Relokasi PKL Jadi Masalah Baru di BKT yang Harus Diselesaikan
Sumber : Istimewa

Relokasi PKL Jadi Masalah Baru di BKT yang Harus Diselesaikan

Senin, 21 Mei 2018 | 05:01 | Oky

Winnetnews.com - Pengerjaan normalisasi Sungai Banjir Kanal Timur (BKT) terus dikebut untuk mengejar target percepatan selesai pada akhir 2018 ini.

Dari data pekerjaan telah menunjukan progres yang melebih jadwal yang ditentukan.

Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana, Ruhban Ruzziyatno menyebutkan, proyek normalisasi yang dimulai dari muara Sungai BKT hingga Jembatan Mapajahit, terbagi tiga paket.

Adanya percepatan yang dilakukan, progres ketiga paket menunjukkan hasil yang menggembirakan.

"Dari proyek normalisasi sungai sepanjang itu terbagi atas tiga paket pekerjaan dan hasil evaluasi yang kami lakukan semuanya menunjukkan progres positif," kata Ruhban, Minggu (20/5/2018).

Dijelaskan, normalisasi sungai BKT dikerjakan dalam tiga paket yang dimulai Desember 2017 sampai 2019. Paket 1 dimulai dari muara sungai hingga jembatan kereta api dengan panjang 1,95 kilometer dan nilai kontrak Rp 107,87 miliar.

Paket 2, dari jembatan kereta api hingga Jembatan Citarum dengan panjang 2,05 kilometer dan nilai kontrak Rp 169,33 milliar.

Sedangkan paket 3, dari Jembatan Citarum hingga Jembatan Majapahit dengan panjang 2,7 kilometer dan nilai kontrak Rp 187,09 miliar.

Ketiga paket tersebut dikerjakan oleh tiga kontraktor yang berbeda. Sehingga pelaksanaanya bisa serentak atau berbarengan.

Hal itu dilakukan karena adanya percepatan pembangunan agar BKT bisa segera menanggulangi masalah banjir yang saat ini bersifat mendesak.

"Untuk paket pertama, realisasi pengerjaan sudah mencapai 3,551 persen dari rencana kerja yang ditetapkan hanya sebesar 2,574 persen.

Paket kedua, dari rencana sebesar 2,89 persen sudah tercapai 5,13 persen, dan paket ketiga pengerjaan sudah mencapai 5,078 persen dari rencana 4,515 persen," jelasnya.

Ruhban mengatakan, pengerjaan proyek normalisasi saat ini sebagian besar masih pengerukan sedimentasi sungai yang sedemikian besar volumenya dan pengerjaannya terus dikebut.

Dari proses pengerukan yang dilakukan, sedimentasi dibuang di beberapa tempat yang telah di sediakan.

"Sedimentasinya dikeruk kemudian dibuang. Pembuangan sedimentasi Sungai BKT sudah terukur dan sesuai dengan zona paket pengerjaan, seperti di kawasan Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) Semarang. Jadi beda-beda dibuangnya, tergantung lokasinya," jelasnya.

Meski demikian, Ruhban mengatakan masih ada kendala yang dihadapi, yakni pedagang kaki lima (PKL) yang belum mau direlokasi.

Di antaranya ratusan PKL yang berada di Kelurahan Bugangan, Mlatiharjo dan Karangtempel.

"Kalau soal teknis pekerjaan, dan sebagainya sudah clear, persoalannya tinggal aspek sosial. Masih ada PKL yang belum mau direlokasi, namun setelah Lebaran ini mau pindah," katanya.

Ia menegaskan proyek normalisasi Sungai BKT Semarang sekarang ini memang dalam tahap percepatan sehingga pengerjaannya ditargetkan bisa rampung pada akhir 2018.

"Kalau targetnya kan 2019. Namun, kami dorong rampung akhir tahun ini. Makanya, ini Pemerintah Kota Semarang kan juga mengebut soal relokasi PKL," ucapnya.

Sebelumnya, Kepala Dinas Perdagangan Kota Semarang, Fajar Purwoto mengatakan, pihaknya memberikan izin kepada pedagang untuk bertahan di bantaran Sungai BKT sampai Lebaran.

Hal itu dilakukan atas dasar faktor sosial agar para pedagang bisa memenuhi kebutuhannya pada saat Lebaran.

Fajar menyebutkan, dari 94 kios di Kelurahan Bugangan baru 4 kios yang dibongkar. Sedangkan di Kelurahan Mlatiharjo, baru 50 kios yang dibongkar dari total 210 kios yang ada.

"Setelah Lebaran kami bongkar semua. Targetnya Agustus sudah bersih termasuk PKL yang ada di Kelurahan Karangtempel yang berjumlah 530 PKL. Semua setelah lebaran," kata Fajar.

Para PKL dari tiga kelurahan tersebut, nantinya ditempatkan di beberapa tempat relokasi.

Fajar mengatakan, pihaknya sudah menyiapkan empat pasar untuk menampung yaitu Pasar Banjardowo, Barito Baru (Klitikan), Tlogosari dan Suryokusumo.

"Meski pedagang masih berada di bantaran BKT, tapi tidak mengganggu proses normalisasi sungai. Karena pelaksana bisa mengerjakan di bagian hilir dulu," terangnya.

TAGS:

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...