Risiko Penularan Masih Tinggi, Masyarakat Alami Rasa Aman Palsu
ilustrasi

Risiko Penularan Masih Tinggi, Masyarakat Alami Rasa Aman Palsu

Rabu, 1 Jul 2020 | 07:27 | Rusmanto
Winnetnews.com -  Kendati bahaya penularan COVID-19 masih tinggi, antusiasme masyarakat ternyata tidak berkurang untuk menyambut pelonggaran Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Rupanya, hal ini terjadi karena banyak orang mengalami rasa aman palsu selama pandemi.

Perasaan aman palsu dapat memperburuk pandemi karena kewaspadaan masyarakat terhadap COVID-19 kian menurun. Padahal, risiko penularan masih sama seperti ketika kasus-kasus pertama diumumkan. Lantas, dari mana datangnya rasa aman palsu dan bagaimana cara mengatasinya?

Apa itu rasa aman palsu?

image0

Pemerintah kini mulai melonggarkan PSBB di beberapa kota dan bersiap memulai new normal. Selama masa perubahan ini, kita tidak hanya menghadapi musuh berupa virus SARS-CoV-2, tapi juga timbulnya perasaan aman palsu (false sense of security).

Pada minggu-minggu pertama diumumkannya kasus COVID-19, masyarakat dengan cepat terbawa arus kepanikan. Anda sendiri mungkin pernah menyaksikan orang berbondong-bondong memborong masker, hand sanitizer, hingga kebutuhan pokok.

Karantina mandiri pun mulai diberlakukan. Sekolah-sekolah diliburkan, pegawai kantor mulai bekerja di rumah, dan tempat umum ditutup sementara. Anjuran kesehatan berisi langkah pencegahan COVID-19 digaungkan di mana-mana.

Masyarakat kini sudah akrab dengan physical distancing, kebiasaan mencuci tangan, dan bahkan membawa perlengkapan sendiri. Pemakaian masker pun menjadi semakin umum. Dari pejalan kaki, pedagang, hingga anak-anak, Anda dapat menemukan orang yang memakai masker di mana-mana.

Namun, ada satu kekurangan masker yang tidak dapat dipungkiri. Kampanye masker selama pandemi membuat masyarakat mengalami rasa aman palsu. Penggunaan masker membuat banyak orang merasa terlindung dari penularan COVID-19.

Ini sebabnya Anda melihat orang-orang berkerumun di jalan, mal-mal kian ramai, dan CFD dibanjiri oleh pengunjung. Masyarakat kini berani berkerumun karena merasa terlindungi dengan memakai masker.

Padahal, memakai masker saja tidak cukup untuk mencegah penyebaran COVID-19. World Health Organization (WHO) sendiri ikut buka suara dalam pedoman penggunaan masker yang diterbitkannya pada 5 Juni 2020.

Sebelumnya, WHO tidak menyarankan penggunaan masker pada masyarakat awam yang sehat. Masker awalnya hanya direkomendasikan bagi orang sakit dan mereka yang berkontak dengan pasien COVID-19.

Kini, setiap orang disarankan untuk menggunakan masker. Orang yang sakit sebaiknya tetap di rumah, sedangkan orang yang mengalami gejala COVID-19 bisa berkonsultasi dengan dokter dan menjalani perawatan yang diperlukan.

Kendati masker berperan penting, WHO tetap mengingatkan bahwa pencegahan utama tetaplah dengan physical distancing dan disiplin menjaga kebersihan. Masker adalah langkah yang akan melengkapi segala upaya pencegahan.

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...