Skip to main content

Rupiah Terpuruk, RI Butuh Perbaikan Fundamental Ekonomi

Rupiah Terpuruk, RI Butuh Perbaikan Fundamental Ekonomi
Rupiah Terpuruk, RI Butuh Perbaikan Fundamental Ekonomi

Pelemahan Rupiah harus segera diatasi agar dampaknya tidak semakin meluas. Nilai tukar mata uang Indonesia ini terhadap dolar AS ditutup pada Rp 13.453 per USD.

Hary Tanoesoedibjo (HT) mengatakan pelemahan Rupiah memang tidak lepas dari faktor eksternal yaitu menguatnya dolar AS. Namun begitu faktor dari dalam juga ikut andil.

“Pelemahan itu juga terjadi karena kita kurang mampu mengelola ekonomi kita,” kata HT, saat ditanya awak media di Jakarta.

Menurutnya, ada tiga hal yang seharusnya segera dilakukan pemerintah. Pertama adalah mempercepat pertumbuhan investasi di Indonesia, dengan cara mendorong para investor dalam negeri dan luar negeri untuk berinvestasi di tanah air.

Selain itu, dia melihat kredit bank seharusnya bisa lebih diarahkan ke sektor produktif. Dia melanjutkan bila hal tersebut berjalan maka ekonomi akan tumbuh lebih baik dari sekarang. Lapangan kerja juga bisa tercipta, selain itu gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) secara massal bisa diatasi.

“Diatur jangan banyak disalurkan ke sektor konsumtif supaya dunia usaha ini bergulir,” kata Ketua Umum Partai Perindo tersebut.

Bila kedua langkah tersebut telah berjalan dengan baik, baru kemudian langkah ketiga dilakukan, yaitu menurunkan suku bunga. “Turunkan sekitar 0,25 persen supaya aktifitas usaha ini meningkat dengan baik, Namun jangan diturunkan sekarang,” tegas HT.

Menurutnya, Indonesia membutuhkan perbaikan fundamental, karena saat ini Indonesia tidak memiliki penopang perekonomian yang kuat. Sebagai perbandingan, pada era 1970-an ekonomi Indonesia ditopang oleh oil boom.

Saat itu harga minyak naik, dan Indonesia masih tercatat sebagai anggota Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC). Saat itu, status Indonesia masih sebagai pengekspor minyak, kini untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri saja Indonesia harus mengimpor minyak.

Setelah itu pada 1980-an hingga 1990-an, Indonesia ditopang oleh pesatnya industri manufaktur. Investasi deras masuk ke Indonesia. “Menciptakan lapangan pekerjaan, jadi ada kekuatan yang mendukung ekonomi Indonesia,” kata HT

Tahun 2000-an hingga dua tahun belakangan Indonesia ditopang oleh komoditas. Seperti batu bara, kelapa sawit, dan karet. Namun saat ini komoditas tersebut sedang mengalami penurunan harga.

Akibatnya tidak ada lagi penopang yang kuat untuk perekonomian Indonesia saat ini. “Kita sudah bergeser dari basis produksi ke konsumsi,” kata HT.

(cn)

Apa pendapat Anda mengenai artikel ini?

Loading Rating...

Komentar:

Loading...
Top