(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Presiden Inter, Kini Juga Urus Olahraga Indonesia

Yudha Raditya
Yudha Raditya

Presiden Inter, Kini Juga Urus Olahraga Indonesia
WinNetNews - Erick Thohir, selaku presiden Inter Milan, kian menebarkan pengaruhnya di dunia olahraga Indonesia. Setelah memiliki beberapa klub olahraga ternama baik domestik maupun internasional, Erick kini juga menjadi Ketua Umum KOI yang baru.

Erick kian sukses menuntaskan pendidikan di Amerika Serikat pada awal era 90-an. Pria yang lahir pada 30 Mei pada 45 tahun yang lalu itu mendirikan Mahaka Group sebelum mengembangkan usahanya dengan membeli sejumlah perusahaan media.

Tidak hanya bisnis Erick yang diketahui menggemari olahraga bola basket. Rasa cintanya itu dituangkan dengan membuat klub basket yaitu Mahaka Satria Muda (SM) Jakarta. Di tangan Erick, SM menjadi penguasa liga bola basket nasional berulang kali.

Pada 2009, Erick bersama pengusaha top Malaysia Tony Fernandes, menggagas ABL (ASEAN Basketball League): kompetisi basket antar klub-klub di Asia Tenggara. Di ABL, SM berubah nama menjadi Indonesia Warriors tapi juga berlaga di kompetisi domestik tanpa perubahan nama.

Sepak terjang Erick di arena basket membuatnya dipercaya sebagai Ketua Umum PERBASI (Persatuan Bola Basket Seluruh Indonesia) periode 2006-2010 dan menjabat sebagai Presiden SEABA (Asosiasi Bola Basket Asia Tenggara) selama dua periode pada 2006-2010 dan 2010-2014.

Nama Erick Thohir juga semakin mendunia setelah melakukan gebrakan pada akhir 2011. Erick membeli saham Philadelphia 76ers, yang menjadikan dia sebagai orang Asia pertama yang memiliki sebuah klub NBA.

Pada awal 2012, Erick membuat gebrakan lain. Bersama rekannya, Jason Levien, Erick memiliki D.C United, klub di MLS (Liga Amerika Serikat) dengan membeli 60 persen sahamnya. Menjadi pemilik klub yang berbasis di Washting ton itu, Erick memanfaatkannya dengan membantu perkembangan sepakbola Indonesia dengan turut membawa pemain lokal, Syamsir Alam.

Menuju Olimpiade London, Erick kemudian didapuk sebagai Chief de Misson Kontingen Olimpiade Indonesia. Erick mengusung misi untuk melanjutkan tradisi emas Indonesia di pesta olahraga sedunia itu. Tapi pada akhirnya, 'Merah Putih' gagal setelah hanya meraih dua medali; satu emas dan satu perunggu.

Erick mendapatkan sorotan lebih banyak pada penghujung 2013. Erick resmi membeli klub sepakbola raksasa Eropa, Inter Milan dari pemilik sebelumnya Massimo Moratti sekaligus menjadi presiden baru klub.

Menjadi owner Inter, Erick ditantang untuk mengembalikan kejayaan Nerazurri setelah dalam beberapa musim terakhir terpuruk. Keseriusan Erick membenahi Inter terlihat pada bursa musim panas lalu dengan mengeluarkan nyaris 100 juta euro untuk belanja pemain.

Kini, sebuah tugas besar sekaligus tanggung jawab dihadapkan pada Erick. Setelah terpilih sebagai suksesor Rita Subowo sebagai Ketum KOI, Erick dituntut membawa prestasi Kontingen Indonesia di Olimpiade Rio de Janiero tahun depan dan Asian Games 2018.

"Untuk mencapai kesuksesan di Olimpiade, harus ada beberapa hal yang menjadi kunci," ujar Erick saat berbicara di Detiksport Forum, Agustus lalu.

"Funding menjadi yang pertama, yang kedua komunikasi yang lancar antar semua lini. Yang ketiga adalah persiapan. Karena tidak ada kesempatan untuk memperbaiki persiapan saat sudah berlaga di Olimpiade," imbuhnya.

Menjadi Ketum KOI sekaligus pemilik-presiden klub-klub olahraga dunia pastinya bukan pekerjaan yang mudah bagi Erick. Namun, Erick berjanji tugasnya sebagai Ketum KOI tidak akan terpengaruh.

"Saya ucapkan terimakasih kepada organisasi olahraga yang mendukung maupun tidak mendukung. Menurut saya itu sama saja karena mereka juga yang akan menjadi partner kami ke depan. Saya juga berterimakasih kepada pemerintah," kata Erick, usai pemilihan.

"Saya rasa Komite Eksekutif yang ada di KOI adalah orang-orang yang qualified, apalagi untuk melakukan meeting sekarang ini kan mudah. Ada namanya internet, teleconference, yang mana ke depan pun pasti kita semua akan membangun fasilitas itu. Saya pikir itu bukan kendala."

"Terpenting yang perlu dilakukan saat ini adalah merapatkan barisan untuk saling percaya dan kerjasama terlepas dari pemilihan hari ini. Saya akan berkonsentrasi kepada dua ajang Olimpiade dan Asian Games. Saya mengakui saya pernah gagal di olimpiade. Tentu saya tidak mau gagal untuk kedua kalinya," ujar dia merujuk pada kegagalannya sebagai Chief de Mission Indonesia di Olimpiade London.

 

disadur dari detik

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});