(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Produk H&M & Uniqlo Bahan Bakunya Dari Bekasi Loh!

Rani
Rani

Produk H&M & Uniqlo Bahan Bakunya Dari Bekasi Loh!

winnetnews.com - Adanya koleksi busana sejumlah merek ternama dunia seperti H&M dan Uniqlo ternyata tak lepas dari peran pabrikan kain Indonesia.

Adalah Lucky Textile, perusahaan tekstil yang memasok kain untuk kedua label street-wear internasional tersebut. Pabriknya berlokasi di Cikarang Barat, Bekasi, Jawa Barat.

"Kami telah bermitra dengan Uniqlo dan H&M sejak 1-2 tahun terakhir," ujar Uhandany, General Manager Commercial Lucky Textile, saat ditemui di kantornya di kawasan Bintaro, Tangerang Selatan, Selasa (29/8/2017).

Selain kedua brand tersebut, Lucky Textile yang berada di bawah naungan PT. Lucky Print Abadi juga menangani permintaan IKEA, GAP, Marks & Spancer, dan Banana Republic.

Bermula dari perusahaan yang bergerak di sektor niaga pada 1960an, Lucky Textile terus berkembang seiring menggeliatnya industri garmen Tanah Air dan dunia. "Setiap bulannya, kami memproduksi 1,7 juta yard kain. Servis kami mencakup pewarnaan, percetakan, dan percetakan dengan permintaan khusus," terang Uhandany.

Berbagai inovasi terus dilakukan Lucky Textile untuk memenuhi kebutuhan pasar, salah satunya dengan melansir prediksi tren motif dan warna kain dua kali dalam setahun. Tujuannya untuk memberi referensi kepada klien agar produknya relevan dengan tren fashion yang berlaku setahun mendatang.

Untuk pertama kalinya, Lucky Textile mempresentasikan prediksi tren tersebut kepada klien, media, dan sekolah fashion dalam sebuah trunk show di markasnya, Selasa. 'Evolution Round the Age' menjadi tema besar untuk tren busana Fall-Winter 2018/2019 yang ditampilkan itu.

"Kami tidak mau sekadar memproduksi kain saja, tapi juga memberi nilai tambah pada produk kami," kata Uhandany.

Inovasi lain juga mencakup rencana penjualan produk dalam skala kecil untuk mengakomodasi kebutuhan desainer lokal demi memajukan industri fashion Tanah Air.

Selama ini banyak desainer Indonesia yang lebih memilih produk impor karena dapat dibeli dalam jumlah kecil sesuai keperluan. Sementara itu, pabrikan kain Indonesia pada umumnya hanya menjual produk dalam skala besar. Uhandany berharap, rencana tersebut sudah dapat terealisasi sebelum akhir tahun.

 

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});