Psikiater Beberkan Tips Cegah Sikap ‘Ngegas’ ala Arteria Dahlan
Arteria Dahlan (foto: Detik)

Psikiater Beberkan Tips Cegah Sikap ‘Ngegas’ ala Arteria Dahlan

Jumat, 11 Okt 2019 | 11:40 | Amalia Purnama Sari

Winnetnews.com - Sikap Arteria Dahlan di sebuah acara televisi belakangan ini memang menyita perhatian warganet dan media. Politisi Fraksi PDI Perjuangan tersebut menuai cemooh publik usai melakukan aksi ‘tidak pantas’ terhadap Guru Besar Pascasarjana Universitas Indonesia, Emil Salim.

Hal ini lantas menjadi sorotan oleh pakar jiwa. Salah satu psikiater dari UbudCare Clicnic, dr. I Gusti Rai Putra Wiguna SpKJ menyebut jika marah dan hilang kendali termasuk ciri yang ditemukan pada orang dengan masalah kejiawaan.

“Marah yang terlalu hebat dan sering muncul tentu sangat menganggu sehingga perlu melakukan anger management. Perlu berkonsultasi dengan psikiater atau psikolog klinis untuk mempercepat pemulihan. Namun jangan langsung menilai jika pergi ke psikolog merupakan tanda bahwa diri kita mengalami gangguan jiwa. Pergi ke psikolog atau psikiater merupakan salah satu langkah untuk memperbaiki kapasitas diri kita,” jelas Gusti, dikutip dari Detik Health, Jumat (11/10).

Gusti juga menyarankan anger management kepada Arteria supaya tetap memiliki kendali dan fokus. Hal ini dikarenakan marah adalah ekspresi sekunder yang diperoleh dari ekspresi primer. Misalnya adalah marah karena jengkel, merasa tidak aman, frustasi, atau lainnya.

image0
Arteria Dahlan dan Emil Salim (foto: dok. Trans 7)

Seniman Sudjiwo Tedjo pernah menyinggung oerihal kesopanan kepada orantua. Ia berpendapat bahwa orang tua pada dasarnya tidak boleh dikasari. Hal yang sama dikemukakan oleh Gusti. Ia menyebut bahwa dalam berdebat dengan orang tua, untuk mengurangi kesan tidak sopan, orang dapat mencoba pola I-message.

“Gesture komunikasi jadi kesannya tidak sopan. Hal tersebut bisa diperbaiki memaikai pola I-message.Ini artinya pernyataan selalu menggunakan kata I atau saya. Contoh: Saya merasa jengkel kalau bapak berusaha menyesatkan informasi,” jelas Gusti.

Menurut Gusti, pola I-message ini bisa memberikan jeda pada otak untuk lebih bisa mengenali perasaan kita sendiri dan membuat lawan bicara lebih bisa mendapatkan pesannya. Contohnya adalah dengan menggunakan kalimat “Saya merasa marah dengan pernyataan Bapak tentang...”.

“Iya debat yang baik harus menyasar pada metode I-message. Contohnya seperti perdebatan kemarin yang mendatangkan Budiman dan Dhandy. Secara perdebatan mereka memang panas, namun cara yang disampaikan terasa adem. Kita bisa menilai bahwa sesorang marah pada kondisi wajar, bisa dilihat pada sasaran orangnya, tingkat yang tepat, dan situasi yang tepat. Namanya komunikasi dua arah. Saat orang berkomunikasi dengan orang yang sedang marah, maka kita tidak punya kendali diri yang baik. Hal itu yang memicu kita untuk ikut-ikut marah,” beber Gusti.

 

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...