PM Rusia 'Minggat' Demi Ambisi Putin
Dmitry Medvedev (kiri) mengundurkan diri dari kursi Perdana Menteri Rusia, didampingi Presiden Rusia, Vladimir Putin (kanan). [Foto: South China Morning Post]

PM Rusia 'Minggat' Demi Ambisi Putin

Kamis, 16 Jan 2020 | 09:10 | Khalied Malvino

Winnetnews.com - Perdana Menteri (PM) Rusia, Dmitry Medvedev secara mengejutkan mengundurkan diri pada Rabu (15/1) setelah Presiden Rusia, Vladimir Putin mengusulkan perubahan konstitusi yang dapat membuatnya memperpanjang kekuasaan.

PM Medvedev menyatakan mundur untuk untuk memberi ruang terhadap Putin dalam melakukan perubahan. Jika perubahan konstitusi itu terwujud, maka akan mengalihkan kekuasaan ke parlemen dan PM serta memungkinkan Putin untuk berkuasa dalam kapasitas lain setelah jabatannya sekarang berakhir pada 2024.

Melansir SINDOnews.com, Medvedev yang juga aliansi lama Putin dan mantan presiden itu mengumumkan pengunduran dirinya di televisi nasional. Dia tampak duduk di samping Putin yang berterima kasih padanya atas kinerjanya selama ini.

Putin menjelaskan, Medvedev akan memegang jabatan baru sebagai deputi kepala Dewan Keamanan Rusia yang dipimpin Putin.

Perhatian publik sekarang mengarah pada siapa yang akan menjadi PM selanjutnya. Beberapa kandidat antara lain Walikota Moskow, Sergei Sobyanin yang dianggap membawa perubahan di ibu kota.

Perubahan ini dianggap banyak pihak sebagai awal persiapan Putin untuk masa depan untuk memenuhi ambisi politiknya sendiri saat dia melepas jabatan presiden pada 2024.

Siapa pun yang ditunjuk Putin sebagai PM akan dianggap sebagai presiden selanjutnya, seperti saat Putin mundur dari posisi presiden pada 2008 untuk menjadi PM di bawah Medvedev yang kemudian bergeser empat tahun kemudian untuk mengizinkan Putin kembali jadi presiden.

Berkuasa dengan satu dari dua peran sejak 1999, Putin akan melepas jabatan pada 2024, saat periode keempat kepresidenannya berakhir.

Dia belum menjelaskan apa rencananya saat masa jabatannya berakhir, tapi sesuai konstitusi sekarang yang membatasi maksimal dua periode berturut-turut, Putin dilarang maju lagi dalam waktu dekat.

Putin menjelaskan dalam pidato tahunan negara bangsa bahwa dia ingin mengubah konstitusi untuk memberi wewenang pada parlemen majelis rendah atau State Duma untuk memilih PM dan posisi kunci lainnya.

"Ada perubahan sangat serius pada sistem politik. Ini akan meningkatkan peran dan pentingnya parlemen, partai-partai di parlemen dan independensi serta tanggung jawab perdana menteri," ujar Putin. [sindo]

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...