Skip to main content

Profil R.A. Kartini, Sang Pejuang Emansipasi Wanita

Profil R.A. Kartini, Sang Pejuang Emansipasi Wanita
Profil R.A. Kartini, Sang Pejuang Emansipasi Wanita

WinNetNews.com - Kamu sudah tahu belum kalau hari ini hari apa? Hari ini 137 tahun silam Raden Adjeng Kartini lahir di Jepara. Raden Adjeng Kartini atau yang sering disebut dengan R.A. Kartini dikenal sebagai tokoh pahlawan Nasional yang memperjuangkan emansipasi wanita secara gigih. Oleh sebab itu untuk menghormati jasa-jasanya, Rakyat Indonesia setiap tahun memperingati tanggal 21 April sebagai hari Kartini.

R.A. Kartini lahir pada tahun 1879 dari kalangan Priyai atau bangsawan. Ayahnya bernama R.M. Adipati Ario Sosroningrat, putra dari Pangeran Ario Tjondronegoro IV, seorang bangsawan yang menjabat sebagai Bupati Jepara. Ayah kartini diangkat sebagai Bupati Jepara setelah Kartini lahir.

Ibu Kartini yang bernama M.A Ngasirah adalah anak dari seorang kiai di Telukawur, Kota Jepara. Meski demikian ibu Kartini bukan berasal dari keturunan bangsawan, melainkan berasal dari rakyat biasa. Oleh sebab itu, meskipun Ibu Kartini adalah istri pertama dari R.M. Adipati Ario Sosroningrat, tetapi beliau bukanlah menjadi istri utama.

Peraturan yang dibuat oleh kolonial Belanda kala itu mengharuskan seorang Bupati menikah dengan sesama bangsawan. Akhirnya ayah Kartini mempersunting seorang wanita bernama Raden Adjeng Woerjan yang merupakan keturunan langsung dari Raja Madura pada saat itu.

Sementara itu, kakek R.A. Kartini, Pangeran Ario Tjondronegoro IV, dikenal sebagai Bupati pertama di pertengahan abad 19 yang memberikan pendidikan barat kepada anak-anaknya.

R.A. Kartini sendiri memiliki saudara berjumlah 11 orang yang terdiri dari saudara kandung dan saudara tiri. Beliau sendiri merupakan anak kelima, namun ia merupakan anak perempuan tertua dari 11 bersaudara. Sebagai seorang bangsawan, R.A Kartini juga berhak memperoleh pendidikan.

Ayahnya kemudian menyekolahkan Kartini kecil di ELS (Europese Lagere School). Disinilah Kartini kemudian belajar Bahasa Belanda dan bersekolah disana hingga Beliau berusia 12 tahun saja, sebab menurut kebiasaan ketika itu, anak perempuan pada usia tersebut sudah harus tinggal dirumah untuk 'dipingit'.

Kegigihan R.A. Kartini Memperjuangkan Emansipasi Wanita

Lalu gimana sih ceritanya, kok R.A. Kartini bisa dikenal sebagai pejuang emansipasi wanita? Emansipasi menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia)adalah pembebasan dari perbudakan, persamaan hak di berbagai kehidupan masyarakat. Sedangkan emansipasi wanita ialah proses pelesapan diri para wanita dari kedudukan sosial ekonomi yang rendah atau dari pengekangan hukum yang membatasi kemungkinan untuk berkembang dan untuk maju.

Ternyata, meskipun berada di rumah, R.A. Kartini tetap aktif menulis surat dengan teman-temannya yang ada di Belanda. Hebatnya, meskipun orang jawa, R.A. Kartini juga fasih berbahasa Belanda. Beliau juga suka membaca buku, surat kabar dan majalah. Nah dari sinilah, Kartini mulai tertarik dengan pola pikir perempuan Eropa.

Kemudian terbesitlah ide di dalam benak Kartini untuk berusaha memajukan perempuan-perempuan pribumi. Menurutnya kala itu kedudukan wanita pribumi masih tertinggal jauh alias memiliki status sosial yang rendah.

image0

Kartini bersama suaminya, R.M.A.A. Singgih Djojo Adhiningrat (1903) - Sumber Gambar Wikipedia

R.A Kartini banyak membaca surat kabar atau majalah-majalah kebudayaan eropa yang berbahasa belanda, di usiannya yang ke 20, Beliau bahkan banyak membaca buku-buku karya Louis Coperus yang berjudul De Stille Kraacht, karya Van Eeden, Augusta de Witt serta berbagai roman-roman beraliran feminis yang kesemuanya berbahasa belanda, selain itu Beliau juga membaca buku karya Multatuli yang berjudul Max Havelaar dan Surat-Surat Cinta.

