(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Perbedaan Uji Ban Standar Indonesia dan Standar Eropa

Ahmad Mashudin
Ahmad Mashudin

Perbedaan Uji Ban Standar Indonesia dan Standar Eropa

WinNetNews.com - Dalam pembuatan ban mobil, pabrik akan melakukan pengujian terlebih dulu sebelum melempar produknya ke pasar. Tahapan pengujian cukup beragam, bergantung dari target pasar, untuk domestik atau ekspor.

Untuk pasar domestik, ban harus bersertifikat Standar Nasional Indonesia (SNI). Sementara untuk pasar ekspor, seperti ke Eropa, harus memenuhi standar United Nations Economic Comission for Europe (UNECE).

Laboratorium pengujian ban independen pertama di Indonesia milik TUV Rheinland bisa melakukan uji ban sesuai standar SNI dan UNECE. Uji ban yang dilakukan pada keduanya berbeda karena dipengaruhi kondisi jalan dan cuaca di masing-masing negara.

"Kami tidak bisa bilang standar mana yang paling susah karena masing-masing punya karakteristik yang disesuaikan dengan kondisi yang ada. Jadi kami enggak bisa bilang, oh standar Eropa lebih tinggi. Tapi kembali pada kondisi alam," jelas GM Mobility TUV Rheinland Indonesia, Ruddy Herlawanto, Kamis (2/6/2016).

Ruddy menjelaskan, ban yang akan dipasarkan secara lokal harus diuji berdasarkan kecepatan tinggi, uji tusuk, dan tekanan. Sementara untuk pasar Eropa ada uji tambahan meliputi noise, grip, rolling resistance, dan lain-lain.

Diakui Ruddy, uji ban untuk pasar Eropa terbilang cukup lama karena banyak tahapan yang harus dilalui.

“Itu membutuhkan waktu dan juga investasi tambahan untuk pengujiannya,” tutup Ruddy.

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});