Plus dan Minus Pernikahan Dini bagi Para Remaja
Sumber Foto : Istimewa

Plus dan Minus Pernikahan Dini bagi Para Remaja

Selasa, 8 Jan 2019 | 13:48 | ALXUNDR

Winnetnews.com - Pernikahan merupakan impian semua orang. Memiliki keluarga yang bahagia, kehidupan yang sejahtera, dan lain sebagainya. Namun, tidak ada yang tau pasti bagaimana kehidupan setelah menikah. Apakah akan bahagia seperti kehidupan pernikahan selebriti di televisi atau malah sebaliknya. Karena pada dasarnya kehidupan setelah menikah itu kembali lagi kepada pasangannya. Apakah mereka sudah siap untuk menikah secara lahir dan batin atau belum. Kesiapan itu sendiri di dapat dari beberapa faktor seperti usia, mental, sikap dan perilaku seseorang. Di Indonesia sendiri jika membicarakan pernikahan sudah sangat lumrah. Bahkan banyak para remaja yang ingin melakukan pernikahan sebelum waktunya. Karena mereka melihat di media sosial banyak remaja yang sudah menikah dini, atau bahkan karena mereka merasa jenuh dengan sekolah/kuliahnya, serta kehidupannya.

Sebelum kita bahas lebih dalam lagi mengenai Plus dan Minus dari Pernikahan Dini, Yuk kita tau dulu mengenai pengertiannya!

Pernikahan dini adalah pernikahan yang dilakukan oleh anak yang berusia kurang dari 19 Tahun. Sementara pada umumnya pernikahan di Indonesia dilakukan oleh pasangan yang umurnya sudah lebih dari 19 Tahun, sesuai UUD 1945 dinyatakan bahwa usia nikah di atur dalam Pasal 7 ayat 1 UU Nomor 1 Tahun 1974 adalah 19 tahun untuk laki-laki dan 16 tahun untuk perempuan.


 Tetapi kenapa sih masih banyak remaja yang melakukan pernikahan dini? Berikut penjelasannya.

  1. Faktor Ekonomi
    faktor ekonomi menyebabkan orang tua menikahkan anaknya pada pria/keluarga yang lebih mapan atau hanya untuk mengurangi biaya hidup sehari hari. Serta beban orang tua
  2. Perjodohan
    mungkin faktor ini sudah sangat kecil yang menyebabkan pernikahan dini, namun beberapa kasus terutama di desa dan kampung, ini masih terjadi.Bahkan di perkotaanpun sekarang masih banyak orang tua yang melakukan perjodohan terhadap anaknya.Padahal perjodohan sudah di tinggalkan.
  3. MBA (Married By Accident)
    penyebab yang paling banyak terjadinya pernikahan usia dini, terutama terjadi di daerah perkotaan. Karena perkotaan terkenal dengan banyaknya pergaulan bebas
  4. Adat atau Kepercayaan
    Di beberapa daerah di Indonesia, masih ada budaya yang membuat anak perempuan menikah dengan pria yang jauh lebih tua.Serta kepercayaan masyarakat desa jika lebih cepat menikah lebih baik.

Pernikahan dini terjadi bukan hanya karena faktor faktor di atas aja loh. Tapi juga bisa terjadi karena kemauan dari diri sendiri. Seperti yang di katakan oleh narasumber yang penulis wawancarai. Sebut saja Angel (Nama Samaran) dia bilang “Awal di ajak nikah jujur aku takut, aku langsung nolak. Tapi aku pikir, daripada pacaran bikin nambah dosa, mending langsung nikah aja biar jadi pahala. Karna emang ini semua pure kemauan aku sendiri. Dan kebetulan waktu itu ekonomi rada turun, dan aku juga mikir udah gamau nyusahin orangtua, aku pengen bahagiain mama.”

Nah setelah kita tau faktor apa saja yang menyebabkan pernikahan dini, kita bahas dulu yuk kasus pernikahan dini apa aja yang pernah viral di Indonesia

