Rambut Anaknya Dipotong Guru Tanpa Izin, Pria Ini Gugat Sekolah Rp14 M

Nurul Faradila

Dipublikasikan 3 bulan yang lalu • Bacaan 1 Menit

Rambut Anaknya Dipotong Guru Tanpa Izin, Pria Ini Gugat Sekolah Rp14 M
Foto: Pexels/Cottonbro

Winnetnews.com -  Seorang ayah asal Michigan, Amerika Serikat, mengugat sekolah putrinya dan meminta mereka membayar USD1 juta (Rp14 miliar), karena telah memotong rambut tanpa persetujuan.

Gugatan tersebut diajukan pada 14 September di pengadilan federal Michigan, oleh Jimmy Hoffmeyer atas nama putrinya Jurnee Hoffmeyer, dilansir dari The Guardian. Dalam gugatan tersebut, ia menyebut kalau sekolah telah melanggar hak sipil putrinya dan mendiskiriminasikan dia secara ras dan etnis.

Jimmy Hoffmeyer, seorang pria berkulit hitam, mengatakan rambut putrinya sengaja dipotong oleh temannya di bus sekolah pada Maret lalu. Dia kemudian membawa putrinya ke salon untuk memperbaiki potongan, namun beberapa hari berikutnya, rambut anak tersebut hampir habis karena dipotong oleh pihak sekolah, yang berkulit putih.

“Saya bertanya apa yang terjadi dan berkata, ‘Saya pikir saya sudah memberi tahu kamu bahwa tidak ada anak yang boleh memotong rambut kamu.’ Dia berkata, ‘Tapi ayah, itu (karena) gurunya.’ Guru memotong rambutnya untuk meratakannya,” kata Jimmy Hoffmeyer kepada AP.

Pustakawan dan guru di sekolah Mount Pleasant, diduga adalah oknum yang memotong rambut Jurnee. Pada Juli lalu, dewan pendidikan sekolah tersebut mengatakan guru yang memotong rambut masih dipekerjakan, tapi telah ditegur.

Mereka menyebut kalau tida ada bukti bahwa tindakan tersebut dimotivasi oleh bias rasial. Namun, tindakan tersebut tetap dianggap melanggar kebijakan sekolah.

Guru yang diduga memotong rambut, mendapat teguran terakhir dan akan diberhentikan jika melanggar lagi, kata pejabat sekolah. Pengajar lain yang tahu hal ini tapi tak melaporaknnya, telah meminta maaf.

Meski begitu, Jimmy Hoffmeyer mengatakan kalau respon dari pihak sekolah tidak bisa diterima.

“Ini masalah serius dan seharusnya ditanggapi serius oleh distrik sekolah. Mereka dibayar untuk mengajar, bukan menjadi tukang cuku pada hari itu untuk membentuk rambut anak dengan cara yang mereka anggap dapat diterima,” tutur Shawndrica N Simmons, pengacara Jimmy Hoffmeyer.

Share This Story

RELATED ARTICLE

Loading interface...