Ramai Seorang Wanita Ngamuk Dipanggil Nenek di KRL, Begini Kata Psikolog
Seorang wanita marah di KRL (sumber: kabarin.co)

Ramai Seorang Wanita Ngamuk Dipanggil Nenek di KRL, Begini Kata Psikolog

Selasa, 10 Sep 2019 | 11:30 | Amalia Purnama Sari

Winnetnews.com - Baru-baru ini media sosial dikejutkan dengan adanya video seorang wanita yang marah-marah di KRL Wanita tersebut marah karena penunmpang KRL disebelahnya memanggilnya dengan sebutan ‘Nenek’.

Dalam video berdurasi 46 detik yang dibagikan di akun Facebook Dian Widyanarko pada Senin (09/09) tersebut menunjukkan bahwa wanita tersebut marah dan berupaya menginjak kaki penumpang di sebelahnya.

“Bu, jangan ngajak ribut dong,” celetuk wanita berkacamata.

“Kau yang duluan,” sengit si wanita.

Keduanya lantas terlibat dalam perdebatan hebat. Si wanita mengaku bahwa ia tersinggung dipanggil nenek, sedangkan wanita berkacamata di sebelahnya melakukan pembelaan diri bahwa dirinya tidak bermaksud untuk mengejek dengan sebutan ‘nenek’. Pertengkaran keduanya berhenti saat petugas keamanan datang.

Melihat video viral tersebut, Linda Setiawati, M.Psi, psikolog dari Personal Growth mengungkapkan bahwa streotipe pada orang tua (dalam kasus ini adalah imej ‘nenek’) sering dikaitkan dengan sosok yang tidak lagi menarik secara penampilan, memiliki kesehtan dan kemampuan buruk, serta memiliki ketidakberdayaan yang besar. Hal ini yang sering membuat orang menjadi sensitif akan panggilan tersebut.

Ia menjelaskan bahwa seseorang akan jadi lebih sensitif terkait sebutan atau hal tertentu yang disampaikan terkait dirinya. Namun meskipun demikian, Linda menyarankan kepada setiap orang untuk bisa menyampaikan rasa keberatan atau ketidaksukaan akan sesuatu menggunakan bahasa yang sopan.

“Seperti contoh ‘mohon maaf, saya kurang suka dengan cara Anda memanggil saya...’ atau dengan bahasa lainnya, seperti itu,” ujar Linda, dilansir dari Detik.com, Selasa (10/09).

Selian Linda, seorang psikolog keluarga, Nuzulia Rahma Trstinarum, juga ikut memberikan penjelasan terkait mengapa wanita lebih sensitif terhadap ujaran demikian.

Menurut Nuzulia, perempuan itu memang pada dasarnya mempunyai fitrah untuk senang pada hal-hal yang membuat diri mereka cantik. Kedua, anak perempuan sudah diperlakukan berbeda dalam hal penampilan.

Namun Nuzulia mengungkapkan jika porsi tersebut harus dalam batas yang normal dan wajar. “Selama masih biasa dan tidak berlebihan itu wajar. Kalau sudah tidak karuan itu berarti ada proses psikologi yang tidak beres,” pungkas Nuzulia.

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...