Pimpinan Gafatar Tidak Diterima Di Desanya Sendiri

Pimpinan Gafatar Tidak Diterima Di Desanya Sendiri

Kamis, 28 Jan 2016 | 19:30 | Muhammad Takdir
WinNetNews.com - Warga Kureksari, Kecamatan Waru, Sidoarjo, Jawa Timur, menolak eks Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar), yang menjadi pimpinan wilayah di provinsi ini, jika berniat kembali tinggal di desanya. Sebaliknya bagi anggota biasa, warga setempat tetap menerimanya lagi.

Kepala Desa Kureksari, Trisnadi, membenarkan penolakan warga terhadap eks Gafatar yang menjadi pimpinan, untuk bermukim di desa tersebut. “Kesepakatan warga itu sudah bulat dan kami hormati kesepakatan itu,” katanya, di sela-sela memantau kedatangan 78 bekas Gafatar di Kantor Penampungan Lingkungan Pondok Sosial, Sidoarjo, Rabu (27/1).

Menurut Trisnadi, sebelumnya, warga melakukan musyawarah di Balai Desa Kureksari. Para warga menolak pimpinan Gafatar untuk kembali ke desanya. Tetapi khusus bagi anggota eks gerakan, tetap diizinkan untuk berdomisili lagi di wilayah desa ini.

"Yang berstatus sebagai anggota, sebenarnya orang awam. Mereka terbawa pengaruh dan ikut anggota Gafatar. Karena itu, warga desa menerima kembali mereka dengan senang hati," katanya, seraya menambahkan warga Desa Kureksari yang menganut Gafatar, berjumlah 30 orang baik dewasa maupun anak-anak.

 

Sementara itu, sebanyak enam warga eks Gafatar asal Kabupaten Tuban, Jatim, telah pulang ke rumah keluarga masing-masing yang ada di Kecamatan Tambakboyo dan Kecamatan Palang. Kedatangan mereka pada Rabu (27/1), mendapat sambutan hangat dari keluarga mereka.

Keenam warga tersebut akan tetap bertani, karena bercocok tanam sudah merupakan ketrampilan utamanya.

Keenam pengikut Gafatar itu masing-masing Patria Budi Setiawan, Yuanita Wulansari dan Jessica Avril Setyawardhani, warga Perum Tasikmadu, Desa Tasikmadu, Kecamatan Palang, Tuban. Tiga lainnya, Imam Syafi'i bersama Siti Farida dan Aditya. Mereka sebelumnya tergabung dalam kelompok Gafatar, Kabupaten di Mempawah, Kalimantan Barat.

Menurut Patria Budi Setiawan alias Wawan, dirinya masih tetap ingin bertani dan mengembangkan pertanian seperti pada saat di Kalimantan. Namun ia mengaku jika saat di pulau Jawa ini kesulitan untuk mencari lahan untuk bertani.

Dengan kondisi tidak adanya lahan pertanian, Wawan mengaku akan berusaha melakukan pertanian dengan sistem polibek memanfaatkan lahan yang ada. Selain itu, mereka juga berharap adanya lahan pertanian yang disediakan untuk mereka mengembangkan pertanian.

Keenamnya, berangkat ke Kalbar sejak Oktober 2015 lalu. Mereka berangkat bersamaan setelah sama-sama bergabung dengan kelompok Gafatar pada tahun 2013 silam.

(seperti dilansir dari Berita Satu)

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...