  1. Pernikahan Syekh Puji dan Lutfiana Ulfa
    image0
    (source: www.bangka.tribunnews.com )
    Siapa sih yang gatau pernikahan Syekh Puji yang menikahi anak umur 12 tahun yang bernama Lutfiana Ulfa pada tahun 2008. Syekh Puji yang memiliki nama asli Pujiono Cahyo Widiato merupakan seorang pimpinan pondok pesantren Miftahul Jannah di Semarang, Jawa Tengah. Ulfa dijadikan istri kedua oleh pengusaha kuningan tersebut. Pada 24 November 2010, Syekh Puji divonis bersalah oleh Pengadilan Negeri Semarang dengan hukuman 4 tahun penjara dan denda Rp 60 juta. Dia terbukti melanggar Undang-Undang Perlindungan Anak. 
  2. Pernikahan Mantan Bupati Garut
    image1
    (source: www.regional.kompas.com )
    Pada tahun 2012 terjadi pernikahan Mantan Bupati Garut Aceng Fikri. Pria yang saat itu berumur 40 menikahi Fany Octora yang belum genap berumur 18 tahun. Dan mirisnya pernikahannya hanya bertahan selama 4 hari. Istrinya diceraikan melalui pesan singkat lantaran dituding sudah tidak perawan lagi. Atas perbuatannya, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Garut melengserkan Aceng atas pelanggaran kode etik.
  3. Pernikahan Anak SD di Sinjai, Sulawesi Selatan
    image2
    (source: www.kumparan.com )
    Pada 8 Maret 2018 seorang anak berusia 12 tahun, kelas VI SD berinisial SR, berencana melakukan resepsi pernikahan Kabar pernikahan siswi SD tersebut telah dibenarkan oleh Lurah Balangnipa, Kecamatan Sinjai Utara Muh Azharuddi Al Anshari. Ia menghimbau orang tua anak untuk tidak menikahkannya karena masih di bawah umur. Meski dilarang namun kedua orangtua mereka Basri dan Sinar tetap akan menikahkan anaknya di hari yang telah ditentukan.
  4. Pernikahan siswa SMP di Bantaeng, Sulawesi Selatan
    image3
    (source: www.tribunnews.com )
    Pada tahun 2018 terjadi Pernikahan antar siswa SMP di Bantaeng, Sulawesi Selatan. Pasangan yang bernama Reski (13) dan Sarmila (17) rupanya masih keluarga dekat. Ayahnya mempelai pria, Salaming, menjelaskan bahwa pernikahan tersebut berasal atas keinginan anak yang pacaran sejak satu tahun lalu.

    Sehingga, untuk menghindari hal tidak diinginkan sekaligus menjaga nama baik keluarga yang sangat kental dengan budaya siri' (malu) sebagai suku Makassar, maka keinginan mereka tersebut dikabulkan.

    "Karena anak yang sudah ingin menikah, makanya saya nikahkani. Ini juga cara kami untuk terhindar dari cerita miring tetangga dikemudian hari,"
    image4
    (source: www.detik.com )

Sebenarnya masih banyak lagi kasus Pernikahan Dini yang terjadi di Indonesia. Beberapa kasus di atas merupakan contoh kasus yang sempat viral di Indonesia. Dari beberapa kasus di atas terdapat alasan mengapa terjadi Pernikahan Dini karena ingin menghindari zina. Namun dibalik itu semua Pernikahan dini juga pasti memiliki nilai minusnya juga. Seperti yang di kutip dari salah satu Psikolog yang bekerja di salah satu Universitas Swasta di Jakarta menyatakan bahwa “Pernikahan Dini itu kebanyakan terjadi di Negara Berkembang, negara yang pola berpikirnya (masyarakat)  masih belum stabil, dan lebih banyak resikonya untuk pasangan. Seperti akan terjadi kekerasan dalam rumah tangga karena emosi pasangan yang belum stabil, psikologis dan mentalis perempuan belum siap untuk menjadi istri dan seorang ibu.

Lalu pada saat penulis bertanya “lalu menurut bapak pernikahan dini itu rata – rata terjadi karna apa?” ia menjawab “Pernikahan Dini bisa terjadi karena dua faktor. Yang pertama adalah ketidak sengajaan. Banyak penyebabnya yang paling rentan serta gampang terlihat karena keingintahuan akan sex tanpa edukasi atau penanganan yang tepat, dan menjadikan hamil diluar nikah sehingga masyarakat tidak begitu memikirkan resikonya, yang terjadi malah kebanyakan langsung menikah karena ingin menghindari rasa malu. Faktor yang kedua adalah faktor kesengajaan. Selebihnya terjadi Pernikahan Dini adalah karena alasan ekonomi (di daerah), pandangan mereka Pernikahan Dini menjadi solusi untuk menaikan perekonomian mereka.”

image5

Pernikahan Dini tentu saja memiliki sisi Plus dan Minusnya. Menurut Survey berikut sisi plus dan minus dari Pernikahan Dini:

Plus:

