Saat Kamu Sukses Nanti, Harus Ingat Hal Ini

Saat Kamu Sukses Nanti, Harus Ingat Hal Ini Sumber foto : Istimewa

Winnetnews.com - Sadar atau tidak, tujuan hidup kita semua di dunia adalah mengejar kesuksesan dan kebahagiaan. Ketika seseorang mengatakan kata ‘sukses’, apa yang bakal ada dalam benak kita? Harta? Iya. Tahta? Bisa juga.

Memang tak semua orang mengartikan sukses hanya terbatas pada harta dan tahta. Tapi tetap saja susah melepaskan dua hal tersebut, terutama ketika kamu membutuhkan motivasi untuk gigih bekerja. Menjadikan harta sebagai salah satu tujuan memang tak ada salahnya. Kecuali jika harta dan tahta tersebut diperolehnya dari cara-cara yang tidak dibenarkan.

“Tapi untuk apa harta kalau kamu banyak melewatkan banyak hal ini?”

Saking ambisiusnya bekerja, kamu sampai lupa kalau kamu masih punya orang tua. Padahal diam-diam, orang tuamu ingin sering bisa bersamamu

Sedewasa apapun kamu saat ini, bagi orang tuamu, kamu adalah tetap buah hati yang selalu ingin mereka ketahui kabarnya. Setelah kamu berhasil menyelesaikan pendidikanmu di bangku kuliah, tujuan selanjutnya adalah mendapatkan pekerjaan terbaik. Namun ketika semua sudah ada dalam genggaman, ditambah ambisimu untuk mendapatkan kedudukan yang lebih tinggi dalam hal pekerjaan, kamu biasanya semakin ditelan kesibukan.

Pekerjaan menuntutmu melakukan dinas panjang ke luar kota tempat orang tua tinggal, tak jarang kamu bahkan harus melaksanakan kewajiban di berbagai negara. Hari raya keagamaan yang jadi momen tepat berkumpul keluarga pun bisa membuatmu absen di rumah karena alasan kewajiban pekerjaan.

Kamu memang seorang petualang, tapi jangan lupa kalau petualang pun punya rumah. Kalau perkara uang, kamu mungkin bisa dengan mudah menyampaikannya via rekening kepada orangtuamu. Tapi, catatlah, sesungguhnya ayah dan ibumu tak terlalu membutuhkan itu di hari senjanya. Mereka hanya ingin punya waktu bersama kamu. Melihat senyummu secara nyata, mendengar suara manjamu, merasakan hangatnya dipeluk olehmu, sebelum ia tak bisa merasakan secara nyata karena jasadnya dingin dan membisu di ruang tengah rumah.

Ingat juga dengan teman-teman dekatmu. Kamu akan merindukan beberapa kenangan yang bisa menjadi bahan cerita di masa depan

Selagi masih muda, jangan pernah lupakan pergaulan dengan teman-temanmu. Kalau kamu terlalu menggebu dengan apa yang kamu inginkan, tanpa diimbangi dengan pertemanan sosial yang sehat, maka siap-siaplah kamu akan kesepian di kemudian hari.

Seandainya disuruh memilih: teman atau karier, kira-kira mana yang bakal kamu pilih jadi opsi utama? Pasti banyak yang milih karier ya? Kamu nggak salah kok dengan pilihan tersebut. Tapi setidaknya tetaplah jaga silaturahmi dan luangkan waktu untuk sekadar berbagi cerita dan tawa bersama teman-temanmu.

Kalau kamu berpikir kongkow bareng teman-teman bakal bikin isi dompet kamu menipis, kamu perlu berpikir ulang dengan perhitunganmu. Saat masuk dunia kerja, lingkaran sosial biasanya akan semakin menyempit. Di luar urusan kerja, waktu luang untuk berteman semakin sedikit. Biar lingkaran sosialmu tetap terjaga, bergaullah dengan kawan-kawan baru atau lamamu. Isi dompetmu emang bakal menipis, tapi lingkaran sosialmu bisa meluas.

Ingatlah, salah satu harta yang berharga di dunia selain keluarga adalah teman. Siapa yang bakal mendatangi acara pernikahanmu kalau bukan teman? Siapa yang akan mendampingi dalam momen bahagia dan sedih dalam hidupmu? Siapa yang akan melayat dan mendoakanmu jika kamu meninggal? Itulah hal terbaik yang akan dilakukan oleh orang-orang dekatmu sebagai teman.

