Rupiah Melemah, Industri Mabel Tak Lagi Jadi Angin Segar

Rupiah Melemah, Industri Mabel   Tak Lagi Jadi Angin Segar

 Jakarta – Republik Indonesia Merupakan Salah satu Industri yang mempunyai Volume Ekspor yang Tinggi. Penguatan mata uang dolar terhadap banyak mata uang lain di dunia semestinya menjadi angin segar bagi para eksportir untuk meningkatkan revenue-nya.

Namun ternyata kenyataannya tidak sesuai yang diharapkan. Produk mebel Indonesia ternyata kalah bersaing dengan negara lain, sehingga penguatan dolar tidak bisa dimanfaatkan secara maksimal.

Asosiasi Mebel dan Kerajinan Indonesia (Amkri) Abdul Sobur di Jakarta, Sabtu (19/9/2015) Mengatakan "Kalau dari sisi revenue seharusnya kami bisa mendapatkan surplus dari selisih kurs. Tapi kalau kita melihat substansinya bahwa daya saing kita memang lebih rendah. Bahkan lebih rendah dari negara tetangga seperti Malaysia dan Vietnam,"

Lemahnya daya saing tersebut membuat pelaku industri mebel nasional tidak bsia menggarap kesempatan tersebut. Bahkan sebagian pangsa pasar dari eksportir mebel Indonesia direbut oleh negara lain.

"Jadi berpindah ke Vietnam, karena mempunyai kemampuan suplai yang lebih baik dari pada kita. Kalau kami kan sekarang baru total pendapatan mencapai USD 2 miliar. Di Vietnam itu sendiri sudah mau mencapai sekitar USD7 miliar," imbuhnya.

Bahkan, lanjut Sobur, angka total pendapatan eksportir Vietnam tersebut meningkat cukup drastis. Pasalnya sebelumnya eksportir Vietnam hanya memperoleh total penjualan sebesar USD5,4 miliar pada tahun lalu.

"Sedangkan kita mau target USD2 miliar juga agak rawan. Malah sepertinya belum tentu tercapai, kalau melihat kondisi sekarang karena daya saing kita lebih rendah," pungkasnya.