Polemik Ceramah Abdul Somad: Perlukah Ada Batasan dalam Dakwah Islam?
Ustaz Abdul Somad (Foto: ANTARA FOTO/Feny Selly)

Polemik Ceramah Abdul Somad: Perlukah Ada Batasan dalam Dakwah Islam?

Jumat, 23 Agt 2019 | 10:15 | Sofia Citradewi

Winnetnews.com - Ceramah ustaz Abdul Somad (UAS) yang mengaitkan patung Yesus dan simbol salib dengan jin kafir beberapa hari belakangan menjadi polemik. Kasus ini viral di media sosial lantaran video ceramahnya diduga menyinggung penganut agama Nasrani. Alhasil, ini berujung pada pelaporan dirinya ke polisi oleh sejumlah organisasi masyarakat atas dugaan penistaan agama.

Laporan itu dilayangkan oleh Kelompok Horas Bangso Batak (HBB) di Polda Metro Jaya, Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) di Bareskrim Polri dan organisasi masyarakat Brigade Meo di Polda Nusa Tenggara Timur.

Pro dan kontra masih terus bergulir hingga hari ini. Pihak MUI (Majelis Ulama Indonesia) sendiri berusaha meredam agar tak terjadi gejolak antar umat beragama yang berlarut-larut di Tanah Air. Langkah yang diambil MUI adalah mengundang UAS untuk mengetahui duduk perkara agar bisa menentukan sikap terhadap kontroversi UAS.

“Kami perlu bertabayun dulu kepada yang bersangkutan dan Insyaallah korespondensi dan komunikasi sedang berjalan,” terang Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri, Muhyiddin Junaidi kepada BBC Indonesia, dilansir pada Rabu (21/08/2019).

Meskipun demikian, Abdul Somad sempat memberikan klarifikasi terkait kontroversi yang menyeret namanya ini. UAS menyampaikannya melalui ceramah yang terekam dan diunggah ke Youtube pada 18 Agustus lalu.

Dalam video itu, ia menjelaskan bahwa ceramahnya tentang salib dan jin kafir ditujukan untuk kalangan internal Islam. Itu merupakan sebuah jawaban dari pertanyaan seorang jamaah yang berlangsung sekitar tiga tahun lalu di masjid Pekanbaru, Riau.

Walau demikian, polisi tetap akan menyelidiki kasus tersebut. Terlepas dari motif atau tujuan di balik pernyataan Abdul Somad, yang jadi pertanyaan adalah, adakah batasan ruang dalam berdakwah?

BBC Indonesia telah melansir pendapat dari Pimpinan majelis Ar Raudhah Surakarta, Habib Novel Alaydrus perihal polemik ini. Novel sebelumnya sempat bersimpati terhadap UAS berkat gerakan ulama masuk kampung yang dipeloporinya.

Novel menilai telah terjadi pelanggaran privasi dalam kasus yang menjerat sang ustaz.

“(Dakwah) internal, internal. Kalau memang internal, kemudian dikeluarkan oleh siapapun itu orangnya, kemudian yang berbicara dipersalahkan, maka negara ini akan repot nanti. Setiap orang kan punya privasi,” ujar Novel.

Menurut Novel, ustaz Abdul Somad sendiri justru adalah orang yang tahu tempat dalam berdakwah. Ia khawatir bila kasus ini terus berlanjut, bisa jadi akan dipakai ‘senjata’ untuk siapapun yang ingin menyalahkan orang lain.

Namun ruang lingkup berdakwah tak seharusnya menjadi alasan bagi penceramah pihak mana pun mengeluarkan pernyataan yang menyinggung perasaan komunitas di luar kalangannya. Setidaknya demikian menurut pendapat anggota Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Ahmad Syafii Ma’arif.

“Kita harus menjaga keutuhan masyarakat dengan dakwah, ndak boleh kita menyinggung pihak lain, walaupun dalam intern kita sampaikan,” jelas mantan ketua umum PP Muhammadiyah itu, masih dikutip dari BBC Indonesia.

Ia pun menambahkan perihal batasan seorang pendakwah. “Batasannya akal sehat dan kearifan, kembangkan kearifan tingkat tinggi,” pungkasnya.

Pendapat serupa juga datang dari Asisten Utusan Khusus Presiden RI untuk Dialog dan Kerjasama dan Antar Agama dan Peradaban, Jacky Manuputty.

“Kita enggak bisa menarik garis antara ruang tertutup dan terbuka. Itu kan munafik, di ruang tertutup kita memprovokasi, di ruang terbuka kita berlaga seakan-akan kita toleran,” kata Jacky.

Ada kekhawatiran jika ceramah yang bersifat merendahkan agama lain di kalangan internal malah bisa menumbuhkan bibit perilaku intoleran. (scd)

 

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...