Royal Ambarukmo Yogyakarta dan Krida Beksa Wirama Seirama dalam Gerakan Pelestarian Budaya Tari Jawa Klasik
RAY & KBW - (ki-ka) RA Nawangsasi, RM Condroyono & Maya Dewi/Foto: dok. Royal Ambarukmo Yogyakarta

Royal Ambarukmo Yogyakarta dan Krida Beksa Wirama Seirama dalam Gerakan Pelestarian Budaya Tari Jawa Klasik

Rabu, 3 Mei 2017 | 09:41 | Gunawan Wibisono

WinNetNews.com - Gladi Beksa di Kedaton Ambarrukmo setiap hari Selasa dilatarbelakangi oleh tautan sejarah yang kuat dan komitmen bulat dari beberapa pemangku kepentingan yang sangat peduli akan keberlangsungan nafas warisan tradisi nan elegan ini. Setiap hari Selasa sore, mulai pukul 4 sore bertempat di situs cagar budaya abad ke-18 ini, kegiatan edukasi dan berlatih tari jawa klasik akan berlangsung, terbuka bagi tamu hotel dan publik, semua umur – baik pria dan wanita. Bersama dengan Patehan dan Jemparingan di tiap hari Jumat sore serta beberapa kegiatan berpokok pada budaya lokal serta gaya hidup moderen, Gladi Beksa bersama Krida Beksa Wirama diharapkan untuk mampu membangun kembali spirit berbudaya di abad ke-21 ini, mengulang kegiatan cita-cita luhur pendiri bangsa kita untuk memajukan Indonesia, berwawasan luhur, tangguh dan berbudi pekerti.

Kedaton Ambarrukmo dibangun kokoh dengan tradisi dan filosofi Jawa yang kuat. Setiap bagian detil dari keseluruhan kompleks memiliki fungsi yang berbeda dan mengandung arti dalam (serta pendoa), merepresentasikan nilai religi, kepercayaan dan norma sosial budaya Jawa. Ruang peralihan

antara Pendopo Agung dan Ndalem Ageng yang bernama Pringgitan, pada awalnya memang difungsikan sebagai tempat untuk mengadakan pertunjukan wayang kulit, tari dan tradisi lainnya. Pringgitan memiliki makna konseptual yaitu sebagai tempat untuk memperlihatkan diri sebagai

simbolisasi dari pemilik rumah bahwa dirinya hanya merupakan baying-bayang atau wayang Dewi Sri yang merupakan sumber segala kehidupan, kesuburan dan kebahagiaan. Di areal penuh historis dan benang merah kepada Keraton Yogyakarta, khususnya Sultan Hamengku Buwono VII inilah, Gladi Beksa akan diberlangsungkan tiap Selasa sore.

Tari Jawa Klasik <b class=Royal Ambarukmo Yogyakarta" src="https://asset.winnetnews.com/uploads/images/Royal%20Ambarrukmo%20Yogyakarta%20-%20Kelas%20Tari%20Jawa%20Klasik.jpg" width="500" height="321">

Tari klasik Jawa/foto: dok.Royal Ambarukmo Yogyakarta

Sultan Hamengku Buwono VII dikenal dengan pemikirannya yang visioner dan moderen pada masanya yaitu masa transisi menuju modernisasi di Yogyakarta. Banyak sekolah didirikan dan beliau mengirimkan putra-putranya untuk belajar ke Belanda. Untuk memajukan dan mencerdaskan rakyatnya, salah satu yang Sultan Hamengku Buwono VII lakukan adalah membawa kesenian tari yang dulu adalah hanyak milik 'warga dalam‟ ke luar tembok Keraton Yogyakarta Hadiningrat. Maka melalui pangeran GPH Tejokusomo dan BPH Suryodinigrat dengan dukungan dan restu dari Sultan Hamengku Buwono VII didirikannlah „Krida Beksa Wirama‟ pada 17 Agustus 1918, yang merupakan organisasi tari pertama yang berada diluar tembok Keraton.

Krida Beksa Wirama terlahir bukan semata sebagai organisasi kesenian, tetapi juga organisasi pergerakan melawan penjajahan dengan memanfaatkan kekuatan seni. Melalui KBW diajarkan pula nilai-nilai luhur budaya sekaligus pendidikan politik pada rakyat. KBW juga yang pertama yang

mengajarkan teknik hitungan dalam belajar menari, karena pada dahulu kala belajar menari hanya menirukan atau mencontoh. Pada latihan perdana ini ditarikan pula “Tari Sari Tunggal” yang diciptakan tahun 1928. Gerakan pada tari Sari Tunggal adalah gerakan dasar yang ada pada semua gerakan, soko guru pondasi bagi nomor tari klasik jawa yang pernah dikaryaciptakan.

Di era global dan informasi seperti sekarang, untuk menghasilkan bangsa yang maju berwawasan moderen memang sangat diperlukan. Tetapi memiliki sikap mental yg baik dan berbudaya (Indonesia) juga tidak kalah pentingnya. Royal Ambarrukmo Yogyakarta mempunyai kepedulian dengan budaya

bekerja sama dengan Krida Beksa Wirama, memberikan wadah bagi masyarakat untuk belajar menari jawa klasik. Menari Jawa klasik bukan hanya sekedar bergerak gemulai, tetapi jika dilakukan dengan benar, dengan tari jawa klasik akan membantu membuat diri lebih fokus, konsentrasi, disiplin, melatih empati dan simpati kita untuk tidak egois, percaya diri dan tentu saja bermanfaat besar secara fisik. Hal ini sangat di perlukan untuk membangun karakter bangsa yang kokoh berorientasi global.

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...