Rehab Gedung SMPN 238 Tiga Tahun Mangkrak, Kok Ahok Tidak Marah!

Rehab Gedung SMPN 238 Tiga Tahun Mangkrak, Kok Ahok Tidak Marah!

WinNetNews.com – Molornya proyek rehab total gedung SMPN 238 di Jalan Kalibata VI, Kelurahan Duren Tiga, Pancoran, Jakarta Selatan sejak 2013 membuat siswa kini merasa jenuh. Pembangunan mangkrak karena pemborong tidak ada dana menggaji tukang.

“Sudah tiga tahun saya dan teman-teman mengungsi di sekolah ini (SDN Duren Tiga 14 Pagi). Kami sudah jenuh,” keluh Nanda, siswa kelas IX SMPN 238 saat disambangi sebelum mulai belajar di SDN Duren Tiga 14 Pagi, Rabu (6/1) siang.

Siswi ini mengaku sejak diterima di SMPN 238 harus puas menumpang belajar di SDN Duren Tiga 14 Pagi yang tepat bersebelahan dengan SMPN 238. Namun mereka harus mengalah dengan masuk sekolah seusai bubaran siswa SD.

Kalangan orangtua juga resah dan mengaku dengan sekolah siang berdampak pada kualitas belajar. “Saya jadi prihatin anak saya sebentar lagi mau Ujian Nasional, tapi jika masuk siang terus berpengaruh terhadap konsentrasi belajar,” tandas Darwin, warga Pancoran.

Kepala SMPN 238, Ita menegaskan pihaknya menolak menempati sekolah sebelum pengerjaan rehab tuntas 100 persen. Sekolah ini memiliki 602 siswa. “Kami berharap pemborong segera merampungkan proyek rehab sekolah ini yang sudah berlangsung sejak 2013,” ujarnya.

Sekolah ini pertama dibangun ulang pada 2013 tapi mangkrak pada 2014 karena tidak ada anggaran. Tahun ini pembangunan dilanjutkan kembali dengan menghabiskan biaya belasan miliar rupiah.

Ia menjelaskan sejak 2013 kegiatan belajar mengajar dialihkan ke SDN Duren Tiga 14 dan SDN Duren Tiga 13/15 yang berada di dalam satu komplek.

Pantauan di lokasi, pembangunan gedung berlantai 3 ini tinggal penyelesaian akhir (finishing). Seperti merapihkan sejumlah ruangan di setiap lantai. Halaman depan, bagian samping dan pagar depan masih berantakan.

Sejumlah tukang mengaku kini resah karena sejak sebulan tidak digaji oleh mandor. Sebagian memilih pulang kampung itupun karena dikirim ongkos dari istri dan kerabat.

“Kami sudah dicekal tidak boleh lagi ngutang warung nasi dan warung rokok karena utang menumpuk Rp8,5 juta. Pemborong melalui mandor selalu ngumbar janji gaji kami akan dibayar besok dan besok,” kata Satim, asal Balaraja.

Satim dan sejumlah rekan lainnya memilih bertahan di proyek itu meski harus menahan lapar karena tidak punya uang. Mereka sepakat jika sudah mendapatkan haknya, akan segera hengkang.

Secara terpisah, Kepala Seksi Sarana dan Prasarana Dinas Pendidikan DKI, Sarjdoko menjelaskan pihaknya menerapkan denda satu permil perhari dari nilai kontrak akibat keterlambatan penyelesaian rehab total. “Kontraktor juga harus memberikan uang jaminan senilai pekerjaan yang belum dilaksanakan,” jelasnya.