Psikolog: #KamiTidakTakut Lebih Baik Diganti #KamiBerani

Psikolog: #KamiTidakTakut Lebih Baik Diganti #KamiBerani

Jumat, 15 Jan 2016 | 13:47 | kontri
WinNetNews.com - Tanda pagar #KamiTidakTakut menjadi simbol perlawanan netizen terhadap aksi teror di Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, kemarin pagi. Tapi bagi sebagian orang, sulit untuk tidak panik menghadapi kondisi yang begitu mencekam.

"Munculnya rasa takut itu alamiah, nggak apa-apa merasa takut. Takut itu normal," kata Liza Marielly Djaprie, psikolog dari Sanatorium Dharmawangsa, Jakarta Selatan, Jumat (15/1/2016).

Menurut Liza, emosi adalah sesuatu yang netral dan tidak perlu dipungkiri. Rasa takut, dan mungkin juga marah terhadap pelaku, adalah sesuatu yang wajar muncul dalam tragedi seperti yang terjadi Kamis kemarin di Jakarta. Tidak ada istilah benar atau salah saat seseorang mengalaminya.

Budaya untuk memendam emosi, menurut Liza berpotensi untuk memunculkan penumpukan yang berlarut-larut. Pada saatnya, emosi yang menumpuk bisa meledak dan berdampak pada kondisi kejiwaan seseorang.

"Saya banyak menangani pasien yang mengalami penumpukan emosi, sehingga memicu gangguan kejiwaan. Numpuk, lalu akhirnya depresi," kata Liza.

Walau demikian, kampanye bangkit melawan terorisme melalui tanda pagar #KamiTidakTakut juga punya pesan positif. Hanya saja, Liza berpendapat bahwa sugesti akan lebih efektif jika disampaikan dengan kata-kata positif.

Dibandingkan 'kami tidak takut', Liza lebih menyarankan 'kami berani' atau semacamnya. Menurutnya, teori Neuro-linguistic programming (NLP) menyebut bahwa sugesti memang lebih baik dibuat menggunakan kata-kata positif.

"Sama seperti anak kecil. Kalau dilarang-larang; jangan pegang panci panas, dalam kepalanya malah muncul sugesti untuk memegang. Dengan sugesti 'kami tidak takut', amit-amit kalau suatu saat terjadi teror serupa, khawatirnya justru muncul rasa takut," jelas Liza.

(dilansir dari detik)

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...