Produsen Kopi Dipaksa Putar Otak Hadapi Krisis Pandemi Covid-19

Khalied Malvino

Dipublikasikan setahun yang lalu • Bacaan 2 Menit

Produsen Kopi Dipaksa Putar Otak Hadapi Krisis Pandemi Covid-19
Kopi Cap Bueuk, kopi asal Pangandaran, Barat. (Foto: Tokopedia)

Winnetnews.com -  Produksi kopi Pangandaran kian menurun setelah diterpa pandemi virus corona. Kendala ini bisa semakin mengancam para petani dan pedagang kopi semakin terpuruk sewaktu-waktu jika tidak dipaksa untuk memutar otak.

Dikutip Ayobandung, Selasa (28/7), Tarli Sutarli (42), seorang petani dan pedagang kopi dengan merk Kopi Cap Bueuk menjelaskan, perkembangan kopi di Pangandaran masih menghadapi berbagai rintangan.

“Kita punya volume (sumber daya) kopi yang banyak, tapi kualitasnya masih jelek. Kalau dihitung secara persentase, kopi yang spesial atau fine robusta itu baru di kisaran 10%, 90% sisanya adalah kopi asalan atau kualitas standar,” kata Tarli.

Selain itu, rintangan lainnya yaitu dampak wabah corona. Kopi Cap Bueuk yang sudah dia dirikan sejak tahun 2012 mengalami penurunan omzet cukup tajam.

“Penurunan omzet saya bisa mencapai 40% dari biasanya ketika keadaan normal,” ucap Tarli.

Kedai kopi yang didirikannya pun bangkrut akibat pandemi corona. Karena itu, Tarli mengandalkan produk usahanya yang lain, seperti biji kopi atau green bean, kopi bubuk, dan kopi instan kemasan.

Tidak hanya Tarli, secara umum, kata dia, petani dan pelaku usaha kopi di Pangandaran juga mengalami penurunan tingkat kesejahteraan selama pandemi ini.

Menurut Tarli, kebanyakan kedai-kedai kopi di Pangandaran sepi, hampir tidak ada pengunjung, sirkulasi barang kopi ke para konsumen juga terhambat, dan harga produk pun ikut menurun.

“Harga kopi tahun lalu paling rendah mencapai Rp18.000, sekarang malah turun jadi Rp15.000,” kata Tarli.

Karena penurunan penghasilan tersebut, banyak petani dan pedagang kopi di Pangandaran mengambil pekerjaan sampingan, seperti buruh tani, tukang pikul kayu, dan lain-lain.

Tarli berharap pemerintah dapat memberikan perhatian kepada petani dan pedagang kopi di Pangandaran. Tarli merasa perhatian, perhatian pemerintah terhadap kalangannya masih belum terasa.

“Harapan saya ke depan kopi Pangandaran makin baik kualitasnya dan pemerintah bisa fokus menyejahterakan petani, tidak hanya hadir, tapi fokus mengurus petani. Kalau pemerintah fokus, petani kopi bisa makin maju dan berkualitas karena kita sudah punya sumber daya yang melimpah,” kata Tarli.

Share This Story

RELATED ARTICLE

Loading interface...