Saham Anjlok, Twitter Kian Berpeluang Diakuisisi

Saham Anjlok, Twitter Kian Berpeluang Diakuisisi

Setelah bulan lalu Twitter mengalami pergantian pucuk pimpinan dari Dick Costolo ke Jack Dorsey yang merupakan salah satu pendiri perusahaan, saham situs microblogging itu terus tertekan. Pekan ini saham Twitter menyentuh titik terendah sejak penawaran saham perdana pada November 2013, membuatnya menjadi semakin murah bila ada yang bersedia meminang media sosial dengan lebih dari 300 juta pengguna itu.

Pada Senin 3 Agustus lalu saham Twitter anjlok 5,6% menjadi US$29,27 meskipun dalam periode April-Juni 2015 kerugiannya semakin mengecil dibanding kuartal-kuartal sebelumnya setelah terdaftar di Bursa Efek New York. Saat ini kapitalisasi perusahaan asal San Fransisco itu sudah di bawah US$20 miliar. Pada penutupan perdagangan Rabu 5 Agustus, saham berkode TWTR itu terus melemah ke US$28,4 yang berarti sejak awal tahun sudah turun lebih dari 20% dan kapitalisasi pasarnya kini US$18,65 miliar.

Ketika investor yang memegang saham Twitter dalam rentang setahun ini mengalami rugi hampir 35%, maka investor lain akan menjadi semakin tertarik dengan harga perusahaan yang kian murah. Salah satu pembeli potensial adalah raksasa mesin pencari Google yang sejauh ini kurang sukses dalam membangun jaringan media sosialnya sendiri. "Kadang kala anjloknya harga saham bisa menjadi pemicu untuk terjadinya negosiasi akuisisi," kata Ted Hollifield, pimpinan divisi merger dan akuisisi firma Alston & Bird LLP di Menlo Park, California, yang mengaku secara pribadi memegang saham Twitter. "Jika Anda mengurutkan daftar perusahaan teknologi besar yang memiliki uang kas banyak, banyak dari nama-nama itu bisa menjadi pembeli potensial dan setidaknya menjalin hubungan dengan Twitter."

Selama setahun ini Twitter mengalami perlambatan pertumbuhan jumlah pengguna yang telah mencapai 316 juta. Akhir tahun lalu Twitter telah disalip oleh Instagram dalam ranking media sosial terbesar setelah perusahaan yang dikendalikan Facebook itu mengalami penambahan 100 juta pengguna hanya dalam tempo kurang dari sembilan bulan.

Pekan lalu, CEO interim Twitter Jack Dorsey dan direktur keuangan Anthony Noto mengingatkan bahwa mereka butuh waktu untuk menghentikan perlambatan pertumbuhan pengguna serta mengakui bahwa permintaan dari pemasang iklan meleset dari harapan. "Komentar mereka bisa jadi yang telah menekan harga saham tapi dengan alasan khusus, karena strategi mereka adalah untuk diakuisisi," kata Jeff Sica, presiden Sica Wealth Management yang memiliki klien pemegang saham Twitter.

Sica menyebut krisis kepemimpinan yang sedang melanda Twitter bakal menghambat upaya untuk menggenjot kembali pertumbuhan jumlah pengguna. Akhir Juli lalu dua eksekutif utama Twitter yang mengelola produk telah mengundurkan diri, menyusul sejumlah eksekutif lain awal tahun ini dan juga tahun lalu ketika Costolo melakukan reorganisasi. Saat ini, Twitter juga sedang mencari CEO tetap. "Satu-satunya strategi yang bisa mereka jalankan hanyalah diakuisisi," kata Sica. "Karena itu, saya menasihati siapa saja yang memiliki saham Twitter untuk menahannya, karena saya pikir pada titik ini bakal ada akuisisi."

Jim Prosser, juru bicara Twitter, menolak menanggapi spekulasi soal akuisisi yang sedang berkembang di Wall Street. Yang jelas, dengan tambahan premium dari harga pasar saat ini, Twitter bisa menjadi akuisisi terbesar yang pernah dilakukan oleh Google, bahkan Facebook jika masih ingin menambah portofolio media sosialnya. Twitter telah meningkatkan kerja samanya dengan Google dan awal tahun ini menjalin kesepakatan untuk menampilkan kicauan dalam hasil pencarian di internet dan bermitra dalam produk iklan Doubleclick milik Google.

Josef Schuster, yang mengelola firma Ipox Shuster LLC dan memegang saham Twitter, menyatakan bahwa agar lebih menarik untuk diakuisisi, maka harga saham harus turun lebih jauh lagi Schuster memperkirakan saham Twitter bisa turun sampai ke level US$17. "Itu akan membuatnya lebih menarik lagi," kata Schuster. "Lebih masuk akal kalau Google yang membelinya, tapi harga sahamnya harus bertahan dulu."

Supaya laba 2016 Google masih bisa terkena dampak positif dari akuisisi, maka harga saham Twitter harus anjlok lagi ke US$11,6 menurut data yang dikompilasi Bloomberg. Untuk Facebook, mereka masih kuat mengakuisisi ketika saham Twitter dalam kisaran US$20,78.

(cn)