dari saksi mata dalam kasus pelecehan seksual yang penting dan dibutuhkan selain untuk melawan dan menegasi pelaku, keberanian saksi mata membuat korban juga berani untuk berbuat sesuatu dan melapor orang sekitarnya.

Solusi apa yang dapat kita lakukan sebagai saksi mata, kamu bisa memiliki keberanian untuk menolong korban dan bertindak tegas pada pelaku pelecehan seksual. Solusi yang dapat kita lakukan adalah pertama-tama saat kejadian pelecehan seksual ini terjadi hal yang kita lakukan adalah menegur pelaku dengan cara memberikan bukti saat pelaku melakukan pelecehan seksual berupa visual, kedua melapor kepada keamanan setempat atau kondektur transjakarta untuk melindungi korban dan membawa pelaku ke pihak yang berwenang, lalu bisa juga dengan berusaha memisahkan korban dengan pelaku dengan cara menginterupsi korban. Lalu sebagai masarakat Indonesia yang memiliki rasa toleransi tawarkan bantuan dan memastikan kondisi korban tetap stabil, sosialiasi dari lembaga pemerintah juga sangat diperlukan supaya masyarakat mendapat informasi tentang bagaimana membantu korban pelecehan seksual secara mental dan fisik.

***

 

Levia Louise adalah mahasiswi London school of Public Relation Jakarta. Saat ini ia sedang membuat kampanye yang bertema “pelecehan seksual”. Kampanye ini terinspirasi dari kisah nyata masyarakat yang belum memiliki keberanian untuk menolong korban pelecehan seksual. Menurut Levia, kita harus berani menolong dan melawan korban pelecehan seksual, kalau tidak dimulai dari sekarang kapan lagi?

 

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...