Peringkat ANTM Turun

Peringkat ANTM Turun

Peringkat ANTM diturunkan oleh Pefindo yang semula idA menjadi idA-.

Menurut Yogie Perdana dan Niken Indriarsih, analis Pefindo, dalam laporannya mengatakan, penurunan peringkat itu lantaran tekanan atas margin ANTM karena penurunan harga nikel di tengah tingginya tingkat utang ANTM saat ini. ANTM berutang untuk menambah kapasitas pabrik feronikel di Pomalaa, Sulawesi Tenggara. Selain proyek itu, ANTM melanjutkan proyek pembangunan pabrik feronikel di Halmahera Timur yang bakal berasal dari injeksi modal pemerintah melalui proses rights issue tahun ini.

Penurunan peringkat juga mencerminkan ekspektasi Pefindo , harga nikel tetap berada di bawah US$ 5,5 per pon dalam 12 hingga 18 bulan ke depan. Hal ini yang membuat profil keuangan ANTM terutama leverage dan proteksi arus kas akan terus tertekan sepanjang periode tersebut.

"Kami mempertahankan outlook ANTM di negatif untuk mengantisipasi penurunan lebih lanjut pada proteksi arus kas dan juga struktur permodalan akibat harga komoditas lebih rendah dari harapan," ujar analis Pefindo, Selasa (15/9).

Selain itu, ada risiko target volume penjualan produk ANTM tak tercapai. Namun, peringkat itu juga mencerminkan sumber daya produk ANTM masih besar dan memiliki kualitas yang baik. Memang saat ini ANTM mengejar beberapa proyek besar. Untuk menghemat dana, ANTM memangkas belanja modal. Misalnya, untuk pabrik feronikel Halmahera Timur, sebelumnya ANTM membidik kapasitas 40.000 ton nikel dalam feronikel (TNi) dengan investasi US$ 1,7 miliar.

Namun kini, ANTM menurunkan investasinya menjadi US$ 250 juta untuk kapasitas 15.000 TNi. ANTM hampir menyelesaikan pabrik feronikel di Pomalaa dan ditargetkan beroperasi awal 2016. Pabrik ini akan menambah kapasitas produksi feronikel ANTM menjadi 27.000-30.000 TNi per tahun dari 18.000-20.000 TNi per tahun.

Asumsinya, kadar umpan bijih nikel sebesar 1,9%. Kemarin, harga saham ANTM ditutup turun 1,24% menjadi Rp 477 per saham.