(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Pidato Terakhir Dilma Rousseff Sebagai Presiden Brasil Diwarnai Air Mata

Rani
Rani

 Pidato Terakhir Dilma Rousseff Sebagai Presiden Brasil Diwarnai Air Mata

WinNetNews.com - Air mata menetes ketika Presiden Dilma Rousseff menyampaikan pidato terakhirnya untuk rakyat, sebelum dia meninggalkan istana kepresidenan Brasil. Namun air mata itu bukan dari Rousseff, melainkan dari para menterinya dan staf pemerintah.

Bekas gerilyawan Marxist yang pernah disiksa pada tahun 1970-an itu, tampak tegar saat pidato resmi terakhirnya pada Kamis, 12 Mei waktu setempat. Wanita itu berulang kali menyebut keputusan pemakzulan dirinya oleh Senat sebagai kudeta.

"Saya minta kalian untuk tetap bergerak, bersatu dan damai. Perjuangan untuk demokrasi tak pernah berakhir. Perjuangan ini permanen," ujar Rousseff seperti dilansir kantor berita AFP, Jumat (13/5/2016).

Puluhan staf pemerintah memenuhi ruangan konferensi pers di istana kepresidenan Palacio Planalto untuk mendengarkan pidato Rousseff. Sebagian dari mereka mengucurkan air mata.

Marcia Kumer, teknisi yang bekerja untuk pemerintah, mengaku sangat bersedih dan marah atas pemakzulan Rousseff. "Kami akan berjuang. Kami akan turun ke jalan-jalan untuk melindungi hak-hak kami," kata wanita berumur 56 tahun itu dengan mata berkaca-mata.

Usai berpidato, Rousseff yang diapit oleh puluhan menterinya, langsung meninggalkan istana kepresidenan. Beberapa menterinya menangis, namun wanita berusia 68 tahun itu tetap tegar.

 

Senat Brasil memutuskan untuk memakzulkan Presiden Rousseff, setelah sidang semalam suntuk dengan perbandingan 55 suara mendukung dan 22 menolak. Dengan keputusan Senat Brasil pada Kamis (12/5) itu, maka dengan serta merta Rousseff diberhentikan sementara sebagai presiden. Wakil Presiden Michel Temer (75) menggantikannya sebagai kepala negara sementara.

Rousseff, presiden wanita pertama Brasil, selanjutnya akan menjalani sidang pemakzulan terkait tuduhan bahwa dia memanipulasi data keuangan untuk menutup-nutupi defisit anggaran menjelang pemilihan presiden, yang dimenangkannya kembali pada tahun 2014.

Rousseff berulang kali membantah keras tudingan itu. Dikatakannya, segala upaya untuk menggulingkannya merupakan "kudeta". Rousseff menjabat sebagai presiden pertama kali pada Januari 2011 dan memulai masa jabatan kedua pada 2015.

Sumber: Detik 

Foto: Theguardian

Apa Reaksi Kamu?

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});