(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

RI Gabung TPP, Ini Keuntungannya Versi Kemendag

Rusmanto
Rusmanto

RI Gabung TPP, Ini Keuntungannya Versi Kemendag

Dalam lawatannya ke Amerika Serikat pada 25-28 Oktober 2015, Presiden Joko Widodo menyatakan, Indonesia ingin ikut serta dalam perjanjian perdagangan bebas di Asia-Pasifik yang digagas oleh AS, yaitu Trans Pacific Partnership (TPP).

Direktur Kerjasama APEC dan Organisasi Internasional, Kementerian Perdagangan, Deny Kurnia mengungkapkan, setidaknya ada 7 keuntungan yang bisa didapat Indonesia jika bergabung dalam TPP. Keuntungan utamanya adalah, peningkatan akses pasar ke seluruh kawasan TPP.

"Keuntungan ini akan menopang dinamisme aktivitas bisnis dan memperkuat pertumbuhan ekonomi, sehingga makin mendorong perdagangan dan investasi serta penciptaan lapangan kerja," papar Deny di Jakarta, Selasa (3/11/2015).

Kedua, mencegah penurunan nilai ekspor Indonesia akibat trade diversion . Pada era pengelompokan regional free trade agreement (FTA) seperti sekarang, Indonesia sebagai pemasok barang dan jasa ke suatu negara tujuan akan digantikan perannya oleh negara lain yang menjadi anggota pengelompokan tersebut, dalam hal ini sesama negara anggota TPP.

Ketiga, kesempatan bagi pelaku bisnis Indonesia, baik perusahaan besar maupun UMKM untuk berpartisipasi pada proses integrasi produksi, rantai pasok, rantai nilai, dan integrasi ekonomi regional. "Pada era ini, makin banyak kegiatan ekspor-impor terkait dengan proses produksi yang terfragmentasi di beberapa negara. Indonesia harus menjadi bagian dari mata rantai tersebut, dengan mengambil spesialisasi pengerjaan produk dan jasa yang bernilai tambah tinggi," ucapnya.

Keempat, konsumen diuntungkan oleh pilihan produk yang lebih beragam, murah, dan berkualitas. "Banyak di antara konsumen di Indonesia hidup di ambang garis kemiskinan, sehingga sedikit pun perbedaan harga barang kebutuhan cukup menentukan nasibnya," ujar Deny.

 

Kelima, produsen nasional yang berbahan baku atau komponen impor dari negara anggota TPP akan dapat meningkatkan daya saing harga jual produknya.

Keenam, TPP merupakan kesempatan Indonesia untuk menetapkan target peningkatan daya saing ekonomi nasional melalui reformasi struktural, peningkatan produktivitas, penguasaan teknologi, dan penguatan inovasi.

"Tanpa target yang jelas berupa pesaing asing, jalannya program pembangunan dan industrialisasi nasional cenderung lebih merespons keluhan dalam negeri dibanding keharusan untuk konsisten menjalankan ritme reformasi yang sesuai laju kemajuan dunia," Deny menerangkan.

Ketujuh, menurut Deny, kesepakatan TPP yang berdimensi luas juga memberikan tantangan bagi Indonesia untuk membenahi berbagai sektor non-ekonomi dan perdagangan seperti perburuhan, lingkungan, sektor jasa, administrasi dan belanja pemerintah, pencegahan korupsi dan good governance, penyederhanaan aturan, fasilitasi usaha, kemudahan proses pelabuhan, kapasitas penanganan isu-isu SPS (kesehatan dan keamanan pangan, hewan, tumbuhan dan lingkungan), serta penguatan inovasi dan perlindungan HaKI.

Sebagai informasi, TPP adalah pakta perdagangan antar-negara-negara di Asia Pasifik yang meliputi 12 negara, yaitu AS, Jepang, Brunei, Chile, New Zealand, Singapura, Australia, Kanada, Malaysia, Meksiko, Peru, dan Vietnam.

Perjanjian tersebut diklaim sebagai perjanjian dagang paling komplit dan berstandar paling tinggi, termasuk mengatur hak kekayaan intelektual, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), dan mekanisme penyelesaian sengketa antara negara dengan investor asing.

Negosiasi TPP disepakati antar-negara peserta pada 5 Oktober 2015 lalu, namun masih memerlukan persetujuan parlemen masing-masing negara sebelum bisa berlaku.

disadur dari detik

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});