Rokok vs Vape, “Yay or Nay”?
via Heart.org

Rokok vs Vape, “Yay or Nay”?

Kamis, 19 Des 2019 | 12:20 | Chaterina Natasya Valerian

Winnetnews.com - Banyak orang yang mengira bahwa rokok lebih berbahaya daripada vape. Selama ini, vape itu dianggap sebagai alternatif untuk berhenti merokok. Tetapi ada pula pihak yang menganggap vape lebih berbahaya dari rokok. Karena kebenaran akan hal tersebut masih simpang siur, artikel ini akan membahas, manakah yang lebih berbahaya, rokok ataukah vape?

Menurut dr. Linda Marlina, RFP selaku dokter umum, sebenarnya orang merokok ataupun nge-vape itu berawal dari mengikuti pergaulan yang ada di sekitarnya. Aktivitas itu hanya untuk gaya-gayaan supaya dianggap keren karena mengikuti tren sekarang yang akhirnya pun menjadi kebiasaan. 

“Rokok ataupun vape itu tidak ada bedanya. Keduanya sama-sama berbahaya bagi kesehatan tubuh, hanya saja berbeda tingkat berapa lama kebahayaannya dapat menyerang yaitu untuk rokok tingkatnya untuk kematian itu lama sedangkan vape tingkat untuk terserang penyakitnya itu cepat,” ucap Linda.

“Memang betul, rokok dapat meningkatkan resiko kanker. Makin banyak merokok makin banyak racun yang tertimbun dan makin banyaklah penyakit yang muncul,” imbuhnya.

Bagi orang yang merokok ataupun tidak pasti pernah menghirup dan melihat asap dari rokok atau vape. Kalau dilihat dari asapnya ada perbedaan antara rokok dan vape. Untuk rokok, asap yang ditimbulkan itu memiliki warna yang kotor/butek dan memiliki bau yang menyengat sehingga dapat mengakibatkan batuk-batuk jika terkena paparan asapnya. 

Sedangkan untuk vape, asapnya memiliki warna yang lebih bersih dan terlihat putih seperti kapas, memiliki wangi yang harum karena terdapat rasa-rasa dari liquidnya sehingga tidak membuat orang yang menghirup asap itu merasa risih dan batuk-batuk.

Tetapi berdasarkan penelitian, walaupun vape memiliki aroma yang wangi tapi ternyata ia juga lebih berbahaya. Walaupun nikotinnya lebih rendah dari rokok, vape tetap mengandung zat-zat berbahaya lain.

Pengalaman beberapa orang

“Baru-baru ini, ada orang BMKG yang meninggal dunia karena terkena kanker paru-paru. Pada saat ketahuan, ternyata kanker paru-parunya sudah mencapai stadium 4. Orang BMKG ini tidak pernah merokok sama sekali, tetapi karena lingkungannya yang banyak merokok dan ia sering menghirup asapnya jadilah terkena dampaknya,” ungkap Linda.

Akibat bagi para perokok aktif

Menurut Sandy, 50 tahun, yang bekerja sebagai karyawan di salah satu perusahaan di Parung mengatakan, dia pernah merasakan dampak dari merokok yaitu batuk-batuk dan dada terasa sakit. Sandy merokok sejak usia 17 tahun dan berhenti pada umur 25 tahun ternyata sudah divonis bahwa paru-parunya kotor. Akhirnya dia pun berhenti untuk merokok hingga sekarang dia merasa risih dengan batuk yang terus menerus.

Sebenarnya kalau ingin berhenti merokok, tergantung dari niatnya, seperti halnya niat untuk menurunkan berat badan kalau niat pasti berhasil. Karena kalau sudah kecanduan dengan vape atau rokok pasti akan susah sekali untuk berhenti apalagi masih berada di lingkungan yang rata-rata itu merokok. (*)

 

---------------
Chaterina Natasya Valerian adalah mahasiswi London School of Public Relations Jakarta.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi Winnetnews.com.

TAGS:

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...