Psikologi Pelaku yang Dikebiri Dikhawatirkan Bertindak Lebih Agresif

Psikologi Pelaku yang Dikebiri Dikhawatirkan Bertindak Lebih Agresif

WinNetNews.com - Tindak kekerasan terhadap anak di Indonesia kini semakin memprihatinkan. Kasus terakhir yang menghebohkan adalah kasus pembunuhan bocah dalam kardus, sebelumnya juga sempat ramai diperbincangkan tentang kasus pembunuhan Engeline, penelantaran anak di Cibubur, dan pelecehan seksual oleh oknum guru, serta berbagai kasus kekerasan terhadap anak lainnya.

Pemerintah telah memberikan isyarat akan membuat rumusan hukuman tambahan untuk pelaku kejahatan seksual pada anak, yakni hukuman kebiri terhadap syaraf libido tersangka. Presiden Joko Widodo pun sudah menyetujui pemberian hukuman kebiri terhadap pelaku pelecehan seksual terhadap anak. 

"Munculnya kekerasan seksual terhadap anak, beliau setuju pengebirian syaraf libido. Mungkin nanti akan segera terbit Perppu," ujar Mensos Khofifah Indar Parawansa usai rapat di Istana Negara, Jl Veteran, Jakarta Pusat, Selasa (20/10/2015).

Banyak kalangan berkomentar terkait rencana penambahan hukuman untuk para pelaku kejahatan seksual terhadap anak. Salah satunya adalah Seto Mulyadi, aktivis pemerhati anak. Menurut pria yang sering disapa Kak Seto ini, hukuman ekstrim tersebut harus dipertimbangkan dengan matang. Menurutnya hukuman kebiri ini bisa menjadikan pelaku pelecehan seksual bertindak semakin agresif.

Baca juga artikel: [Video] UNICEF Anti Kekerasan Terhadap Anak

"Mohon ini dipertimbangkan berdasarkan aspek kesehatan dan psikologisnya. Psikologi pelaku yang dikebiri nantinya dikhawatirkan justru bisa bertindak lebih agresif. Jadi dia bukan menyasar sekadar kekerasan seksual, tapi menyasar kekerasan segala-galanya," kata Kak Seto kepada wartawan usai melakukan diskusi dengan jajaran PMJ, di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Rabu, (21/10/15).

Kak Seto khawatir bahwa apabila nantinya pelaku yang mendapat hukuman kebiri akan membalas dendam. “Jangan sampai pengebirian bisa melipat gandakan jumlah korban. Itu yang harus dipertimbangkan," terang Seto.

Kak Seto berpendapat bahwa hukuman yang lebih tepat adalah hukuman seumur hidup sembari dilakukan pembinaan. Jangan sampai nantinya pelaku pedofil justru menciptakan kondisi yang tidak lebih aman bagi anak-anak Indonesia.