(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Ritel Diharapkan Tumbuh 10%

Rusmanto
Rusmanto

Ritel Diharapkan Tumbuh 10%

Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) menyebutkan perlambatan ekonomi tahun ini membuat pertumbuhan sektor ritel terpangkas menjadi 8-12 persen tahun ini. Omset perusahaan ritel tahun ini mencapai Rp 184 triliun atau tumbuh sekitar 10 persen dari tahun lalu Rp 165 triliun.

Ketua Umum Aprindo, Roy Nicolas Mandey, mengatakan meski pertumbuhan masih di kisaran lima persen, namun dia berharap penyerapan anggaran pemerintah yang sebelumnya sempat tersendat mulai meningkat. Mengingat, penyerapan anggaran tersebut sangat diperlukan sebagai penggerak produktifitas ekonomi masyarakat dan konsumsi di sektor ritel. “55 persen PDB itu masih diperoleh dari konsumsi masyarakat, bukan konsumsi pemerintah. Oleh karena konsumsi pemerintah juga harus ditingkatkan. Penyerapan ini harus memang harus cepat,” katanya di Jakarta, Senin (13/9).

Di sisi lain, fluktuasi nilai tukar juga turut berdampak ke sektor riil. Apresiasi dolar sebesar dua sampai tiga persen dalam satu minggu menurutnya sangat berdampak besar, karena setiap satu persen apresiasi dolar akan mempengaruhi Cost Of Goods Sold (COGS) di peritel pada bulan berikutnya antara 2,5 persen - 5 persen. Ia berharap pemerintah bisa menjaga volatilitas rupiah. Apalagi, dengan pernyataan dari the Fed yang ingin menaikkan suku bunganya pada akhir tahun ini. Jika langkah tersebut dilakukan, maka dolar akan semakin menguat.

Ia berencana menaikan harga di ritel sekitar enam sampai tujuh persen pada bulan mendatang sebagai kompensasi melemahnya nilai tukar rupiah. Produk makanan dan minuman rencananya naik lima persen, sementara produk elektronik sekitar 10-12 persen. “Kami sedang mengkaji rencana kenaikan harga di ritel, masih menunggu pihak distributor, pasalnya di industri ini kalau kami gak ekspansi berarti sudah tidak ada pertumbuhan, namun ekspansi di tengah kondisi perekonomian saat ini sangat berisiko,” papar Roy.

Aprindo beranggotakan tidak kurang dari 24.970 outlet/toko dengan mempekerjakan 3 juta tenaga kerja langsung dan 13,7 juta tenaga kerja tidak langsung (terbesar kedua setelah pertanian, kehutanan, perkebunan dan perikanan). Beberapa anggotanya di antaranya Sumber Alfaria Trijaya dan Matahari Putra Prima. 

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});