Petani Rumput Laut NTT Rugi Akibat Eksplorasi Perusahaan Minyak Australia

Petani Rumput Laut NTT Rugi Akibat Eksplorasi Perusahaan Minyak Australia

WinNetNews.com - Petani rumput laut Indonesia menuntut perusahaan ekplorasi minyak Australia dalam tuntutan class action atas kerugian yang mereka derita sejak 2009. Tuntutan diajukan ke Pengadilan Federal Sydney dengan nilai tuntutan 200 juta dolar AS.

Lebih dari 13 ribu petani rumput laut di Nusa Tenggara Timur (NTT) mengalami kerugian ketika perusahaan PTTEP Australasia (Ashmore Cartier) Pty Ltd (PTTEPAA) menumpahkan 300 ribu liter minyak per hari di wilayah perairan NTT. Minyak itu mencemari kehidupan laut dan merusak mata pencaharian 13 ribu petani.

Kasus ini ditangani oleh firma hukum Maurice Blackburn Lawyers. Mereka menunjuk advokat Greg Phelps dari perusahaan hukum Darwin Ward Keller untuk mewakili para petani. Phelps adalah advokat ahli dalam class action.

Sementara, pemimpin penggugat adalah petani rumput laut Indonesia, Daniel Sanda. Ia mengajukan tuntutan atas nama dirinya dan petani lainnya. Tuntutan class action memungkinkan siapa pun yang mengalami kerugian untuk mendapat kompensasi dari pihak yang dituntut, jika menang.

Insiden tumpahan minyak ini bermula pada 21 Agustus 2009. Saat rig minyak Montana yang dioperasikan PTTEPAA meledak dan memuntahkan minyak tak terkendali dalam waktu 70 hari. Gas dan minyak menyembur dari rig hingga ke Laut Timor, 690 km dari Darwin di Australia barat dan 250 km dari Pulau Rote, NTT.

 

Diperkirakan lebih dari 300 ribu liter minyak mengontaminasi laut per harinya. Jumlah ini setara dengan menumpahkan 10 kolam renang Olimpiade berisi minyak beracun dan berlumpur ke laut dalam berbulan-bulan. Kebocoran baru bisa dikendalikan pada 3 November 2009.

Dampak dari bencana ini sangat dirasakan ribuan petani rumput lain bahkan hingga saat ini. Mereka terpaksa berpindah haluan jadi petani darat untuk menghidupi keluarganya. Itu pun dengan penghasilan tak seberapa.

Class Actions Principal and Managing Principal of Maurice KBlackburn, Ben Slade di New South Wales mengatakan dampak ekonomi dari bencana ini masih dirasakan hingga hari ini. "Tidak ada yang bisa para petani ini lakukan untuk melindungi diri mereka dari dampak tumpahan minyak Montana," kata Slade dalam siaran pers yang diterima Republika, Rabu (3/8).

Padahal, tambahnya, para petani ini harus bekerja keras untuk mengirim putra putri mereka ke sekolah tinggi. Masalah ini membuat harapan mereka hancur. Slade mengatakan hasil penyelidikan menunjukan bahwa operator rig minyak harus bertanggung jawab atas kasus serius ini.

Sumber: Republika