Ramai Tanggapan Soal Anies Bicara Keutamaan Narasi, Dinilai Sindir Presiden
Anies Baswedan (Foto: Merah Putih)

Ramai Tanggapan Soal Anies Bicara Keutamaan Narasi, Dinilai Sindir Presiden

Minggu, 15 Des 2019 | 13:40 | Sofia Citradewi

Winnetnews.com - Pesan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan ke millenial yang menekankan pentingnya kata-kata dalam menjalankan sebuah aksi, menuai berbagai spekulasi. Ia dinilai menyindir Presiden Jokowi yang pemerintahannya identik dengan kata “kerja, kerja, kerja”. Sebab Anies menyatakan kalau hanya kerja, “you go nowhere” dalam acara Millenial Fest 2019, di Balai Sarbini, Jakarta Pusat, pada Sabtu (14/12) lalu.

Mengenai hal itu, Staf Khusus (Stafsus) Presiden Joko Widodo (Jokowi) Diaz Hendropriyono justru meyakini pernyataan Anies yang menyebut suatu gagasan harus dinarasikan dengan kuat, baru setelah itu diimplementasikan dengan kerja, bukan merupakan sindiran untuk Jokowi. Diaz mengaku mengenal Anies sebagai sosok yang santun.

"Yang pertama, saya yakin bahwa pernyataan tersebut bukan untuk menyindir Pak Jokowi. Karena Pak Gubernur adalah bagian dari pemerintahan dan saya kenal sebagai pribadi yang santun. Apalagi bahwa selaku gubernur, mekanisme resmi untuk memberikan laporan dan masukan ke pemerintah pusat sudah ada, yakni melalui Mendagri," kata Diaz kepada wartawan, Minggu (15/12/2019), seperti dikutip Detik.com.

"Kedua, yang diperlukan saat ini adalah kerja sama erat antara pemerintah pusat dan daerah, sinergi lintas sektoral, dan kerja nyata sebagai pengejawantahan narasi besar visi Presiden RI," tambahnya.

Pada dasarnya Diaz sependapat dengan Anies bahwa narasi memang perlu diciptakan. Namun menurutnya jangan sampai hanya fokus pada narasi juga yang justru jadi melupakan kerja nyata.

"Dan yang harus digarisbawahi adalah bahwa narasi memang perlu dibangun. Namun jangan sampai kita hanya fokus membangun narasi dan melupakan hal yang lebih penting, yaitu kerja nyata. Artinya, jangan lupa juga bahwa narasi tanpa action akhirnya 'you go nowhere' juga, atau 'no action talk only'," ucapnya.

Dianggap tidak cocok jadi Presiden

Sementara itu, politisi Ketua DPP NasDem Irma Suryani Chaniago punya tanggapan yang bertolak belakang dengan Diaz. Merespon pernyataan Anies tersebut, Irma balik menyindir Anies dengan menyebut bahwa akademisi tak cocok menjadi kepala daerah, apalagi presiden.

"Begini, itulah bedanya pendidik dan tukang kayu atau pengusaha. Pendidik bicara teori, sedangkan tukang kayu action (kerja). Makanya banyak ilmuwan atau akademisi nggak cocok jadi politisi atau jadi pimpinan wilayah, daerah, apa lagi presiden," kata Irma pada Sabtu (14/12/2019).

Anies sendiri diketahui pernah menjabat sebagai rektor Universitas Paramadhina. Dia pula yang yang menjadi pelopor gerakan Indonesia Mengajar.

Irma lalu menjelaskan mengapa akademisi tidak cocok menjadi kepala daerah. Menurutnya, karena akademisi harus lebih dulu membuat narasi. Sementara seorang pemimpin dituntut bekerja cepat.

"Kenapa (akademisi nggak cocok jadi kepala daerah)? Karena rata-rata mereka bicara teori dan juga mengadvokasi, sehingga ketika diminta jadi pemimpin atau jadi pimpinan kurang cocok, karena akan jadi lamban (karena harus bikin narasi lebih dulu dan lain-lain, juga kurang berani/banyak pertimbangan). Sedangkan menjadi pimpinan atau pemimpin selain harus cepat, juga harus berani," jelasnya.

Irma juga berpendapat bahwa seorang pendidik tak biasa kerja dengan tim. Hal itu juga yang menurutnya menjadi penyebab mengapa pendidik tidak cocok menjadi pemimpin.

"Seorang pemimpin selain harus berani, tentu juga punya perhitungan yang matang dalam mengambil keputusan, karena mereka juga gunakan SWOT (strength, weakness, opportunities, dan threats) dalam melaksanakan program kerja," ucap Irma.

"Pemimpin tidak bekerja sendiri. Pemimpin punya tim, sementara pendidik biasanya one man show. Itu kenapa jadi kurang maksimal ketika beralih fungsi jadi politisi atau pemimpin. Karena pendidik terbiasa memberi saran dan dimintai saran," pungkasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan berbicara mengenai kekuatan kata-kata saat menghadiri Millennial Fest 2019 di Jakarta. Anies mencontohkan aktivis lingkungan asal Swedia, Greta Thunberg, yang terpilih menjadi Person of the Year untuk 2019 versi majalah Time.

"Apa ya yang sebenarnya menarik dari inspirasi, kata-kata. Karena sering kali, akhir-akhir ini, kata-kata dianggap nggak penting yang penting kerja. Rileks dulu rileks. Kenapa ini menjadi sesuatu? Tahukah Anda siapa yang jadi person of the year tahun 2019 di majalah Time. Bikin apa dia? Bikin movement pakai apa? Kata-kata. Namanya siapa? Greta dari Swedia. Umurnya 16 tahun," kata Anies saat berbicara di acara Millennial Fest 2019 di Balai Sarbini, Jakarta Pusat, Sabtu (14/12).

Anies juga menegaskan aksi dan karya harus disertai narasi yang kuat.

"Jangan pernah remehkan kata-kata, ini semua disampaikan pakai kata-kata, kalau kata-kata nggak penting, tutup online itu, media tutup, TV tutup, karena di situ ada pesan dengan naratif, jadi teman-teman ini harus diwujudkan ujungnya pada aksi. Jangan sampai action tanpa narasi, you go nowhere," jelasnya. [dtc]

 

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...