Risiko Pelihara Kucing bagi Kesehatan Tubuh
ilustrasi

Risiko Pelihara Kucing bagi Kesehatan Tubuh

Rabu, 12 Feb 2020 | 08:15 | Rusmanto
Winnetnews.com -  Memelihara kucing memang dapat menjadi hal yang sangat menyenangkan. Meskipun begitu, jangan lupakan tentang risikonya. Kebanyakan orang berpikir bahwa bagian tubuh kucing yang cukup berbahaya adalah bulunya. Benarkah? Simak berbagai bahaya bulu kucing dan risiko lain dari memelihara kucing berikut ini!

Bahaya Bulu Kucing dan Risiko Lainnya

Kucing bukan hanya dapat menjadi peliharaan, tapi juga menjadi anggota yang melengkapi keluarga. Keberadaan kucing di rumah dapat menambah kenyamanan dan membuat kita tidak kesepian, namun tidak dapat dipungkiri bahwa memelihara kucing juga membawa beberapa risiko untuk kesehatan.

Berikut adalah beberapa risiko yang mungkin timbul ketika Anda memelihara kucing di rumah:

1. Penyakit Cakaran Kucing

Bahaya bulu kucing yang pertama adalah cat scratch disease atau penyakit cakaran kucing.

Penyakit cakaran kucing adalah infeksi yang disebabkan oleh bakteri Bartonella henselae atau spesies Bartonella lainnya. Jika melihat pada namanya, tentunya dapat disimpulkan bahwa infeksi ini dapat ditularkan melalui cakaran kucing.

Selain melalui cakaran kucing, bakteri ini juga dapat ditularkan melalui jilatan kucing. Kucing memiliki kebiaasan menjilati dirinya sendiri, jadi tentu terdapat kemungkinan bakteri ini juga dapat tertinggal di bulu kucing.

Gejala infeksi ini biasanya baru muncul sekitar 1-3 minggu setelah paparan (setelah kucing mencakar atau menjilat). Infeksi bakteri ini dapat menyebabkan infeksi ringan dengan benjolan kecil padat di lokasi paparan serta beberapa gejala lain seperti demam, infeksi mata, hingga nyeri otot.

2. Kurap

Kurap adalah infeksi jamur yang dapat menginfeksi beberapa kulit, rambut, hingga kuku manusia dan hewan.

Kucing yang memiliki kurap dapat menularkan melalui kontak langsung dengan manusia. Ini yang menjadi bahaya bulu kucing selanjutnya karena kurap dapat ditularkan dengan hanya kita membelai kucing yang terinfeksi.

Tanda infeksi kurap pada kucing sering tidak terlihat, tapi kucing yang terinfeksi biasanya mengalami kerontokan rambut di beberapa titik seperti sekitar telinga, wajah, dan kaki. Bagian kecil rambut rontok ini memiliki kulit yang bersisik atau berkerak.

Kurap pada manusia dapat muncul di hampir seluruh bagian tubuh. Gejala kurap meliputi kemerahan, kerak, ruam berbentuk cincin. Infeksi pada daerah yang berambut dapat menyebabkan kerontokan, sedangkan infeksi pada kuku dapat menyebabkan kulit berubah warna, menebal, atau hancur.

3. Toksoplasmosis

Risiko lain yang perlu diwaspadai ketika memelihara kucing adalah toksoplasmosis, yang merupakan infeksi akibat parasit bersel tunggal yang disebut Toxoplasma gondii.

Kucing adalah pembawa parasit ini dan dapat menularkannya melalui kotorannya. Seseorang dapat berisiko terkena parasit ini apabila bersentuhan dengan benda atau area yang terkontaminasi oleh kotoran kucing yang terinfeksi.

Parasit ini dapat menyebabkan infeksi pada tubuh apabila tidak sengaja tertelan. Infeksi T. gondii tidak selalu menimbulkan gejala dan kebanyakan orang memiliki sistem imun tubuh yang cukup kuat untuk melawannya.

Seseorang yang memiliki sistem kekebalan tubuh lebih lemah memiliki risiko mengembangkan gejala seperti pembengkakan kelenjar dan nyeri otot. Kasus toksoplasmosis yang parah dapat menyebabkan komplikasi seperti kerusakan organ lain seperti otak atau mata.

Apabila infeksi dialami oleh ibu hamil, maka dapat meningkatkan risiko cacat lahir.

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...