  1. Menjadi lebih sabar, bersikap lebih dewasa, serta menyelesaikan masalah dengan kepala dingin
    Seperti yang dikutip dari salah satu narasumber yang penulis wawancarai yang bernama Angel (Nama Samaran) ia berkata bahwa “Setelah nikah aku jadi lebih sabar, lebih dewasa, lebih bisa nyelesaiin masalah dengan kepala dingin. Sebelum nikah sifat aku kebalikan dari itu semua. Kalo sama suami pasti ada yang namanya masalah. Tapi masih bisa di selesaikan dengan kepala dingin. Namanya dua kepala jadi satu kan ga gampang, banyak beda pendapat.”
  2. Menghindari Pergaulan Bebas
    Angel (nama samara) juga berpendapat bahwa “aku pikir ya daripada pacaran nambah dosa, mending langsung nikah aja biar jadi pahala”
  3. Mengurangi Beban Orang Tua
    Narasumber yang penulis wawancarai (Angel) juga berkata “aku juga mikir udah gamau nyusahin orangtua, aku pengen bahagiain mama. Dan Alhamdulillah setelah nikah semuanya terwujud sesuai ekspektasi aku sebelum nikah”
     

Minus:

  1. Pertentangan dalam Keluarga
    Menurut Angel (Nama Samaran) “sebelum nikah keluarga aku kaget dan kebanyakan menentang, tapi mama dan kakak aku justru ngedukung banget dan mereka juga yang ngejelasin baik – baik ke anggota keluarga yang nentang. Karena emang nikah itu kemauan aku sendiri, dan aku udah tau konsekuensinya gimana jadi ya ngerasa lebih siap”
  2. Menghasilkan Berbagai Macam Spekulasi dalam Masyarakat
    Angel (Nama Samaran) juga berkata jika “hampir semua orang nyindir aku di story ig, di story wa, dan bahkan aku sampe di gosipin hamil duluan. Tapi aku cuma diem aja, percuma ngomong ga akan di denger juga. Tapi aku langsung inget kalo niat aku nikah itu baik, gimanapun tantangannya pasti ada jalannya.”
  3. Ketidaksiapan Mental dan Psikologis Pasangan
    Menurut John Christian Simatupang M.Psi salah satu psikolog yang bekerja di salah satu Universitas Swasta berpendapat bahwa “Mental anak remaja itu masih labil, dan belum siap untuk membangun keluarga yang baik. Karena di khawatirkan akan terjadi hal yang tidak di inginkan jika menjalani pernikahan di usia yang belum semestinya.”

Menurut penelitian dari UNICEF, terdapat banyak dampak negatif yang ditimbulkan oleh pernikahan dini, yaitu:

  1. Wanita usia 10-14 tahun memiliki risiko lima kali lebih besar untuk meninggal saat hamil dan persalinan daripada wanita usia 20-24 tahun.
  2. 85% wanita mengakhiri pendidikan setelah menikah.
  3. Wanita yang menikah dini memiliki risiko tinggi untuk mengalami kecemasan, depresi, dan pikiran bunuh diri.
  4. Mereka masih enggak mengerti hubungan seks aman, sehingga meningkatkan risiko infeksi menular seksual seperti HIV.
  5. Pengantin anak memiliki peluang besar untuk mengalami kekerasan fisik, psikologis, emosional, dan isolasi sosial.

Kita sebagai remaja tentunya tidak ingin dong salah dalam menentukan pilihan. Berikut cara agar kita bisa menghindari Pernikahan Dini:

  1. Perdalam ilmu agama
  2. Hindari pergaulan bebas dengan cara memperdalam hobby
  3. Lebih memperbanyak waktu dengan teman dan keluarga
  4. Perbanyak waktu “me” time sesuai keinginan kamu
  5. Belajar mengenai seksual dan kesehatan reproduksi
  6. Mengikuti penyuluhan mengenai pernikahan dini

Keputusan untuk menikah memang kembali lagi kepada pasangan. Apakah itu sudah menjadi keputusan yang baik atau malah sebaliknya. Kita sebagai remaja memang sudah seharusnya menghindari pernikahan dini untuk menghindari hal – hal yang tidak di inginkan setelah kita menikah karena belum siap. Mungkin pikiran kita bilang kalau kita sudah siap tetapi hati dan fisik kita pada nyatanya belum siap. Maka dari itu lebih baik kita nikmati masa – masa remaja kita dengan baik dan semaksimal mungkin agar kelak kita siap dan tidak menyesal untuk menjalani bahtera pernikahan.

 

Ditulis oleh aisyahna aulia

Mahasiswi London School of Public Relations

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...