Kesibukanmu dengan urusan duniawi membuatmu lupa berbagi. Padahal, banyak kebutuhan orang lain bisa kamu penuhi sebagai sesama manusia

“Memberi itu tenangkan hati.”

Di balik ambisimu mengejar cita dan target yang selalu meninggi setelah berhasil diraih, pasti kamu masih punya hati untuk berbagi. Jangan pernah pelit untuk berbagi, karena itu bisa membuatmu selalu merasa kekurangan. Minimal ikut mengisi kotak amal setiap minggunya.

Bentuk sedekah di zaman sekarang banyak ragamnya dan makin gampang pula menyampaikannya. Nggak melulu harus ke rumah ibadah. Kalau kamu peduli dan ingin melihat generasi berikutnya hidup lebih baik, kamu bisa memulainya dengan berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan sosial. Kamu bisa berbagi bantuan materi, tenaga, atau bantuan materi plus tenaga.

Bagi kita yang beragama, donasi atau sedekah adalah sebuah bagian dari ibadah. Yakinlah, apa yang kita keluarkan dengan niat sedekah selalu memiliki keistimewaan yang tidak terhitung dan tak terduga. Orang sesukses Bill Gates pun tak pernah lupa menyedekahkan sebagian hartanya. Karena dia percaya, sesuatu yang dia beri pada orang lain bisa kembali kepadanya lewat jalan apa saja. Bahkan bisa dalam nilai yang lebih besar dari yang ia sedekahkan.

Ketika kamu sudah punya istri dan anak, pekerjaanmu membuat mereka sering menunggu. Padahal, keluargamu butuh kehadiranmu

“Apa yang tak bisa dibeli?”

“Waktu.”

Hal ini berlaku juga untuk kamu yang telah memiliki pasangan hidup. Mungkin kamu bisa memberi alasan, “Saya begini demi menafkahi kamu.” Tapi, sadarlah, nafkah itu tak hanya soal materi. Rasa sayangmu pada awalnya begitu besar, tapi lama-lama demi kedudukan dan masalah karier, perasaan itu perlahan meluntur. Materi telah kamu jadikan tujuan, sampai-sampai kamu kurang memberikan perhatian kepada orang-orang yang kamu cintai.

Lebih bahaya lagi kalau kamu sudah punya anak. Materi memang tetap dibutuhkan demi menunjang hidup dan pendidikannya. Tapi jangan lupa juga kalau sekolah pertama anakmu adalah keluarga. Tentunya, termasuk kamu di dalamnya. Kamu tak sadar telah menyepelakan masalah ini. Namun bisa saja di masa depan anakmu merasakan kurang kasih sayang dan binaan dari sosok orang tua. Pada akhirnya mencari pelarian dan bisa saja jatuh ke lembah hitam. Kamu nggak mau ‘kan hal ini terjadi?

Pada akhirnya, saat memasuki usia senja, kamu akan sadar bahwa kemapanan bukanlah segalanya…

Segala sesuatu yang berlebihan adalah tidak baik, apalagi kalau soal duniawi. Kalau kamu terlalu menuhankan harta dan tahta, percayalah hidupmu akan jauh dari keberkahan. Bahagia pun belum tentu menghinggapi jiwamu. Hatimu selalu merasa kurang dengan pencapaian. Setelah target satu tercapai, muncul target lain harus lebih tinggi untuk digapai. Parahnya lagi kalau kamu lupa bersyukur. Terus saja begitu, jauh dari rasa damai itu hatimu.

Dan ketika kamu mulai memasuki usia yang tak muda lagi, anakmu sudah mulai susah untuk dinasehati – karena ia tak mendapat banyak perhatian dari orang tuanya saat kecil. Kamu akan sadar dan menyesal dengan ambisi yang berlebihan sampai banyak hal kamu lupakan. Kamu tak punya banyak teman di masa tua, orangtua hanya bisa kamu pikul di keranda, dan tetangga tak terlalu simpati karena kurangnya jiwa sosialmu di masa muda. Pada saat itu, kamu akan sadar bahwa kamu ingin kembali ke masa lalu dan memperbaiki semua.