Rencana China Cabut Lockdown Wuhan Pasca Jadi Sarang COVID-19
Foto: Anadolu Agency

Rencana China Cabut Lockdown Wuhan Pasca Jadi Sarang COVID-19

Selasa, 24 Mar 2020 | 17:59 | Khalied Malvino

Winnetnews.com - Angka infeksi virus corona dari dalam negeri China kian menurun drastis meski hal tersebut masih banyak ditemukan pasien importir terpapar COVID-19. Menyikapi hal ini, otoritas Provinsi Hubei, China – di mana virus corona muncul dan tersebar sejak pertama kali ini – akan membuka akses transportasi di Kota Wuhan, 8 April 2020.

Seperti diltulis Bisnis.com, pencabutan masa karantina warga Kota Wuhan ini dinilai efektif setelah awal penyebarannya dimulai sejak Desember 2019.

Berdasarkan pernyataan resmi dari pemerintah setempat, warga Kota Wuhan akan diizinkan meninggalkan kota dan provinsi mulai tanggal 8 April 2020. Pelonggaran ini dilakukan setelah Hubei melaporkan bahwa tidak ada infeksi pada 19 Maret 2020.

Angka ini sangat menggembirakan karena Kota Wuhan awalnya menjadi pusat lonjakan kasus Covid-19 yang terjadi di China. Hingga saat ini jumlah kasus di China mencapai 81.171 dengan total korban meninggal mencapai 3.277 orang. Namun, jumlah kasus yang masih aktif di seluruh China hanya tinggal 4.735.

Presiden Xi Jinping mengungkapkan keyakinannya bahwa pemerintahnya telah menghentikan wabah di China. Pada 10 Maret, Xi mengunjungi Wuhan untuk pertama kalinya sejak wabah tersebut muncul.

Tetapi dengan penyebaran virus yang jauh lebih cepat di negara lain, dan Eropa sekarang melaporkan lebih banyak kasus daripada China, ekonomi terbesar kedua di dunia itu akan berjuang untuk melanjutkan aktivitas ekonominya.

China pada 23 Januari mengambil langkah dramatis dengan memberlakukan lockdown di Wuhan dan daerah sekitarnya dan secara efektif membatasi pergerakan 60 juta orang di provinsi Hubei ketika infeksi Covid-19 berada di luar kendali.

Keputusan tersebut menghentikan perjalanan udara dan kereta api serta membatasi perjalanan kendaraan pribadi. Selain itu pemerintah juga melarang pertemuan besar dan mencegah orang keluar dari rumah mereka.

Sejumlah kritikus awalnya memandang tindakan karantina ini sebagai pendekatan yang keras setelah kegagalan pemerintah sebelumnya untuk bertindak cukup cepat guna membendung penyebaran. Ketika virus menyebar secara global, negara-negara lain termasuk Italia, Filipina, dan India juga memberlakukan hal yang sama dengan skala nasional.

Meskipun lockdown di Hubei mungkin telah mencegah ratusan ribu kasus, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat kebijakan tersebut menempatkan pasien coronavirus di provinsi itu pada tingkat kematian yang jauh lebih tinggi daripada daerah lain.

Setelah kasus di Hubei berlipat ganda, rumah sakit kewalahan oleh pasien dan kelangkaan pasokan, sehingga memaksa mereka untuk menunda penanganan pasien dengan penyakit kritis lainnya.

Pejabat China telah bergerak untuk meringankan karantina secara bertahap setelah kasus baru turun ke nol dari puncaknya yang sempat mencapai 15.000 per hari bulan lalu.

Hubei minggu lalu mulai mengizinkan beberapa warga di daerah berisiko rendah untuk meninggalkan provinsi dan pergi bekerja. Pemerintah bekerja sama dengan aplikasi Alipay untuk memindai warga mana yang diijinkan untuk keluar.

Sistem kode kesehatan berbasis QR pada aplikasi akan menunjukkan tiga warna berbeda setelah memindai pengguna, yang berdasarkan lokasi, informasi kesehatan dasar, dan riwayat perjalanan.

Warna hijau pada aplikasi berarti kebebasan bergerak, sedangkan kuning dan merah menunjukkan bahwa masing-masing perlu melakukan karantina mandiri atau bahkan diharuskan memasuki fasilitas karantina virus Corona.

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...