Peringatan Dedi Mulyadi untuk Farhat Abbas

Peringatan Dedi Mulyadi untuk Farhat Abbas istimewa

WinNetNews.com - Ketua DPD Partai Golkar Jawa Barat Dedi Mulyadi geram dengan pernyataan kontroversial yang disampaikan Juru Bicara Tim Kampanye Nasional pasangan bakal calon Presiden dan Wakil Presiden Joko Widodo-Ma'ruf Amin (Jokowi-Ma'ruf), Farhat Abbas. Diketahui, melalui akun instagramnya @farhatabbastv226, Farhat menyebut pemilih Jokowi akan masuk surga dan sebaliknya, yang tidak memilih Jokowi akan masuk neraka.

Kang Dedi, sapaan Dedi Mulyadi menilai pernyataan Farhat sangat ringan di mulut, namun memiliki dampak negatif yang cukup besar terutama dari aspek nilai moral politik. Ditegaskan, sebagai seorang juru bicara tak seharusnya Farhat melontarkan pernyataan yang menyeret agama ke dalam arena politik praktis.

“Kalimatnya cukup ringan, tetapi menyeret Agama yang suci ke dalam politik pragmatis. Saya kira itu sangat tidak strategis,” kata Dedi dalam siaran pers yang diterima SP di Jakarta, Kamis (13/9).

Sebagai budayawan, Dedi menyatakan ketidaksepakatannya dengan pandangan yang mengatasnamakan Kuasa Allah dalam politik. Apalagi, dengan membawa dua instumen pembalasan amal ibadah manusia yakni surga dan neraka. Menurut Dedi, pandangan tersebut sangat kontraproduktif. Untuk itu, Dedi mengingatkan Farhat tidak lagi melancarkan propaganda serupa. Ketimbang menyeret persoalan agama, Farhat maupun Jubir Tim Kampanye pasangan Jokowi-Ma'ruf lainnya diminta menyampaikan program dan pencapaian kinerja Jokowi selama ini.

“Baiknya sih melakukan pendidikan politik melalui pernyataan-pernyataan yang kita lontarkan. Sebenarnya konten Pak Jokowi ini sangat banyak karena hasil kerja beliau sudah terasa. Karena itu, nalarnya harus diarahkan menuju pemahaman kualitas program,” katanya.

Selain itu, kokohnya suprastruktur dan infastruktur ekonomi Indonesia menurut Dedi sangat perlu disiarkan. Kondisi ekonomi Indonesia yang prudent menurut Dedi justru terjadi di tengah ketidakpastian ekonomi global.

“Silakan cek saja, masyarakat Indonesia masih bisa tuh belanja di pasar. Para petani masih bisa tenang mengolah sawah dan ladang. Sektor industri kita bertahan dan berproduksi maksimal. Kenapa tidak ini saja yang disampaikan ke publik?,” tegasnya.

Melalui situation room yang dia miliki, Dedi selalu memantau pembicaraan warganet. Dari pengamatannya, Dedi menilai terjadi paradoks luar biasa dalam konten pembicaraan yang berkembang di kalangan pengguna media sosial.

Mantan Bupati Purwakarta ini mencontohkan banyak warganet dengan latar kehidupan ekonomi yang mapan justru mengeluhkan ukuran tempe. Padahal, ukuran tempe maupun harganya sama sekali tidak berpengaruh terhadap kondisi ekonomi mereka secara keseluruhan. Sebaliknya, Dedi menyatakan, kalangan warganet dengan tingkat kesibukan tinggi cenderung netral menghadapi isu politik. Bahkan isu lain yang dikemas untuk tujuan politik.

“Masyarakat pekerja itulah seharusnya mendapatkan perlindungan negara, mulai dari asuransi kesehatan sampai jaminan hari tua. Jadi semua mainannya program, gimmick gak usah ada. Gimmick itu membawa kebodohan kok bukan kecerdasan,” tuturnya. (beritasatucom)