Pentingnya Plastik bagi Dunia Medis
Foto: via BBC.com

Pentingnya Plastik bagi Dunia Medis

Jumat, 13 Des 2019 | 16:20 | Felixia Qualimva

Winnetnews.com - Belakangan ini di media, plastik telah mendapatkan reputasi yang buruk dikarenakan fakta akan lamanya plastik untuk terurai, akan tetapi fakta tersebut justru membuat masyarakat salah persepsi. Padahal manusia menggunakan plastik di dalam kehidupan mereka sehari-sehari dan tidak akan bisa lepas dari plastik itu sendiri. Jika tidak ada plastik di dunia ini, hal tersebut akan mendapat impact yang signifikan terhadap manusia.

Manusia sadar bahwa plastik akan menyebabkan begitu banyak kerusakan pada lingkungan, dan mereka fokus pada pelarangan plastik atau #bannedplastic. Padahal dalam kehidupan nyata, mereka masih membutuhkan plastik setiap hari terutama dalam dunia medis.

Dunia medis tidak akan mungkin dilakukan tanpa menggunakan bahan plastik. Plastik membuat perawatan kesehatan lebih sederhana dan tidak terlalu menyakitkan. Hal-hal yang kita anggap remeh seperti jarum suntik sekali pakai, kantong darah intravena dan katup jantung sekarang terbuat dari plastik. 

Bahkan plastik telah mengurangi berat bingkai dan lensa kacamata. Mereka adalah komponen kunci dari perangkat prostetik modern yang menawarkan fleksibilitas, kenyamanan, dan mobilitas yang lebih besar. 

Kemasan plastik, dengan sifat tahan lama yang luar biasa, ringan, biaya rendah, daya tahan, dan transparansi, sangat ideal untuk aplikasi medis. Prosedur medis paling inovatif saat ini bergantung pada plastik.

Penggunaan plastik membuat pasien lebih aman, dan prosedurnya lebih sederhana. Sebagai contoh, dokter mengalami kesulitan ketika mesin MRI pertama kali diperkenalkan. 

MRI pada dasarnya adalah magnet raksasa dengan kemampuan untuk menarik benda logam apa pun dalam jangkauan. Benda logam yang terletak terlalu dekat dengan mesin MRI dapat menjadi udara dan berbahaya jika mereka terbang menuju unit magnet. Saat ini, semua peralatan yang mengelilingi MRI dibuat dari plastik untuk menjaga hal ini. Bahkan alat yang digunakan untuk memasang MRI dibuat dari plastik.

Begitu pula dengan hal sederhana dan biasa seperti kacamata, plastik telah meningkatkan kehidupan masyarakat. Penggabungan plastik ke dalam bingkai dan lensa kacamata telah membantu mengurangi beratnya dan meningkatkan keamanan secara keseluruhan. Bahkan konsumen yang tidak ingin memakai kacamata memiliki pilihan untuk memakai lensa kontak, yang juga terbuat dari plastik. 

Menurut Head of UN Environment Erik Solheim, Rwanda, negara yang menjadi pionir pelarangan kantong plastik sekali pakai, saat ini menjadi salah satu negara paling bersih di dunia. Meski begitu, tidak lantas pelarangan plastik menjadi solusi pamungkas. Solheim bahkan melabeli plastik sebagai "material ajaib" yang jasanya sudah banyak bagi dunia, sehingga kebiasaan manusialah yang lebih penting untuk berubah. 

“Plastik bukanlah masalah. Persoalannya adalah apa yang kita lakukan dengan itu dan itu berarti tanggung jawabnya ada di kita untuk lebih bijaksana dalam menggunakan material ajaib ini,” ujarnya dilansir dari katadata.co.id.

Maka dari itu, sebenarnya plastik merupakan teman manusia, akan tetapi jika manusia menggunakan plastik secara berlebihan tanpa memikirkan cara penggunaan secara maksimal dan cara pengelolaan plastik itu sendiri, maka plastik juga dapat menjadi musuh. 

Kantong plastik yang lebih kuat dan tahan lama dapat dipakai berulang kali, namun kemudahan dan kepraktisan yang ditawarkan kantong plastik justru membuat penggunaan kantong plastik hanya menjadi sekali pakai. Dampaknya, sampah plastik jadi menumpuk dan plastik mulai menjadi bahan yang tidak ramah lingkungan. 

Padahal pada tahun 1970an-1980an, membuang kantong plastik sehabis digunakan adalah hal yang aneh. Masyarakat selalu membawa kantong plastik yang dilipat dalam sakunya. Seperti yang kita lakukan sekarang dengan membawa kantong sendiri ketika berbelanja.

Banyak cara yang dapat dilakukan untuk memaksimalkan plastik seperti waste management atau pengelolaan limbah plastik seperti contoh dalam model sirkular produksi plastik, pada fase pemakaian, plastik bisa dipakai berulang kali sebelum sepenuhnya menjadi sampah. 

Saat menjadi sampah pun plastik punya tiga alternatif konversi, yakni bisa menjadi sumber energi, bisa menjadi campuran bahan baku kimiawi ataupun bahan baku untuk pengolahan mekanis. Langkah-langkah pengelolaan limbah plastik inilah yang dilihat sebagai solusi untuk permasalahan plastik.

Dalam penggunaan kantong plastik, manusia perlu memaksimalkan penggunaan kantong plastik daripada melihat kantong plastik sebagai sesuatu yang perlu dihindari. Sebelum menjadi limbah yang merusak lingkungan, pergunakan plastik berulang-ulang. Setelah benar-benar rusak, konversikan sampah plastik menjadi energi atau sumber bagi pembuatan plastik lagi.

***

 

Felixia Qualimva adalah mahasiswa London School of Public Relations Jakarta

 

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...