Karena banyak membaca, pengetahuan Kartini cukup luas, khususnya di bidang ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Kartini memberi perhatian khusus mengenai emansipasi wanita. Menurut Beliau seorang wanita perlu memperoleh persamaan, kebebasan, otonomi, dan kesetaraan hukum.

Sebagian besar surat-surat yang Kartini tulis berisi keluhan-keluhan tentang kondisi wanita pribumi. Kartini mengungkap ada banyak kendala yang dihadapi oleh wanita di Jawa agar bisa lebih maju. Selain itu, tulisan-tulisan Kartini juga berisi tentang makna ketuhanan, kebijaksanaan dan keindahan, perikemanusiaan dan Nasionalisme.

Salah satu penderitaan wanita di Jawa menurut Kartini adalah harus dipingit pada usia tertentu, serta tidak bisa bebas dalam menuntut ilmu atau belajar, serta ada beberapa adat yang mengekang kebebasan perempuan.

Di era modern saat ini wanita-wanita di Indonesia sudah bisa merasakan bangku sekolah tanpa batas. Bisa bebas berkarir memilih profesi yang diinginkan sesuka hati, bahkan bisa juga jadi Presiden. Nah inilah salah satu cita-cita luhur dari R.A. Kartini.

Teman wanita Belanda nya Rosa Abendanon, dan Estelle "Stella" Zeehandelaar juga mendukung pemikiran-pemikiran yang diungkapkan oleh R.A Kartini. Berdasarkan informasi yang dihimpun dari berbagai sumber, Kartini memiliki seorang kakak lak-laki bernama Sosro Kartono. Kakak Kartini ini adalah seorang yang pandai di bidang bahasa. Sosro Kartono banyak mengusai bahasa-bahasa asing. Kabarnya Sosro Kartono juga punya andil besar terhadap usaha Kartini dalam memperjuangkan emansipasi wanita di tanah Jawa.

Baca juga: Mengenal RMP Sosrokartono, Kakak RA Kartini

Sejarah mengatakan bahwa Kartini diizinkan oleh ayahnya untuk menjadi seorang guru sesuai dengan cita-cita namun Beliau dilarang untuk melanjutkan studinya untuk belajar di Batavia ataupun ke Negeri Belanda.

Hingga pada akhirnya, Beliau tidak dapat melanjutanya cita-citanya baik belajar menjadi guru di Batavia atau pun kuliah di negeri Belanda meskipun ketika itu ia menerima beasiswa untuk belajar kesana sebab pada tahun 1903 pada saat R.A Kartini berusia sekitar 24 tahun, Beliau dinikahkan dengan K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat yang merupakan seorang bangsawan dan juga bupati di Rembang yang telah memiliki tiga orang istri.

Meskipun begitu, suami R.A Kartini memahami apa yang menjadi keinginan R.A KArtini sehingga ia kemudian diberi kebebasan untuk mendirikan sekolah wanita pertama yang kemudian berdiri di sebelah kantor pemerintahan Kabupaten Rembang yang kemudian sekarang dikenal sebagai Gedung Pramuka.

Nah shobat Winnet, begitulah kisah singkat dari R.A. Kartini. Bersyukur ya kita saat ini bisa menikmati buah perjuangan beliau. Untuk menghargai perjuangan Beliau, disamping memakai baju kebaya pada setiap tanggal 21 April, kita juga harus terus berkarya dalam membangun bangsa Indonesia. Meskipun kita sudah diberi kebebasan sebagai wanita, jangan sampai kita menyalah artikan kebebasan itu. Jangan sampai kebablasan ya Shobat! Selamat hari Kartini! Semangat Wanita Indonesia!

Sumber: Biografiku

Foto: Bintang

Apa pendapat Anda mengenai artikel ini?

Loading Rating...

Komentar:

Loading...
Top